
Isma masih berdiri di teras rumahnya, menatap punggung Tia yang semakin menjauh bersama motor yang ditumpangi. Setelah Tia sudah tidak terlihat, Isma pun kembali masuk ke dalam rumahnya. Mencari lagi keberadaan putri bungsunya.
Tia sudah sampai di salah satu TPU, tempat dimana orang tuanya berada, setelah memberi upah pada tukang ojek, Tia menyuruh orang itu untuk tidak menunggunya, karena TPU yang tidak jauh dari rumahnya, jadi ia memilih untuk pulang ke sana saja setelah ini.
Dan perlahan Tia berjalan, melewati makam makam yang lain. Tibalah dia di hadapan dua makam yang menunjukkan nama ayah dan ibunya, ia tersenyum, lalu berjongkok di sana.
"Ayah, ibu. Tia datang," ucapnya dengan bibir yang melengkung sempurna.
Tia meletakkan bunga yang tadi ia beli, menyandarkan pada batu nisan ayah dan ibunya. Hembusan nafas berat terdengar dari mulut gadis itu. Tia berusaha agar tetap tersenyum di hadapan makam orang tuanya.
"Bagaimana kabar kalian? Aku yakin kalian sudah berbahagia. "Tia masih membelai kedua batu nisan di hadapannya. Bibirnya dengan pelan membaca nama orang tua yang telah meninggalkannya untuk selamanya, "Aku merindukan kalian. Bahkan sangat rindu. Aku rindu suasana rumah kita yang dulu bu, ayah."
Tia diam beberapa saat, mengatur nafasnya yang mulai sesak, perasaan hancur membuat air mata ingin tumpah saat itu juga. Namun ternyata ia masih kuat untuk memendamnya. Sebelum butiran bening benar benar tumpah di wajahnya, Tia langsung tertawa kecil, mengambil kotak makanan yang ia letakkan di samping, "Ibu, lihatlah, ini Mama Isma yang memberikan untukku," ucapnya memberitahu. Menujukkan kotak makanan di tangannya.
Tia diam lagi beberapa saat, menarik nafas dalam dan kembali tersenyum menatap pada makan ayahnya, "Ayah, coba lihat, warnanya sama seperti milikku yang sering ayah bawah ke tempat kerja." Tertawa serenyah mungkin, berusaha menghilangkan sesak didadanya.
Tia terus berbicara, menceritakan banyak hal pada makan orang tuanya. Meskipun tidak mendapat ucapan balasan, tapi ia tetap bercerita, menjadikan orang tuanya pendengar yang baik saat ini. Setelah cukup lama berada disana, Tia mulai merasa gerah karena teriknya matahari yang membakar tubuhnya, dan ingin segera berlalu.
"Tia mau pulang dulu sekarang. Kalian harus tetap bahagia di sana. Kalian lihatkan aku sudah tidak menangis saat mengunjungi kalian. Jadi kalian berbahagialah di sana, Tia berharap, bisa bertemu kalian meski hanya dalam mimpi. Hm … Tia pamit 8l kembali terdengar di ujung kalimatnya, ia mencium makam di hadapannya bergantian, lalu segera beranjak, meninggalkan TPU.
Tia merasa lega karena ia benar benar berhasil menahan air matanya di depan makam orang tuanya tadi. Ia memilih berjalan kaki untuk menuju rumahnya, hari ini ia tidak akan bekerja, ia memilih untuk pulang dan tidur dirumahnya sendiri. Berharap di sambut dengan hangat oleh orang tuanya. Namun tentu saja itu tidak mungkin terjadi, harapannya yang satu itu benar benar mustahil.
Rumah yang selalu menjadi tempat paling nyaman untuk Tia, rumah yang selalu menjadi tempatnya berpulang, tidak ada lagi kebahagiaan yang terlihat dari bangunan sederhana yang mulai kusam itu. Hanya ada keheningan disana.
Tia berjalan pelan, mengedarkan pandangannya pada setiap sudut rumah, bunga yang setiap hari di rawat ibunya pun sudah terlihat kering, halaman rumah yang dulu selalu bersih sekarang terdapat sampah berserakan. Rumah itu tidak lagi terawat setelah kepergiaan orang tuanya. Tia mulai membuka pintu, ia meletakkan kotak makanan yang ia bawa sejak tadi di atas meja makan.
__ADS_1
"Semua benar benar sudah berubah," ucapnya dengan tersenyum kecut. Tia kemudia berjalan ke arah dapur, mengambil sapu dan peralatan bersih bersih lainnya. Ia mulai membersihkan rumahnya kembali, kamar tidur orang tuanya pun ia tata serapa mungkin, seakan berharap bahwa suatu saat orang tuanya akan kembali dan menempati kamar itu.
Rumah yang sangat sederhana tidak butuh waktu lama untuk Tia membersihkannya, sekarang ia mulai membersihkan bagian halaman, mengumpulkan sampah yang berserakan, menata kembali tanaman kesayangan ibu yang masih bisa di selamatkan.
