Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 35


__ADS_3

Setelah mematikan sambungan teleponnya, Tia meletakkan kembali benda pipih itu di atas meja.


Selang beberapa menit, ada seseorang yang membuka pintu, dan disusul beberapa pelayan yang membawa nampan dengan berbagai jenis makanan di atasnya.


Tia terkejut menatap semua makanan yang sudah di letakkan di atas meja, pandangannya kemudian mengarah kepada lelaki yang tampak sangat santai.


"Siapa yang akan menghabiskan semua ini?" tanya Tia yang kembali menatap kearah meja, yang sudah dipenuhi makanan.


"Tentu saja, kau sayang," ujar Andika dengan tersenyum kearah kekasihnya.


"Lanjutkan pekerjaan kalian," lanjutnya kepada beberapa pelayan yang masih berada di ruangan itu.


"Baik Tuan." Pelayan itu berseru sambil membungkukkan sedikit tubuhnya, dan berlalu meninggalkan sepasang kekasih itu.


"Ayo makan, bukankah kau mengatakan bahwa sudah sangat lapar," tutur Andika sambil menyendok kan beberapa makanan ke dalam piring.


"Hm …." Tia tidak tahu mau mengatakan apa, dan kemudian ikut mengambil makanan lalu meletakkannya ke dalam piring.


"Berikan padaku," pinta Andika dengan tangan terulur.


"Apa?" tanyanya bingung


"Makanan ini sayang, berikan padaku," jelasnya yang langsung mengambil alih piring yang berada di tangan Tia.


"Lalu aku?" tanya Tia saat piring di tangannya sudah berpindah ke tangan kekasihnya.


"Ini untuk mu," balasnya sambil meletakkan piring yang sudah berisi makanan di hadapan Tia.


"Kau harus terbiasa seperti ini, aku yang mengambilkan mu makanan, dan kau yang mengambilkan untukku," tuturnya membuat bibir Tia melengkung sempurna.


"Buka mulutmu sayang," pintanya dan Tia menurut lalu membuka mulutnya, lalu ia mengunyah makanan yang diberikan kekasihnya.


"Apa kau ingin menggunakan sendok itu juga." Tia berseru dengan cepat saat melihat Andika ingin menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Tentu saja, kita bahkan sudah bertukar air liur sebelumnya," ujar Andika begitu santai tapi berbeda dengan Tia yang terlihat begitu malu dengan ucapan lelaki itu.


"Eh … ka … ah, sudahlah, ayo makan." Tia mengalihkan pembicaraan dan langsung menyantap makanan yang sudah diberikan Andika.


Andika mengulum bibirnya agar tidak tertawa, ia merasa berhasil karena sudah menggoda kekasihnya.


~


"Ah … ini sungguh lezat," kata Tia sambil bersandar di kursi. Ia merasa sangat kenyang dengan semua makanan itu.


Ujung bibir Andika terlihat melengkung, ia terus mengamati tingkah yang menurutnya sangat menggemaskan dari Tia.


"Ayo pulang." Tia kembali bersuara setelah tadi terdiam beberapa saat.


"Apa perut mu sudah nyaman?" tanya Andika karna sedari tadi melihat Tia mengelus perutnya.


"Tentu saja, aku hanya terlalu banyak makan," sahut Tia tersenyum dengan segera beranjak dari duduknya.


Kedua manusia itu akhirnya meningglakan ruangan yang tadi mereka tempati makan malam. 


Andika kembali menggandeng tangan Tia, sambil terus berjalan. 


"Kita mau kemana? Sepertinya tadi kita tidak lewat sini," tutur Tia bingung.


"Yang tadi itu jalan rahasia sayang." Andika berucap dengan senyum yang terus mengembang. Tia pun hanya walau dia tak terlalu mengerti.


~


"Selamat malam Tuan dan Nona," sapa lelaki paruh baya dengan pakaian yang begitu rapih.


"Ternyata banyak orang disini, aku kira hanya aku dan Andika." Tia berucap dalam hati sambil mengamati semua sisih ruangan.


