
Setelah lebih tiga jam di dalam ruang pertemuan. Andika sudah beranjak keluar dari ruangan itu, disusul oleh Bimo dan yang lain pun ikut beranjak.
Beberapa petinggi perusahaan baru bisa bernafas lega setelah menyampaikan laporan dari kantor cabang masing masing.
Andika dengan Bimo sang sekretaris sudah berjalan menuju area parkir. Membukakan pintu mobil untuk majikannya dan segera kembali ke kantor pusat.
~
"Gita kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Tia bingung saat menyadari bahwa sekarang ia berada di area kantor kekasihnya.
"Aku kan hanya mengajakmu makan, kenapa protes," tutur Gita tak mau kalah. Ia sudah melangkah mendekat ke arah cafe milik keluarganya yang berada di kantor itu.
Tia pun tidak lagi membantah, ia mempercepat langkahnya untuk mengusul Gita yang semakin menjauh dari tempatnya.
Mereka memilih tempat duduk di samping danau kecil yang terletak di samping cafe. Menikmati makanan sambil menatap pemandangan yang indah, membuat selera makan semakin meningkat.
Pelayan sudah meletakkan dua piring makanan di meja bundar yang berada di hadapan gadis itu. Tanpa menunggu lama, Tia langsung menyantap makanannya karena cacing di perutnya sudah tidak bisa diajak bernegosiasi.
"Tia," ucap Gita pelan, dengan mulut yang terus mengunyah
"Hem," jawab Tia tanpa melihat ke arahnya.
"Aku kesepian di rumah, apa kau mau menemaniku?" tanyanya serius, membuat Tia menatapnya dengan kedua alis yang saling bertautan. "Kan mama sedang di Amerika, Dika juga tidak pulang ke rumah," lanjutnya menjelaskan.
"Aku tau, tapi … ayah ku pasti tidak mengizinkan," tutur Tia sambil tersenyum kecut.
"Biar aku yang meminta izin." Menjawab seantusias mungkin
"Gita, ayah tidak akan mengizinkan, dia kan tahu hubunganku dengan kakakmu." Tia menjelaskan, tidak ingin jika sahabatnya kecewa karena berharap.
"Kan tidak ada salahnya mencoba." Masih antusias dengan mulut yang kembali mengunyah.
"Terserah kau saja, tapi persiapkan dirimu untuk kecewa." Tia kembali memperingati namun dengan bibir yang sudah tersenyum.
Gita tidak lagi menghiraukan ucapan Tia. Mereka kembali melanjutkan santapan makanannya.
Tia menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap danau yang terlihat sangat tenang, bibirnya melengkung sempurna, sesekali mengelus perut karena merasa kekenyangan.
~
__ADS_1
"Tuan, bukannya itu mobil Nona Gita, apa dia ada di dalam," tutur Bimo sambil terus memperhatikan mobil di depannya. Andika pun ikut melihat mobil yang di maksud. Dan benar saja, itu adalah mobil adiknya.
"Mungkin dia menungguku." Andika sudah berjalan mendahului Bimo. Tiba tiba langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sedang menatap danau dari balik jendela kaca.
Mereka di sana rupanya, pintar juga Gita membawa calon kakak iparnya kemari. Batinnya di ikuti bibir yang sudah melengkung. Ia memutar langkahnya menuju cafe. Sedangkan Bimo, ia masih menatap bingung pada majikannya.
Apa Anda ingin makan lagi Tuan? Kita kan sudah makan siang tadi. Ah, sudahlah, ikuti saja, aku kan hanya kanting kresek yang tidak memiliki kekuatan untuk membantah. Bimo berhenti dari perdebatan hatinya. Ia melangkah cepat menyusul majikannya yang sudah memasuki cafe.
"Sayang …," panggilnya saat berada tepat di samping dua gadis yang masih menatap danau.
Mereka terpenjak lalu segera melihat ke arah suara, memastikan siapa yang telah mengganggu lamunannya.
"Eh, aku kira siapa," ujar Gita santai. Berbeda dengan Tia, ia langsung beranjak dari duduknya saat melihat keberadaan tiba tiba kekasihnya.
"Andika, kenapa kau disini?" bertanya tanpa sadar sambil menatap bingung kekasihnya.
