Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 62


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu kepergian orang tuanya. Kesedihan yang dirasakan Tia masih belum berkurang. Namun ia cukup mahir menutupinya dengan terlihat baik baik saja sekarang.


Dan hampir setiap hari ia sempatkan datang ke makam orang tuanya di temani Andika ataupun yang lain. Dan hari ini, untuk pertama kalinya ia datang sendiri, karena Andika sedang ada rapat yang sangat penting di kantor. Gita sudah sibuk kuliah, dan kedua kakaknya pun sudah kembali ke rumah mereka masing masing.


"Bu, ayah … aku datang lagi," sapa Tia dengan mata yang sudah berkaca kaca. "Bagaimana kabar kalian? Kalau Aku sudah, lihatkan aku sudah baik baik saja sekarang," lanjutnya dengan senyum yang ia paksakan. "Apa kalian sudah bahagia disana?" tanyanya dengan mengelus beberapa kali batu nisan orang tuanya bergantian. "Sebenarnya aku berpikir untuk menyusul kalian, agar kita bisa bertemu lebih cepat, tapi aku kembali berpikir, biarkan saja kita bertemu nanti. Sekarang giliranku yang akan menghukum kalian karena telah meninggalkanku tanpa pamit." Ada tawa kecil di ujung kalimatnya yang getir. Namun perlahan senyum di wajahnya hilang dan berganti dengan air mata yang tumpah.


Tia memejamkan matanya, senyum orang tuanya kembali terlihat jelas di pikirannya. Senyum hangat ibu yang selalu membuat hati merasa di sayangi. Senyum terindah ayah yang ia perlihatkan terakhir kali saat ingin berangkat ke rumah Diki. 


Semua kebersamaan yang lalu kembali hadir. Memory kenangan bersama orang tuanya tidak akan pernah hilang dari ingatan sampai kapanpun.


"Apa kalian senang meninggalkan aku seperti ini?" air mata masih tak henti membasahi wajah Tia. Rasanya baru kemarin ia bertemu dengan orang tuanya, memeluk erat mereka saat ingin menaiki bus, dan hari ini sudah tepat satu minggu kedua manusia paruh baya itu meninggalkan dirinya.


"Beristirahatlah dengan tenang, aku akan terus datang kemari untuk mengunjungi kalian," katanya lagi dengan kembali tersenyum. "Aku pulang dulu. Ayah, tetap jaga ibu di sana, aku menyayangi kalian," pamitnya. Tia mengecup kedua batu nisan itu bergantian, lalu beranjak dari pemakaman sambil menyeka sisa air matanya.


~


Drrttt … drrtttt


Suara ponsel menyadarkan Tia dari lamunannya. Ia merogoh saku celananya, melihat nama yang tertera di layar utama.


"Gita," gumamnya dan langsung menggeser layar untuk menjawab teleponnya.


"Tia, kau dimana?" tanya panik dari seberang telepon.


"Di Taman," jawab Tia singkat.


"Baiklah, jangan kemana mana, aku segera kesana," balas Gita lalu memutuskan sepihak sambungan telepon.


Tia kembali menatap nanar pada danau buatan yang terletak di ujung taman. Terlihat sangat indah dan tenang.


"Apa ikan di dalam sana hidup dengan tenang seperti yang terlihat dari dasarnya?" tanyanya pada diri sendiri dengan ujung bibir yang sedikit terangkat.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara gadis yang sedang mengoceh sendiri dari arah belakang, namun Tia tidak menoleh, ia membiarkan gadis itu mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Tia, aku sudah berteriak sejak tadi," ucap Gita dengan wajah yang ia buat cemberut.


"Kenapa berteriak, aku tidak tuli Git," balas Tia tanpa melihat ke arahnya. Gita mengikuti pandangan Tia yang terlihat sedang menatap dalam danau buatan di ujung sana. Seperti mencari tahu apa yang sedang dilakukan ikan ikan di dalamnya.


"Tia …,"


"Hem,"


"Mama dan papa sudah kembali, mereka ingin menemuimu,"


Tia langsung menatap dalam wajah sahabat di sampingnya. Perasaannya langsung terenyuh mendengar kata mama dan papa.


"Kak Sisi sudah menghubungiku, ia mengizinkanmu menginap di rumahku untuk sementara," jelas Gita dengan tersenyum girang.