"Apa Bimo sudah memberitahumu?" tanya Andika pada lelaki itu.

__ADS_1


"Sudah Tuan, besok saya akan kembali melaporkan pada Bimo," jawab lelaki paruh baya itu.


Andika tidak kembali bertanya, ia kembali melanjutkan langkahnya, sambil berlalu bersama Tia meninggalkan lelaki itu.


~


Andika kembali melajukan mobil sport miliknya membelah jalanan kota, ia segera mengantar kekasihnya pulang sebelum jam yang sudah di tentukan Gunawan.


Tia menyandarkan tubuhnya di kursi samping kemudia. Ia terlihat menguap beberapa kali karna sudah mengantuk.


"Tidur saja dulu, aku akan membangunkan mu saat sudah sampai." Andika berucap dengan tersenyum sambil melirik ke arah kekasihnya.


Tia hanya mengangguk pelan dan langsung memejamkan matanya yang sudah sangat berat. Baru beberapa saat, suara dengkurang kecil sudah terdengar di telinga Andika, ia kembali melirik ke arah Tia dan gadis itu betul betul sudah terlelap.


~


"Dika … ada apa dengannya?" tanya Rita panik saat melihat tubuh putrinya yang berada di gendongan Andika.


"Dia hanya tertidur Buk," ujar Andika tersenyum melihat wajah panik dari wanita baruh baya itu.


"Astaga … ya sudah, baringkan di situ saja Nak." Rita bernafas lega saat mengetahui bahwa putrinya hanya tertidur.


"Kalo begitu, aku pamit dulu Buk," ujar Andika sambil mencium punggung tangan Rita.


"Baiklah, hati hati di jalan." Rita mengingatkan sambi ikut berjalan ke arh pintu keluar.


"Dimana Ayah?" tanya Andika kembali


"Dia sedang keluar," jawab Rita tersenyum


"Baiklah, sampaikan salamku padanya Buk, tolong beritahu bahwa aku tak melanggar janji," tutur Andika begitu serius.


Rita langsung tertawa kemudian mengangguk pelan ke arah lelaki itu. Ia senang dengan sikap ramah kekasih putrinya itu.


Andika pun segera berlalu menuju apartemennya agar bisa beristirahat.


Malam pun berganti siang, matahari kembali menampakkan sinarnya, memberi kehangatan pada orang orang yang menikmatinya.


Rita sudah selesai menata makanan di atas meja, ia memanggil suaminya kemudian berlalu untuk memanggil putrinya agar bisa sarapan bersama.


Tok … tok … tok


Suara ketukan di balik pintu terus terdengar, namun Tia belum juga bangkit dari tempat tidurnya. Rita segera masuk karena tidak mendapat jawaban dari dalam.


"Tia … bangun sayang, ayo sarapan dulu." Rita berseru sambil membelai puncak kepala putrinya.


"Hm … Ibu," gumam Tia masih setengah sadar


"Bangunlah, mari sarapan dulu," kata Rita tersenyum


Tia pun mengucek matanya beberapa kali, lalu segera duduk di tepi tempat tidurnya. Ia kembali mengumpulkan nafasnya sebelum beranjak ke Wc


"Ibu tunggu di meja makan ya," ucap Rita sebelum kembali berlalu dari kamar Tia.


"Baik Buk," balas Tia tersenyum, dan kembali melanjutkan langkahnya.


~


Di tempat lain, seorang pria pun sedang bersiap untuk melakukan aktivitasnya, mengenakan setelan jas berwarna abu abu yang di padukan dengan kemeja putih, itu terlihat sangat cocok di tubuh atletisnya.


Andika sudah siap dengan pakaiannya, ia kemudian menyisir rambutnya agar terlihat rapi. 


Setelah selesai, ia langsung bergegas meninggalkan kamarnya, dan berlalu menuju area parkir gedung itu.


"Selamat pagi Tuan." pelayan wanita tersenyum dan menyapanya, ia hanya mengangguk dan terus melanjutkan langkahnya. 


"Bim, apa kau sudah lama?" tanyanya saat melihat Bimo di sisi mobilnya.

