Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 37


__ADS_3

Tia semakin mempercepat langkahnya untuk segera menuruni anak tangga, saat ingin berbalik melihat sahabatnya, tiba tiba ia bertabrakan dengan seorang pelayan, membuat tubuhnya tersungkur di lantai dengan baju yang sudah basah terkena tumpahan minuman.


"Tia …." Gita berteriak saat melihat sahabatnya sudah terduduk di lantai. Dan semua pengunjung Restoran menatap ke arahnya.


"Kenapa begitu terburu buru Nona? Lihat, bahkan semua minumannya sudah tumpah." seorang pelayan berucap sambil membersih kan gelas yang berhamburan di lantai.


"Tia, kau tidak apa apa? Dan kenapa kau menyalahkan dia, kau yang bersalah karena telah menabraknya." Gita menunjuk ke arah pelayan dengan meninggikan suaranya karena tidak terima akan ucapan gadis itu.


Dari sudut ruangan, terlihat seorang pria menatap tajam ke arah tiga gadis yang berada tak jauh darinya. Setelah memastikan bahwa gadis itu adalah adik dan kekasihnya, ia pun segera beranjak dari duduk dan mendekat ke arah gadis itu.


"Sayang …." Andika langsung membantu kekasihnya yang masih terduduk di lantai.


"Eh … An … Andika, kau disini," ucap Tia sedikit terkejut dengan kehadiran laki laki itu.


Andika langsung membuka Jas yang ia gunakan dan kemudian memakaikannya pada Tia. Sontak semua mata langsung menatap terkejut ke arah mereka. Pelayan yang tadi menabrak Tia pun membelalakkan matanya saat mengetahui gadis itu adalah kekasih dari sahabat majikannya.


"Hei … sedang apa disini?" tanya Tia lembut pada lelaki yang tampak sedang menahan amarahnya.


"Pergilah.! Sebelum aku menyuruh Doni memecatmu," bentak Andika membuat pelayan di hadapannya menunduk.


"Maafkan saya Nona," lirih pelayan itu berucap.


"Tenang lah, disini aku juga bersalah," balas Tia tersenyum


"Sekali lagi maafkan saya Nona." Pelayan itu kembali bersuara dan kemudian berlalu menuruni anak tangga.


"Dik, apa kau juga makan siang disini?" tanya Gita menimpali setelah tadi hanya mengamati ucapan Kakaknya.


"Hm," balasnya singkat dengan wajah yang ia tekuk. "Apa ada yang sakit?" tanyanya dan kembali menatap lekat pada kekasihnya.


Tia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Ia mengeratkan jas yang sedang melekat di tubuhnya.


"Tunggu disini," pintanya lalu berjalan dengan cepat ke arah sudut ruangan.


"Bim, tolong atur semuanya," ujarnya saat berada tepat di samping Bimo.


"Baik Tuan," jawab Bimo sambil mengangguk.


"Saya permisi dulu," tuturnya pada semua klien yang sedang menatapnya.


Andika pun segera berlalu dan kembali menghampiri adik dan kekasihnya. Ia segera mengajak Tia untuk pulang bersama. Mereka menuruni anak tangga dengan Gita yang mengekor di belakang.


"Kenapa tidak melanjutkan pekerjaanmu?" tanya Tia di sela sela langkahnya.

__ADS_1


"Bimi bisa ku andalkan," ucapnya santai sambil terus merangkul tubuh kekasihnya.


"Ceh," desis Gita yang merasa diabaikan


"Git, apa kau akan pulang sendiri?" tanya Tia


"Aku ikut dengan kalian saja, nanti aku suruh supir untuk mengambil mobilku," balas Gita begitu santai.


"Baiklah," sahut Tia dan mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju area parkir.


~


"Ada apa?" tanya Tia saat melihat kekasihnya sedang mencari sesuatu di saku celananya.


"Tidak … Gita, mana kunci mu?" tanyanya pada Gita dan gadis itu langsung merogoh tasnya untuk mencari benda yang diminta kakaknya.


"Sayang ayo," ajaknya pada Tia karena gadis itu masih mematung di sisih mobil. Tia pun tersenyum dan langsung masuk di kursi samping kemudi.


