Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 59


__ADS_3

Suara pintu apartemen terbuka dan seperti di dorong sangat keras. Terlihat Gita sedang berdiri disana. Tia yang awalnya terkejut dengan suara pintu langsung tersenyum saat melihat siapa yang datang. 


Gita berlari kecil menghampiri kakak dan sahabatnya, tatapan iba ia perlihatkan pada Tia. Gadis yang ditatap malah terlihat bingung. 


Tanpa menunggu lagi, Gita sudah memeluk Tia, mengucapkan beberapa kalimat penyemangat untuk gadis itu. Membuat Tia semakin bingung dan menatap aneh pada Gita.


"Tia, kau harus tenang, kau tidak sendiri, aku dan Andika akan selalu ada untukmu." Gita sudah terdengar getir berbicara. Sedangkan Andika, ia hanya diam. Tidak tahu ingin berbicara dari mana.


"Gita, hentikan!" Andika memukul lengan adiknya yang terus berbicara dengan kalimat penenangnya. Gita menatapnya nanar, meminta jawaban kenapa lelaki itu menyuruhnya berhenti berbicara.


"Ada apa ini? Apa maksud dari ucapanmu Git?" tanya Tia pada Gita, perasaannya kembali tidak enak, namun sekuat hati ia berusaha untuk tetap berpikir positif.


Mendengar pertanyaan Tia barusan, Gita sudah bisa menebak bahwa gadis itu belum mengetahui semuanya. Tatapan tajam Gita ia berikan pada kakaknya yang masih diam membisu. 


"Sayang, ayo pulang, kita akan menginap di rumahmu malam ini." Akhirnya setelah keheningan beberapa saat, Andika memilih untuk mengajak Tia pulang ke rumahnya, ia benar benar tidak tega menjelaskan semuanya.


"Gita, kau ikut kan?" tanya Tia pada Gita, gadis itu hanya mengangguk, ia sama sekali tidak menatap Tia.


Andika bergegas menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil yang tadi ia letakkan di dalam sana. Setelah itu kembali menghampiri kedua gadis yang masih berada di sofa.


"Tunggu kak," cegah Gita, membuat Tia dan Andika langsung menghentikan langkahnya untuk segera keluar dari apartemen.


"Apa lagi Gita?" tanya Andika, perasaannya sudah tidak enak melihat raut wajah Gita.


"Lebih baik kau beritahu Tia sekarang," ucap Gita dengan wajah menunduk. Andika menghela nafasnya berat, masih menimbang ucapan adiknya barusan.


"Apa yang kalian sembunyikan?" tanya Tia dengan mata yang sudah berkaca kaca, entah kenapa tiba tiba ia merasakan sakit yang teramat di bagian dadanya.


Andika masih diam, rasanya ia tidak ingin mengatakan hal ini pada kekasihnya. Hatinya akan ikut hancur melihat kesakitan gadis itu nanti. Namun setelah mengumpulkan segudang keberanian, Andika mulai berbicara dan menjelaskan pada Tia.

__ADS_1


"Sayang, ayah … ayah dan ibu," ucap Andika terbata bata.


"Ke … kenapa? Ada apa dengan mereka?" tanya Tia dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Semua kemungkinan sedang menari di kepalanya, menebak apa yang sebenarnya terjadi.


"Kau harus kuat sayang. Ikhlaskan mereka. Ayah dan ibu sudah pergi."


Tia langsung terduduk di lantai, sekujur tubuhnya gemetar, kalimat Andika barusan apa maksudnya? Ia masih mencerna dengan baik saat ini.


"Pergi kemana Dika? Ayah dan ibuku pergi kemana?" teriak Tia dengan sangat keras, suaranya memenuhi langit langit apartemen. 


"Sayang, kau harus kuat, aku yakin kau pasti kuat." Andika sudah memeluk dengan erat. Air mata Tia semakin deras bercucuran, membuat Gita yang melihat ikut menangis tersedu sedu.


"Bilang kalau ini bohong Dika! Gita, lihat aku, tolong bilang bahwa ini tidak benar, kalian hanya bercanda kan," racau Tia di dalam dekapan Andika.


"Sayang, kumohon katakan bahwa semua ini tidak benar," lanjutnya dengan tangisan yang terdengar sangat pilu.


