Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 74


__ADS_3

Pagi yang cerah, matahari sudah memancarkan sinarnya, kicauan burung terdengar indah dari luar, dengan tetesan embun yang masih tersisa pada jendela kaca. Di bawah sana sudah banyak orang yang berlalu lalang, yang bekerja berjalan dengan tergesa gesa, seakan mereka sudah terlambat sepagi ini. Ibu ibu komplek sudah mengerumuni gerobak tukang sayur, membeli bahan makanan untuk keluarganya.


Kedua gadis cantik itu masih belum bergeming dari bawah selimut. Menutupi tubuh mereka dari pantulan cahaya yang masuk melalui jendela kaca. Suara ketukan pintu sudah terdengar beberapa kali dari luar. Namun sama sekali tidak mengganggu mereka.


Kedua manusia paruh baya sudah duduk bersama di meja makan, menunggu anak dan calon menantunya yang belum juga terlihat. Seorang pelayan mendekat, memberitahukan bahwa kedua gadis cantik yang ada di lantai dua masih juga belum bangun. Isma hanya tersenyum mendengar laporan pelayannya. 


Selang tidak lama, pria tampan menuruni tangga dengan gagahnya, menggunakan setelan yang sudah rapi untuk ke kantor. Dari wajahnya ia terlihat sangat segar dan begitu bahagia.


"Pagi, ma, pa." Dengan senyum yang merekah ia menarik kursi dan duduk disana.


"Pagi sayang," sahut Isma dengan tersenyum hangat di ikuti Iskandar yang juga tak mau kalah memperlihatkan senyum terbaiknya.


"Loh, Tia dan Gita kemana?" tanyanya saat melihat kursi lain yang masih kosong.


"Mereka belum bangun. Sudahlah, biarkan saja, mungkin kelelahan." Isma menjelaskan, kemudian mengambilkan makanan untuk suami dan anaknya, lalu mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka masih menikmati sarapannya, Iskandar yang sejak tadi memperhatikan putranya terlihat ingin mengatakan sesuatu. Melirik istrinya sesaat, wanita paruh baya itu mengangguk seakan memberi dorongan.


"Dika," ucap Iskandar yang sudah menyelesaikan sarapannya. Andika mengangkat wajahnya, menatap papanya sambil menunggu kalimat lanjutan dari laki laki itu.


Andika masih diam, karena papanya masih tidak berbicara, akhirnya ia langsung bertanya, "Ada apa pa?" dengan wajah penasaran ia menunggu jawaban papanya.


"Apa kau sudah memikirkan tentang proyek kita yang di Amerika?" tanya Iskandar, wajah Andika langsung berubah, senyum yang tadinya mengembang langsung pudar seiring dengan pertanyaan papanya. Andika menghela nafasnya berat, ia sebenarnya belum mengambil keputusan tentang ucapan papanya tadi malam.


"Jika kau tidak bisa, biar papa saja. Papa juga merasa bosan jika terus berada di rumah," ujar Iskandar saat melihat perubahan mimik wajah putranya. Andika masih belum menjawab, terlihat jelas bahwa ia sedang berpikir keras saat ini. Di satu sisi ia tidak mau jika harus berjauhan dengan kekasihnya, disisi lain ia juga tidak tega jika membiarkan papanya mengurus proyek setelah kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Pa, kenapa papa tidak menyuruh orang kepercayaan papa yang saja yang mengatur, jadi papa bisa tetap di rumah dan aku juga tetap mengurus perusahaan." Solusi yang sangat baik menurut Andika. Ia juga tidak perlu jauh dari Tia. Ia akan merasa bersalah jika harus meninggalkan kekasihnya. 


"Baiklah, nanti papa pikirkan lagi." 

__ADS_1


Obrolan di meja makan berakhir, Andika bersiap untuk segera berangkat ke kantor. Melirik ke arah tangga, berharap kekasihnya muncul secara tiba tiba di sana. Nihil, karena Tia belum memperlihatkan batang hidungnya, akhirnya Andika berangkat bersama Bimo yang sudah menunggunya.


Mobil yang khusus disiapkan untuk mengantar kemanapun majikannya pergi, sudah sampai di depan gedung mewah yang menjulang tinggi. Pintu mobil terbuka, Andika dengan tubuh kekarnya turun sambil merapikan jas beserta dasinya. Terlihat sangat gagah, membuat para gadis yang melihatnya langsung jatuh hati.


Andika mulai melangkahkan kakinya memasuki gedung perusahaan, di ikuti oleh Bimo sang asisten.