"Aku kan tidak pernah bilang akan menginap di rumahmu Git," ujar Tia bercanda, ada senyum tipis di wajahnya.


"Teruslah tersenyum Tia, kami semua menyayangimu," tutur Gita yang sudah mendekap tubuh sahabatnya. "Sebaiknya kita pergi sekarang, karena aku merasa sakit perut," lanjutnya berbohong sebelum suasana hati Tia kembali rusak.


Mobil sudah meninggalkan area taman, memecah jalan raya yang cukup padat sore ini. Kepulan asap dari berbagai kendaraan memenuhi jalanan. Orang yang sedang berjalan kaki pun kalah banyak di luar sana. Mereka masih terlihat sibuk dengan aktivitasnya.


Di depan sebuah kedai minuman, banyak terlihat manusia yang sedang menikmati jamuan sore. Lampu jalan berubah jadi merah, membuat semua pengendara menghentikan laju kendaraanya untuk mengikuti aturan.


Mata Tia menatap lekat pada sebuah keluarga yang terlihat sedang menikmati minuman dingin dan beberapa cemilan di depannya. Senyum di wajah mereka terlihat jelas dari pandangan Tia, membuat gadis itu merasa sesak di dadanya.


"Bu, ayah. Aku rindu," gumamnya begitu pelan, namun masih terdengar di telinga Gita.


"Ada apa?" tanya Gita melirik ke arahnya. "Tia," panggilnya lagi karena Tia belum bergeming.


"Eh iya … ada apa Git?" tanya balik Tia yang sudah tersadar dari lamunan.


"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Gita


"Tidak Git. Kita ke rumahku dulu ya, aku mau ambil pakaian ganti," ujarnya

__ADS_1


"Baik bos," balas Gita tersenyum dengan mengacungkan kedua jempolnya. 


Lampu jalan sudah kembali berganti warna, makian dari kendaraan di belakang sudah terdengar nyaring. Seakan tidak sabar untuk segera menyuruh kendaraan di depannya bergerak. 


Bersabarlah wahai penduduk bumi, kami juga tidak akan tinggal di tengah jalan seperti ini, Batin Gita


Mobil kembali melaju di iringi makian dari penduduk bumi yang tidak tahu bersabar. Tia menatap gedung gedung yang menjulang tinggi sedang berlarian di luar sana. 


"Ayo, aku akan membantumu berkemas," ujar Gita yang sudah turun lebih dulu saat berada di depan rumah Tia. 


Tia mematung di dekat pintu mobil Gita, lagi lagi menatap semua sisih rumahnya, semua kenangan manis kembali terlintas di pikirannya.


"Aku akan menemanimu," ujar Gita yang kini menggandeng tangannya. Tia mengangguk pelan lalu menarik nafasnya dalam untuk kembali melangkah ke dalam rumahnya.


Setelah memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam ransel miliknya, Tia juga mengambil foto yang berada di atas nakasnya. Foto berukuran kecil yang memperlihatkan orang tuanya disana. Ia mendekap foto itu di dadanya, lalu memasukkannya ke dalam ransel.


"Ayo," ajaknya yang baru selesai mengemas.


Ayah, ibu ... aku pergi dulu, aku janji tidak akan lama, aku pasti akan cepat kembali ke rumah kita. Aku hanya perlu waktu agar bisa menerima semua keadaan ini. Aku pamit dulu, bu, ayah. Tia berucap dalam hati, terasa sesak namun ia tetap berusaha tersenyum.


Dalam perjalanan ke rumah Gita, Tia membicarakan banyak hal, bahkan mungkin percakapan mereka sudah dibicarakan sebelumnya. Namun itu ia lakukan agar pikirannya bisa sedikit beralih dari kedua orang tuanya.


"Eh, tadi Ulan mengirim pesan padaku, dia menanyakan kabarmu," ucap Gita memberitahu.


"Benarkah? Aku memang belum membalas pesannya beberapa hari sih hehehe," tutur Tia dengan tawa kecil. Gita pun ikut tertawa melihat sahabatnya itu.


Mereka terus mengobrol di antara padatnya kendaraan yang juga sedang berlalu lalang, membuat perasaan Tia sedikit lebih baik dari sebelumnya.


Jangan lupa untuk selalu dukung author🤭


Terima kasih😌💙🙏


 

__ADS_1


__ADS_2