
Tia bangun sangat pagi hari ini, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus memikirkan Andika.
Laki laki itu belum juga mengabarinya, Tia sudah menghubungi beberapa kali tapi nomornya masih tidak aktif.
Dia sudah sampai atau belum ya? Ceh, aku bahkan tidak tau seberapa lama perjalanan ke Amerika.
Karena merasa pusing sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk segera mandi, lalu bersiap untuk berangkat ke Butik.
Selesai Mandi, ia beranjak dari kamarnya, berjalan menuju dapur untuk sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Ini masih pagi, kenapa menekuk wajahmu seperti itu," ucap Rita saat putrinya sudah ikut bergabung.
"Ibu, apa Amerika itu jauh?" tanya Tia langsung dengan wajah lesuh.
"Tentu saja jauh," timpal Gunawan dan Tia terlihat mengangguk kecil.
"Apa Andika sudah menghubungimu?" tanya Gunawan dan Tia menggeleng, lalu segera mengunyah makanannya. Kedua manusia paruh baya itu pun tak lagi bertanya atau berbicara. Mereka menghabiskan sarapannya sebelum melakukan aktivitas sehari hari.
~
Di tempat lain, seorang gadis cantik juga terlihat sangat tidak bersemangat pagi ini, ia terus melamun, entah apa yang ia pikirkan sehingga wajahnya terlihat masam.
"Gita, ada apa?" tanya wanita paruh baya menghampirinya. Ia terperanjat saat namanya disebut, memegangi dada kirinya dan langsung melihat ke asal suara.
"Mam, kenapa mengejutkanku," ucapnya dengan wajah memelas.
"Ada apa?" Isma kembali bertanya dengan menatap begitu dalam mata putrinya.
"Nomor papa belum aktif mam," rengeknya membuat Isma tersenyum.
"Mungkin papa sibuk. Ayo sarapan dulu," ujarnya menenangkan Gita, meskipun ia juga begitu khawatir karena sedari kemarin handphone suaminya tidak bisa dihubungi.
Dengan langkah berat, Gita mengikuti Mamanya untuk sarapan bersama.
Ada apa ini? kenapa aku terus memikirkan papa? Gita berucap dalam hati
"Apa hari ini kau ada jadwal kuliah?" tanya Isma saat mereka sudah berada di meja makan.
"Tidak Mam, aku akan ke Butik Tia hari ini," jawabnya dengan terus menatap roti panggang di hadapannya.
"Baiklah."
Mereka kembali melanjutkan sarapan dengan keheningan, Gita tetap mengunyah meskipun pikirannya sudah berterbangan entah kemana.
__ADS_1
~
Tia sudah mengendarai motornya meninggalkan halaman rumahnya. Membelah jalanan kota yang cukup lenggang pagi ini. Ia tidak butuh waktu lama untuk segera sampai ke Butiknya. Tia pun segera memasukkan motornya ke dalam garasi di samping bangunan dua lantai itu.
Memasuki Butik dengan wajah yang masih di tekuk, tentu saja itu mengundang tanda tanya dalam benak semua karyawannya.
Ia tetap tersenyum dengan semua orang yang berada disitu, tapi sayang, senyumnya bahkan memperlihatkan bahwa suasana hatinya sedang tidak baik baik saja. Tia berjalan menaiki anak tangga. Tersenyum lagi saat mendapati Fina yang berada di lantai dua. Setelah itu kembali berjalan memasuki ruangannya.
Tia membaringkan tubuhnya di sofa, hari ini semngatnya benar benar pergi ke Amerika bersama Andika. Ia kembali menghubungi pria itu, tapi nihil, handphone kekasihnya belum dapat dihubungi.
Drrtt … drrtttt
Baru saja meletakkan ponselnya di atas meja, benda kecil itu langsung berbunyi, dengan sigap ia mengambil dan menatap layar depan ponselnya. Mengerutkan dahinya karena yang menelpon nya bukan lah orang yang ia pikirkan.
"Ya Git," sahutnya setelah menjawab panggilan.
"Kau dimana? Aku sedang di depan Butikmu."