__ADS_1


"Tidak Tuan, silahkan masuk," ucap Bimo yang langsung membuka pintu untuk Bosnya, Andika pun langsung masuk dan duduk di belakang kemudi.


~


"Ayah berangkat dulu," ujar Gunawan kepada Istri dan anaknya.


"Hati hati di jalan, ini makan siangnya jangan lupa dimakan," tutur Rita sambil memberi kotak makanan kepada suaminya. 


"Bukankah kotak makanan ini milik Tia?" tanya Gunawan saat melihat kotak makanan berwarna pink yang diberikan Istrinya.


"Tidak apa apa Ayah, aku bisa membeli makan siang diluar," timpal Tia dengan senyum mengembang.


"Ini sudah benar benar seperti anak kecil," tutur Gunawan sambil menatap ke arah benda berwarna pink di tangannya.


"Ya sudah, Ayah pergi dulu," pungkasnya yang menyadari bahwa hari sudah semakin siang.


Rita dan Tia mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu, sebelum ia benar benar beranjak.


~


Drrttt … drrrttt


Suara dering ponsel yang masih berada di atas nakas terus saja meronta dan meminta di perhatikan.


Tia yang baru selesai mengantar Ayahnya sampai ke depan pun segera kembali ke dalam kamar, ia ingin melihat siapa orang yang telah meneleponnya di pagi ini.


"Hans." Tia bergumam saat melihat nama di layar benda pipih miliknya.


"Tia, kau dimana?" tanya suara di seberang telepon.


"Aku masih di rumah Hans, ada apa?" tanya Tia, karena tidak biasanya lelaki itu menelepon.


"Aku hanya merindukanmu, apa aku boleh mampir ke Butik mu?" tanya Hans kembali.


"Eh … tentu saja boleh," ujar Tia sambil mengenakan sepatu sneakersnya karena ingin segera berangkat ke Butik.


"Kau memang terbaik, ok sampai bertemu," tutur Hans dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Tia hanya tersenyum mendengar ucapan lelaki itu. Ia pun segera beranjak dari kamarnya dan menghampiri Rita untuk segera pamit.


Drrttt … drrtttt


Ponsel Tia pun kembali berdering, ia kemudian merogoh tas ranselnya untuk memastikan siapa lagi yang telah meneleponnya.


"Halo Git," ujarnya yang sudah meletakkan benda kecil itu di samping telinga.


"Ya, baiklah, aku segera sampai," lanjutnya dengan begitu tergesa gesa dan segera mencari keberadaan Ibunya.


"Tia, ada apa?" tanya Rita bingung


"Ah … Ibu, kau mengagetkanku." Tia tersentak dan langsung mengelus dadanya sendiri. "Ibu, aku berangkat dulu," lanjutnya mencium punggung tangan Rita dan berlalu meninggalkan wanita paruh baya yang masih menatapnya bingung.


"Hati hati Tia," ucap Rita sedikit berteriak karena putrinya yang sudah berada di ambang pintu keluar.


~


Andika terlihat begitu sibuk hari ini, tumpukan berkas masih setia di atas meja kerjanya, tatapannya terus fokus ke arah layar Ipad yang ia pegang.


"Bim, ada berapa jadwal pertemuan hari ini?" tanyanya pada Bimo yang sedang duduk di hadapannya. 


"Empat jadwal Tuan," jawab Bimo dan lelaki di hadapannya terlihat tidak senang dengan pernyataan itu.


"Kenapa begitu banyak," imbuhnya membuat Bimo mengerutkan dahi.


"Jadwalnya sudah diatur dari minggu lalu Tuan," tutur Bimo mengingatkan. Andika terlihat menghela nafas lalu membuangnya kasar. Hari ini betul betul sibuk, dan membuatnya tak bisa berkunjung dengan cepat ke Butik kekasihnya.


"Menyebalkan," gumamnya dengan tatapan yang beralih pada tumpukan berkas di hadapannya.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan coment kak☺


Terima kasih, salam hangat untuk kalian semua🤗💙🙏


__ADS_2