Pintu ruangan khusus untuk sang pemilik perusahaan terbuka, Andika menghela nafasnya melihat tumpukan berkas yang sudah menunggu di atas meja. Andika mulai mendekati meja kerjanya, melepas jas yang digunakan dan meletakkannya pada sandaran kursi.


Setelah memposisikan duduknya dengan baik, Andika mulai bertempur dengan tumpukan berkas yang sudah menunggunya sejak tadi di atas meja kerjanya.


 


Jam sudah menunjukkan pukul 11:00, matahari semakin terik membakar bumi, di bawah selimut kedua gadis cantik itu menggeliat, meregangkan otot otot yang terasa kaku karena tidur terlalu lama. Tia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mengumpulkan kembali nafasnya. 


"Ah, jam berapa sekarang," gumamnya dengan suara parau. Ia melirik ke arah Gita, ternyata gadis itu juga masih terlelap. Benda pipih di atas nakas berhasil diraih oleh Tia, ia terlonjak saat melihat jarum jam yang menunjukkan angka sebelas, Tia mengucek matanya, memastikan bahwa sekarang memang sudah siang. "Gita bangun! Gita, apa kau tidak kuliah." Tubuh Gita sudah bergoyang ke kiri dan kanan karena Tia.


Tia yang sudah bersiap lebih dulu keluar dari kamar Gita, berjalan menuruni anak tangga, mencari sosok wanita paruh baya yang ia sebut dengan panggilan mama. 


"Sayang, ternyata sudah bangun. Ayo makan dulu, ini sudah hampir jam makan siang," sapa Isma yang muncul dari arah dapur. Tia menunduk malu, bagaimana bisa dia tidur sampai sesiang ini, ini hanya biasa dilakukan di rumahnya sendiri, kali ini dia merasa benar benar tidak tahu malu.


"Hm … tidak usah mam. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, dan ini sudah terlambat," jelas Tia sambil memeluk singkat tubuh calon mertuanya. 


"Kau harus makan Tia, sedikit saja."


"Aku benar benar sudah terlambat ma. Maafkan aku, aku akan makan setelah berada di Butik."


Isma meninggalkan Tia yang berdiri di ruang keluarga, wanita paruh baya itu berjalan cepat ke arah dapur. Selang tidak lama, Isma sudah kembali bersama kotak makanan di tangannya, Tia menatap tangan Isma, kotak makan berwarna pink. Tia langsung mengingat penolakan ayahnya, saat harus memakai kotak makanan, Tia.

__ADS_1


"Ini makanannya. Kau tidak boleh terlambat makan nak. Ingat itu!" 


Isma menyodorkan kotak makanan, di sambut dengan senyum bahagia dan haru dari Tia. 


"Makasih mam. Tia pergi dulu," pamitnya sambil tersenyum hangat. Isma mengangguk lalu mengantar Tia sampai kedepan. 


"Sayang, kamu bisa bawa mobil sendiri, atau mau di antar sama supir?" tanya Isma lembut, cepat cepat Tia menggelengkan kepala, menolak kedua tawaran dari wanita paruh baya itu, Isma menautkan kedua alisnya, berpikir kendaraan apa yang akan dipakai calon menantunya jika tidak mau menggunakan mobil.


"Aku sudah pesan ojek online ma. Nah, itu dia datang." Tia tersenyum, sambil menunjuk tukang ojek yang baru tiba.


"Tidak sayang. Ini sudah siang, di luar sana sudah begitu panas, kau tidak boleh naik ojek." 


Tia tertawa, menggenggam lembut tangan Isma, sambil melirik tukang ojek yang sedang memperhatikan ke arah mereka sekarang.


"Aku sudah biasa naik ojek ma, lagian jika naik mobil aku akan semakin terlambat. Dan kasihan juga pada tukang ojek yang sudah datang."


"Tidak nak. Mama akan membayarnya dua kali lipat meskipun tidak mengantarmu."


"Ma, untuk kali ini saja," ucap Tia dengan nada memohon, memperlihatkan wajah memelas pada Isma, membuat wanita paruh baya itu menarik nafasnya dalam dalam dan sekali lagi menatap pada teriknya matahari. 


"Baiklah. Hanya untuk hari ini." jawab Isma dengan suara terpaksa. Tia memeluknya Isma singkat, mencium punggung tangan perempuan itu, lalu segera menghampiri tukang ojek yang sudah menjadi penonton drama mereka siang ini.


Tia melambaikan tangan dengan senyum yang terpancar di wajah cantiknya.


Jangan lupa like, komen, dan vote kak🤗


Terima kasih😌💙🙏

__ADS_1


__ADS_2