"Akhirnya, selesai." Peluh sudah bercucuran membasahi wajahnya. Setelah semua bersih, Tia meletakkan semua alat yang ia pakai pada tempatnya. Ia berjalan ke arah kamarnya, membersihkan diri dan mengganti pakaian yang mulai berbau keringat. Setelah selesai, ia memilih untuk makan siang di ruang keluarga, sambil menyaksikan acara televisi. Tia mulai membuka kotak makanan dari Isma, memakannya dengan begitu lahap, ia benar benar lapar karena baru makan se siang ini.
Di tempat lain, di sebuah gedung perusahaan, semua orang terlihat sibuk dengan aktivitasnya, keluar masuk dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya, ada yang saling berteriak untuk meminta bantuan, ada yang hanya diam di depan komputer yang menyala. Akhir bulan memang selalu menimbulkan kesibukan yang lebih.
Seorang pria yang menjadi penerus untuk mengelolah perusahaan pun masih begitu sibuk di meja kerjanya. Ia hanya beristirahat sebentar waktu jam makan siang, setelah itu ia kembali duduk dan berperang pada tumpukan berkas. Memeriksa semua laporan hasil kerja karyawannya selama sebulan.
"Bim," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari berkas berkas di tangannya.
Bimo yang terlihat sedang memeriksa laporan di laptopnya langsung berjalan mendekat pada majikannya.
"Sudah tuan, saya memilih sesuai kemauan Anda, satu laki laki dan satu perempuan, mereka yang akan menggantikan saya di sini," jelas Bimo. Karena majikannya menolak untuk ke Amerika, akhirnya Bimo lah yang di kirim ke sana selama dua bulan kedepan. Bimo pun tidak punya pilihan lain, ia juga harus mencari dua orang yang akan menggantikannya.
"Baiklah, kau atur saja semuanya, atur pertemuanku dengan orang pilihanmu."
"Baik tuan."
Andika melanjutkan kembali pekerjaanya. Bimo yang selesai menjelaskan pun pamit undur diri untuk mengurus hal yang lain.
Bimo sudah duduk di sofa yang berada di ruangan khusus untuknya, menyandarkan kepalanya yang terasa pusing. Perlahan meneguk kopi hangat yang berada di meja.
Tok … tok … tok
__ADS_1
Suara pintu ruangannya di ketuk, setelah ia bersuara dan menyuruh orang itu masuk, pintu langsung terbuka. Staf sekretaris masuk lebih dulu, di belakangnya terlihat sepasang manusia berdiri dengan pakaian formal.
"Silahkan duduk!" Bimo berseru saat melihat bahwa yang datang adalah orang yang akan menggantikannya.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit staf sekretaris dengan menunduk sopan, Bimo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah mereka duduk, Bimo mulai menjelaskan, pekerjaan apa saja yang akan di lakukan kedua manusia itu. Menjelaskan hal hal yang di sukai dan tidak di sukai oleh majikannya. Sepasang manusia itu hanya mengangguk sambil mencatat semua ucapan Bimo di otaknya, terus mengingat agar nanti tidak melakukan kesalahan.
Setelah semua selesai, mereka berdua pamit untuk pulang ke rumah masing masing, sebelum mereka pergi, Bimo kembali mengingatkan agar besok mereka tidak terlambat untuk bertemu bakal calon bosnya.
"Baik tuan, kami tidak akan terlambat." Laki laki itu bersuara, mewakili gadis di sampingnya. Setelah merasa tidak ada lagi yang di bicarakan, mereka benar benar pergi, meninggalkan Bimo sendirian.
Sore pun tiba, jam menunjukkan pukul 17.00, namun sore ini sudah terlihat seperti malam, langit bergemuruh, sepertinya sebentar lagi hujan akan turun.
Di butik milik Tia, semua karyawan bergegas untuk pulang sebelum terhalang oleh hujan. Gita yang datang kesana pun pulang tanpa Tia. Ia sudah beberapa kali menghubungi sahabatnya namun ponsel gadis itu tidak kunjung aktif.
"Aku duluan ya," pamitnya pada tiga orang gadis yang masih berdiri di teras butik.
"Hati hati Mba, salam sama Kak Tia." Ulan berteriak pada Gita yang sudah berada di dalam mobilnya. Yang lain ikut mengangguk sambil melambaikan tangan mereka.
Hujan sudah benar benar turun, membasahi bumi dan seisinya. Bimo melajukan mobil dengan kecepatan sedang, mengantar majikannya untuk segera pulang ke rumah. Andika memejamkan matanya di kursi penumpang, beberapa kali mendengus kesal karena tidak sabar untuk segera pulang ke rumah. Lebih tepatnya tidak sabar untuk bertemu kekasihnya.
Jangan lupa like, komen, dan vote🤗
Terima kasih😌💙🙏
__ADS_1