"Sayang, ada apa dengan matamu?" bukannya menjawab, Andika malah balik bertanya menatap mata Tia yang terlihat sembab karena tidur.
Gita menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat kedua manusia yang terus berdiri di hadapannya.
Beberapa karyawan yang juga berada disana terus memperhatikan sepasang kekasih itu.
"Ayo, kita keruangan ku saja," ajaknya langsung menarik tangan Tia.
"Kak, aku kemari untuk makan, bukan untuk mengunjungimu." Gita mencegah langkah Tia.
"Memangnya kalian akan kemana? Sayang apa kau mau pergi?" tanyanya pada Tia, gadis yang di tanya malah menggelengkan kepala, membuat Gita menghela nafasnya karena kesal.
"Tapi kan, tadi aku mau mengajakmu menemaniku membeli buku, karena kau lapar, jadi kita makan dulu." Gita menjelaskan, memberi alasan agar kakaknya membiarkan Tia untuk pergi.
"Bimo, temani Gita ke toko buku."
"Baik Tuan."
Gita langsung beranjak dari duduknya, tidak terima jika harus Bimo yang mengantarnya.
"Gita.!" sudah terdengar serius, yang awalnya ingin protes hanya memanyunkan bibirnya dan langsung berlalu melewati Bimo.
"Bagaimana kalau aku temani Gita dulu, nanti kami kemari lagi." Tia jadi tidak enak melihat Gita karena haru pergi dengan Bimo.
__ADS_1
"Sudah, biarkan saja," imbuh Andika. "Bim, cepat susul," sambungnya pada Bimo.
"Baik Tuan."
Setelah Bimo sudah ikut menyusul Gita, Andika langsung mengambil tas Tia yang berada di atas meja lalu menarik tangan kekasihnya untuk ikut.
Tia hanya mengikuti, berusaha mensejajarkan langkah besar Andika yang terus menggenggam tangannya. Beberapa karyawan terlihat sedang memperhatikan mereka, hingga mereka memasuki lift khusus pemilik perusahaan.
Pintu lift kembali terbuka, mereka kembali berjalan dan memasuki sebuah ruang kerja yang luas milik Andika.
"Sayang, kenapa matamu?" mengulangi pertanyaan yang belum mendapat jawaban. Mereka sudah duduk di sofa. Tia mengedarkan pandangannya menatap ke segala arah.
"Tadi aku tidur Butik," jawabnya singkat tanpa menatap Andika.
"Hem … tunggu disini sebentar," kata Andika yang sudah beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekat ke meja kerjanya. Mengambil telepon yang berada di meja lalu berbicara singkat dengan seseorang.
"Ada apa?" tanya Tia bingung.
"Tidak, kemarilah.!" duduk di sofa kembali, dan sekarang ia menarik Tia hingga gadis itu bersandar di dadanya.
Jarak yang begitu dengan membuat Tia kesusahan mengatur nafasnya. Andika memegangi dagunya, mengangkat wajah Tia hingga menatap wajahnya. Gadis itu merona, detak jantungnya sudah tak terkondisikan. Perasaan malu dan takut membuat ia langsung memejamkan matanya.
Ciuman singkat sudah mendarat di bibirnya. Mencium seluruh wajah Tia lagi, lagi, dan lagi. Yang dicium malah membuang pandangannya karena malu.
Tok … tok … tok, suara ketukan dari balik pintu a.
Andika kembali mengecup singkat bibir kekasihnya lalu segera beranjak untuk melihat siapa pengganggu yang datang.
Seorang staf sudah berdiri membawa nampan berisi jus dan cemilan, Andika menyuruhnya masuk lalu meletakkan makanan itu di hadapan Tia.
Setelah meletakkan makanan, staf itu kembali meninggalkan ruangan majikannya untuk melanjutkan pekerjaan.
Andika segera menutup pintu ruangannya, berjalan lalu meletakkan jas di kursi kerjanya dan kembali menghampiri Tia yang masih setia di sofa dan terlihat sesekali meneguk jus di hadapannya.
Jangan lupa vote, like, dan komen🤗
Di like dulu baru komen, soalnya ada yang komen tapi nggak like, kan ketahuan🤭 kalian kan enak tinggal baca, pengarang itu nggak gampang😕.
Terima kasih😘💙🙏
__ADS_1