Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 73


__ADS_3

Mobil sudah memasuki area parkir sebuah gedung yang begitu besar, tempat diadakannya pesta yang Andika katakan. Gedung terlihat sangat ramai, kendaraan sudah berjejer rapi di sana. 


Di tengah pintu masuk ruang acara, Tia menatap ke segala arah, mencari seseorang yang mungkin ia kenal di sana. Nihil, bahkan satu dari sekian banyaknya orang belum ada ia kenal, kecuali Andika. Laki laki itu menggandeng tangan Tia, tersenyum lalu menuntun gadis itu untuk masuk ke sebuah ruangan ballroom yang sangat megah. Tia tertegun, matanya berbinar. Dekorasi yang sangat mewah menyambut para tamu, bunga yang bertebaran dimana mana terlihat sangat indah. 


Andika menatap Tia yang tak berkedip, pria itu tersenyum dan kembali melangkah bersama kekasihnya yang hanya diam dan tampak bingung. Tempat duduk yang sudah tertata rapi, dengan gelas bening yang memantulkan cahaya lampu, Tia benar benar takjub, ini adalah pesta termewah yang pernah ia hadiri. Para tamu menatap mereka, menyambut dengan senyum hangatnya.


Wah, sebenarnya siapa pemilik pesta ini? Kenapa juga Andika tidak memberitahu sih.


Para tamu yang datang terlihat jelas bahwa mereka pasti dari kalangan orang orang kaya. Tia menatap dirinya sendiri, untung saja Andika menyiapkan pakaian yang begitu cocok dan terlihat sangat mewah, meskipun riasan wajahnya tidak terlalu mewah, tapi ia merasa cukup nyaman meskipun para tamu terlihat sangat glamor dibanding dirinya.


Andika kembali menuntun Tia untuk duduk di sebuah kursi yang sudah di sediakan untuk mereka. Para tamu semakin ramai berdatangan, dan duduk di kursi yang kosong.


"Tia!"


Gita yang tiba tiba datang menghampiri kakak dan sahabatnya, Tia merasa bersyukur karena Gita juga hadir disana.


"Syukurlah kau disini." Tia tersenyum, menatap kakak beradik itu bergantian.


"Tentu saja, inikan pesta ulang tahun Mama,"


"Ulang tahun? Mama?"


Tia terkejut, menatap sinis pada kedua manusia di sampingnya. Ia bahkan tidak menyiapkan sesuatu sebagai kado ulang tahun. "Kenapa kalian tidak memberitahuku?" geramnya dengan suara yang tertahan karena tidak mau jika menjadi pusat perhatian orang orang. "Aku bahkan tidak menyiapkan kado untuk Mama," lanjutnya dengan begitu menyesal.


"Mama tidak butuh kado sayang. Yang terpenting kita hadir disini." Andika tersenyum sambil menggenggam tangan Tia.


"Aku Kan malu jika tidak memberikan kado."


"Kau tidak perlu malu Tia. Nikmati saja pestanya." Gita tertawa, menepuk punggung Tia beberapa kali.

__ADS_1


Acara ulang tahun sudah dimulai, para tamu sudah berkumpul, membentuk kelompok masing masing, membicarakan kesuksesan keluarga mereka. Isma maju kedepan, memberikan sambutan pada keluarga dan tamu yang sudah bersedia untuk datang. Gita dan papanya ikut maju ke depan, memberi pelukan hangat perempuan paruh baya itu. Kemudian Isma melambaikan tangannya ke arah Andika dan Tia, Andika tampak tersenyum dan beranjak dari duduknya, berbeda dengan Tia yang langsung menjadi gugup karena pandangan semua orang.


"Kemarilah!" panggil Rita sambil dengan senyum hangatnya. Tia masih belum beranjak, tangannya terasa dingin, ia beralih menatap Andika, pria itu mengangguk dan mengulurkan tangannya.


"Ayo!"


Tia tersenyum kaku, saat Andika mulai menggandeng tangannya, melewati para tamu yang masih merasa asing dengan wajah Tia. Isma langsung memeluk Tia saat gadis itu sudah berada di dekatnya, mengusap kepala Tia dengan begitu lembut.


"Dia adalah Tia, calon menantu keluarga kami."


Ruangan itu langsung riuh dengan suara tepuk tangan semua orang, ucapan selamat terus di terdengar dari mulut para tamu.


"Terima kasih untuk kalian semua." Isma kembali memeluk Tia, kali ini Gita juga sudah ikut bergabung di antara pelukan kedua manusia itu.


"Mama," ucap Tia lirih, dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Apa mereka akan segera menikah?"


"Tentu saja. Bukankah lebih cepat itu lebih baik." 