Andika menyalakan mesin mobilnya lalu segera keluar dari area parkir. Ia menambah kecepatan karena menyadari bahwa pakaian kekasihnya sedang basah.


~


"Tia …." Gita bersuara sambil memajukan tubuhnya agar lebih dekat dari gadis itu.


"Apa kau akan pulang ke rumahmu?" tanya Gita dan Tia terlihat sedang berfikir.


"Tidak. Kita ke Butik saja," ucap Tia dengan cepat membuat pria di sampingnya menatapnya bingung.


"Tapi kau harus mengganti bajumu sayang," timpal Andika membuat kedua gadis itu menatap kearahnya.


"Ya, Dika benar," kata Gita membenarkan.


"Aku tau, sepertinya aku memiliki baju di Butik, jadi langsung kesana saja," jelasnya, Gita pun mengangguk dan Andika kembali fokus mengemudi.


~


Setelah sampai di depan butiknya, Tia dan Gita turun lebih dulu meninggalkan Andika yang masih berada di dalam mobil. 


"Langsung ganti bajumu," ucap Andika sedikit berteriak karna kekasihnya yang sudah berada di depan pintu masuk. 


~


"Tia …." seorang pria bersuara saat melihat kehadiran gadis yang sudah ia tunggu sejak tadi.

__ADS_1


"Eh … hai Hans," balas Tia tersenyum sambil melanjutkan langkahnya bersama Gita untuk mendekat kearah lelaki itu.


"Lama tidak bertemu, dan sekarang kau sangat cantik," ujar Hans dengan senyum merekah. "Apa dia temanmu?" tanyanya sambil melihat ke arah Gita.


"Tentu saja, dia …." belum sempat Tia melanjutkan kalimatnya, Andika sudah ikut masuk dan memanggilnya.


"Sayang … kenapa belum mengganti bajumu," imbuhnya yang langsung merangkul pundak kekasihnya. Tia melebarkan matanya karena merasa malu sendiri. Sedangkan Hans, ia hanya tersenyum kecut saat menyadari bahwa Tia sekarang sudah memiliki kekasih.


"Hai Hans, perkenalkan aku Gita, calon adik iparnya Tia," timpal Gita sambil mengulurkan tangannya pada Hans. Lelaki itu langsung menyambut dan ikut memperkenalkan dirinya.


"Tia, kenapa baju mu basah?" tanya Hans sambil menatap tubuh mungul Tia yang sedang menggunakan Jas berukuran besar.


"Itu karena dia buru buru saat menerima telpon darimu, jadi seorang pelayan menabraknya," celoteh Gita membuat Andika mengerutkan dahinya karena mengetahui penyebab kekasihnya terburu buru.


"Siapa dia?" tanya Andika menatap lekat kearah Tia.


"Dia … tentu saja, dia temanku." Tia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menatap tajam ke arah Gita yang tidak tau membatasi ucapannya.


"Ayo ganti bajumu, kau bisa masuk angin nanti," kata Andika sambil menarik pelan tangan kekasihnya. 


"Em baiklah, Hans aku tinggal sebentar ya," imbuh Tia kemudian melanjutkan langkahnya mengikuti Andika.


~


"Tunggu di sini saja," ucap Tia saat Andika ingin masuk kedalam ruangannya.


"Kenapa …."


"Aku ingin mengganti bajuku, tentu saja kau tidak boleh masuk."


"Aku akan menutup mataku …."


"Tidak, kau tunggu saja di sini.!"


"Sayang … aku tidak aku mengintipmu."


Karna Andika tidak mau mengalah, akhirnya ia membiarkan lelaki itu masuk kedalam. Tia segera menuju kamar mandi yang berada di ruangan itu, ia juga membawa pakaian yang akan ia gunakan kembali.


"Jangan mengintip," imbuhnya dan Andika tersenyum sambil mengangguk pelan.


Sambil menunggu kekasihnya, Andika mengeluarkan ponselnya dan mengirim beberapa pesan pada Bimo yang mungkin masih berada di Restoran.


Jangan lupa vote, like, dan coment kak🤗

__ADS_1


Thanks for You All🤭💙🙏


__ADS_2