"Kau harus kuat Tia, kami akan selalu ada untukmu," ucap Gita menenangkan sahabatnya. 


~


Mobil berhenti tepat di halaman rumah Tia. Ramai orang yang terlihat di rumah sederhana itu, beberapa mobil asing juga terlihat di sana. Tanpa menunggu, Tia langsung membuka pintu mobil dan berlari menuju ke dalam rumahnya.


"Tia," ucap Sisi saat melihat Tia sudah berada diambang pintu, dengan segera Sisi berjalan menghampiri adiknya. Memeluk tubuh gadis yang terlihat diam tanpa ekspresi sekarang.


Tia melepas pelukan kakaknya, ia berjalan dengan langkah lunglai mendekati kedua tubuh yang terbaring kaku di lantai dengan kain putih yang menutupi mereka. 


Tangisannya pecah saat membuka kain yang menutupi wajah ayah dan ibunya. Sisi dan Diki sudah memeluknya erat, berusaha untuk saling menguatkan satu sama lain.


"Kenapa Tuhan begitu jahat pada kita kak, kenapa dia mengambil ayah dan ibu dari kita, kenapa kak …." Tangisannya sudah terdengar sangat dalam dan pilu.

__ADS_1


Andika dan Gita sudah ikut masuk kedalam rumah, mereka duduk di belakang tiga manusia yang masih saling memeluk.


"Tia, maafkan mas," lirih Diki berucap. Ia merasa sangat bersalah karena telah mengajak orang tuanya untuk berkunjung.


Seluruh tubuh Tia merasa lemas, hati dan pikirannya masih belum bisa menerima semua kenyataan ini. Orang tuanya yang telah pergi bersamaan, bahkan untuk selamanya. 


"Kita harus kuat sayang, harus kuat." Diki masih terus menguatkan kedua adik perempuannya, meskipun ia juga merasa sangat terpukul, tapi ia harus terlihat tegar untuk adiknya.


"Kenapa kau ambil kebahagiaanku Tuhan, kenapa harus secepat ini," lirih Tia berucap, tangisannya terdengar semakin pilu.


Melihat keharuan yang terjadi, semua orang yang datang melayat ikut meneteskan air mata mereka. Gita juga sudah sesegukan dalam pelukan kakaknya. Ketiga karyawan Tia turut hadir saat diberitahu oleg Gita. Mereka ikut merasakan kesedihan gadis yang sudah menjadi bosnya itu.


~


"Ayah, selamat jalan. Aku pasti akan menepati janjiku untuk menjaga putrimu, semoga kalian tenang dialam sana," ujar Andika, tangannya membelai batu nisan yang bertulis kan nama Gunawan. Lalu beralih pada makan yang satunya.


Satu persatu orang yang mengantar hingga ke pemakaman sudah beransur pulang. 


Tia masih bersimpuh di antara makam ayah dan ibunya. Matanya sudah terlihat sembab karena menangis semalaman. 


Terima kasih untuk tangan tangan suci kalian yang selalu terangkat mendo'akanku, memohon pada Tuhan untuk kesuksesan dan kebaikanku. Terimah kasih ayah, ibu. Semoga kalian tenang dialam sana, aku harap Tuhan akan kembali mempersatukan kita suatu saat nanti. Aku mencintai kalian. Tia mencium batu nisan itu bergantian, cukup lama hingga air matanya kembali menetes, namun dengan cepat ia menghapusnya agar tidak dilihat oleh yang lain.


"Ayo sayang," ajak Andika sambil mengulurkan tangannya.


"Ibu, ayah, Tia pamit dulu. Tia berjanji akan selalu datang untuk mengunjungi kalian, semoga kalian selalu berbahagia," ucapnya sebelum benar benar pergi dari pemakaman.


Ayah, terima kasih karena telah memberiku kepercayaan untuk menjaga putrimu. Aku tidak akan mengecewakan kalian. Andika tersenyum sambil menepis ujung matanya yang kembali ber air. Sekali lagi ia menoleh ke arah makam dan segera berlalu menuju mobilnya.


Jangan lupa vote, like, dan komen🤗

__ADS_1


Terima kasih😌💙🙏


__ADS_2