Ruangan kembali riuh dengan suara tepuk tangan yang terdengar dimana mana. Tia seakan tidak bisa mencerna dengan baik kalimat kekasihnya, saking gugupnya ia hanya menunduk dengan kebisuan tanpa berani menatap pada tamu yang sedang melihat ke arahnya.


Makan malam sudah berlangsung, semua orang mulai memilih menu makanan yang akan mereka santap, lalu berjalan ke arah meja makan, berkumpul dan kembali mengobrol, membicarakan hal hal remeh yang mengundang tawa dan senyum. Pelayan yang sudah ditugaskan terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Keluar masuk, menyiapkan hidangan yang kurang. 


Di meja yang lain, keluarga besar Andika juga sedang menikmati makan malamnya. Tia yang hanya diam sambil sesekali menyendokkan makanan ke mulut membuat yang lain tersenyum.


"Nak apa yang yang kau pikirkan?" Iskandar bertanya, membuat Tia mengangkat wajahnya dan menatap pada lelaki paruh baya itu. "Ada apa? Kenapa makanannya seperti tidak berkurang? Apa kau mau Andika menyuapimu?" pertanyaan menggoda yang membuat pipi Tia langsung merona, Gita yang mendengar sudah tertawa dengan mulut yang penuh makanan.


"Ti … tidak pa, aku bisa sendiri." Tia menjawab malu, dan langsung melanjutkan makannya. Namun kali ia ia lebih lahab, mungkin karena tidak mau jika Andika benar benar menyuapinya.

__ADS_1


Pesta yang berlangsung dengan sangat meriah sudah berakhir, satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan gedung tempat diadakannya pesta. Andika dan Tia pun sudah berada di dalam mobilnya, Andika yang sekarang membawa mobil sendiri karena Bimo yang mendadak ada urusan. Mereka mulai keluar dari area parkir, memecah keheningan malam ini. Tia masih diam, menyandarkan tubuhnya di samping kursi kemudi.


"Sayang, ada apa? Apa kau tidak senang?" Andika memecah keheningan, melirik sekilas ke arah Tia dan kembali fokus ke depan.


"Eh … hm … tidak. Aku bahkan sangat senang," ujar Tia begitu gugup. "Kenapa berhenti?" tanyanya dengan alis yang saling bertautan karena Andika yang tiba tiba menepikan mobilnya.


"Apa kau masih belum siap untuk menikah?" Andika terdengar begitu serius, menatap dalam pada bola mata Tia. "Aku tidak akan memaksamu, tapi aku melakukan ini karena ingin menjagamu, aku ingin menepati janjiku pada ayah." Terdengar helaan nafas yang berat di ujung kalimatnya.


"Maafkan aku." 


"Kau tidak salah sayang. Mungkin aku yang terlalu terburu buru." Andika menarik Tia kedalam pelukannya. Merasa menyesal dan gagal untuk mengerti perasaan kekasihnya.


"Apa kau bisa menunggu sampai tiga bulan kedepan?" tanya Tia begitu polos, membuat Andika tersenyum sumringah dan dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Aku akan menunggu sampai kau siap, meskipun rasanya aku sudah tidak sabar, tapi akan ku usahakan." Andika menggoda dengan nada memelas, membuat Tia memukul dadanya pelan.


"Ayo pulang! Kita pasti sudah ditunggu," ajak Tia yang mulai melepas pelukannya. Andika pun menyetujui dan kembali melajukan mobilnya menuju rumah utama milik keluarga Iskandar.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita tidur di apartemen saja malam ini?" tanya Andika dengan tersenyum nakal.


"Tidak! Kita pulang sekarang!"


Penolakan keras diberikan oleh Tia, membuat laki laki itu karena sebenarnya ia hanya menggoda dan ingin melihat reaksi kekasihnya. Ia sudah tahu bahwa Tia pasti akan menolak, dan dia pun masih laki laki normal yang pasti akan susah menahan hasratnya jika harus tidur bersama di apartemen.


Malam semakin larut, Tia yang sudah membersihkan diri di kamar mandi langsung merebahkan tubuhnya di samping Gita. Memikirkan keputusannya yang menyuruh Andika menunggu hingga tiga bulan kedepan. Sejujurnya ia masih belum bisa untuk terlalu berbahagia tanpa kehadiran orang tuanya. Tapi ia juga tidak mau membuat Andika kecewa. Ia tenggelam dalam lamunannya, hingga akhirnya masuk kedalam dunia mimpi.


Gita yang berada di sampingnya pun sudah ikut terlelap, jika biasanya mereka sering mengobrol receh dulu sebelum tidur, malam ini mereka membuat keheningan sebagai pengantar tidur masing masing. Selang tidak lama, suara dengkuran sudah terdengar dari kedua perempuan yang berada di bawah selimut.


Jangan lupa untuk selalu tekan tombol like🤗Terima kasih😌💙🙏

__ADS_1


 


__ADS_2