"Kemarilah, aku ada di atas."
Sambungan telepon pun terputus, Tia kembali meletakkan ponselnya dan beralih mengambil ponsel khusus untuk jualannya. Melihat orderan yang masuk, lalu menyuruh Ulan untuk melihat stok barang dan setelah deal langsung di packing.
~
"Mba Gita, silahkan masuk," sapa Anggi tersenyum, Gita pun ikut tersenyum dan segera berjalan menuju tangga.
~
"Gita …," ucap Tia dan langsung memposisikan dirinya untuk duduk. Gita pun ikut duduk di sofa yang sama dengannya.
"Hem …." Gita langsung menyandarkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam. Tia menatapnya bingung.
"Ada apa?" tanya Tia yang fokus menatap gadis di sampingnya.
"Aku sangat merindukan papa," lirih Gita menjawab. Tia membisu, memikirkan cara untuk menenangkan dan membuat Gita tidak curiga. Andika sudah melarangnya untuk memberitahu Gita atau pun Isma.
"Gita … papa pasti baik baik saja," ujar Tia menenangkan. Bukannya tenang, Gita bahkan langsung panik sendiri sambil menatap Tia dengan wajah bingung.
"Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Gita curiga, Tia menggeleng cepat dan membuat Gita semakin curiga dengan tingkah tidak biasa dari sahabatnya.
"Benarkah? Apa kau tidak sedang berbohong," imbuhnya dengan menatap lekat bola mata milik Tia, gadis yang ditatap semakin merasa bersalah karena tidak jujur.
"Kau benar," ujar Tia tanpa sadar dan itu sudah membenarkan pertanyaan Gita.
__ADS_1
"Tia, ada apa? Apa kau berusaha menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyanya lagi dengan suara terdengar kesal.
"Maaf kan aku …," ucap Tia yang merasa sudah gagal untuk menjaga rahasia ini.
"Maaf," ulangnya dan Tia mengangguk pelan. Ia menatap Gita sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Papa … papa, dia … dia terjatuh dari atas gedung yang masih dalam pembangunan," jelasnya terbata bata membuat Gita tak bisa lagi untuk bertanya, lidahnya keluh, ia sudah seperti tersambar petir di siang bolong, aliran darahnya seperti sedang berhenti.
"Git, maafkan aku, tapi kau harus tenang, Andika sudah berangkat untuk melihat langsung kondisi papa," lanjutnya menjelaskan, namun Gita belum bergeming, ia menatap lurus ke satu arah. Tia merasa serba salah sekarang.
"Git, ku mo … " belum selesai Tia menlanjutkan ucapannya, Gita sudah memotong kalimatnya, kekhawatirannya sudah terjawab sekarang.
"Aku harus melihat langsung," ucapnya yang sudah beranjak, namum dengan cepat Tia menarik tangannya.
"Jangan gegabah, kita tunggu kabar dari kakak mu dulu," ujar Tia lembut, berharap agar gadis di sampingnya akan mengerti.
"Sejak kapan Dika pergi?"
"Semalam, setelah makan malam."
"Mama haru tahu.!"
"Gita, jangan.!"
"Kenapa? Mama berhak tahu soal ini."
"Tenang lah Git, tunggu sampai kakakmu memberi kabar dulu,"
Dan akhirnya Gita pun menurut untuk tidak memberitahu mamanya terlebih dahulu. Ia mendengus, merasa tidak berguna di situasi semacam ini.
"Git,"
"Hem,"
"Seberapa lama perjalanan menuju Amerika?"
"Sekitar delapan belas jam, kenapa?" tanya Gita bingung.
"Andika belum mengabariku dari semalam, aku khawatir dengannya," ujar Tia, terdengar helaan nafas yang berat di sela sela kalimatnya.
"Ceh, apa kau ingin jika sekarang aku yang menenangkanmu," ujar Gita dan terdengar tawa kecil dari bibirnya.
Kedua manusia itu tersenyum satu sama lain, mencoba menghilangkan semua fikiran buruk yang sudah menari nari di kepalanya.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen Kak😘
Terima kasih Kak😌💙🙏