
Setelah melihat dan mengelus sebentar pelipis Tia, Andika akhirnya menyadari jarak mereka yang begitu dekat. Dengan posisi Andika yang harus menunduk karna tubuh Tia yang lebih pendek di bandingkan tubuh nya yang seperti atlet itu. Saat pandangan mereka kembali bertemu Tia sudah tidak bisa mengatur nafas nya dengan benar melihat wajah lelaki yang begitu tampan dan hanya berjarak beberapa senti dari wajah nya.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Andika langsung membuyarkan lamunan wanita itu.
"Hmm....Ya ini sudah jauh lebih baik," ucap Tia sedikit gugup.
"Baiklah, apa kau sudah selesai makan?" tanya nya lagi
"Tidak, aku hanya membeli makan siang dan akan makan di butik," katanya menjelaskan, "aku duluan," pamit nya sembari meninggalkan Andika yang masih terus menatap punggung wanita itu.
~
Andika kemudian duduk di salah satu meja dan memanggil pelayan untuk segera memesan makan siang.
Setelah membayar semua makanan nya Tia langsung berfikir dan memutar otak nya karna seperti ada yang kurang. "Shit . . Aku bahkan hampir melupakan tujuan ku ke sini," umpat nya setelah menyadari bahwa kantong makanan nya masih ia letakkan di salah satu meja di restoran itu.
Ia kemudian mengatur kembali nafas nya dan melangkah mendekat ke meja yang sedang di tempati Andika yang juga berdekatan dengan meja tempatnya meletakkan makanan tadi.
"Apa ada yang ketinggalan?" tanya Andika saat melihat Tia kembali mendekat ke arah nya.
"Hmmm iya, tadi aku meletakkan makanan ku di sana," kata nya sambil menunjuk meja yang penuh dengan kantong makanan.
"Oh . . " balas Andika singkat, dan kemudian pelayan datang meletakkan makanan di mejanya.
Tia kemudian segera berjalan mengambil makanan nya dan kembali melangkah kan kaki nya untuk segera keluar dari restoran itu.
"Huuh ... kenapa kau tidak bisa tenang," gumam nya yang kembali mengelus elus dada nya.
Ia kemudian menuju parkiran dan segera melajukan motor nya untuk kembali ke butik karna ia sudah cukup lama meninggalkan butik dan pasti karyawan dan Ibu nya sudah menunggu.
~
__ADS_1
Sedangkan Andika masih terus menikmati makanan nya dan sesekali mengingat kejadian yang baru saja ia alami.
"Apa tubuhnya seringan itu sampai harus terhempas begitu kuat tadi," gumam Andika sambil sedikit tersenyum mengingat tubuh Tia yang langsung terdorong saat menabrak tubuh gagah milik nya.
Dan setelah selesai makan siang ia kembali memanggil pelayan untuk membayar makanan yang sudah ia makan. Kemudian ia keluar dari restoran itu untuk menuju parkiran dan segera melajukan motor nya kembali ke kantor.
~
Akhirnya setelah beberapa menit melewati jalan yang tidak terlalu macet, Tia pun sudah sampai di depan butik nya, sebelum masuk ia kembali memarkirkan motor nya di samping butik milik nya.
"Aku kembali," sahut nya pada semua orang. Dan mereka tersenyum kearah Tia karna melihat tangan gadis itu yang di penuhi kantong plastik berisi makanan.
"Kenapa begitu lama?" tanya Rita yang langsung menghampiri Tia dan mengambil alih makanan itu untuk ia letakkan di meja.
"Restoran nya begitu ramai Buk," balas Tia pada Ibunya. "Ayo makan dulu aku sudah begitu lapar," ajak nya pada semua orang. Dan mereka semua pun memulai makan siang nya bersama-sama.
Ketika mereka selesai dengan acara makan siang nya, Ulan dan Fina kembali melanjutkan pekerjaan nya, Fina naik ke lantai dua untuk mengemasi barang yang sudah terkeep dan akan segera di kirim ke pemilik nya. Sedangkan Ulan tetap di lantai utama untuk melayani beberapa pembeli sambil memeriksa barang apa yang akan di pesan kembali.
Sedangkan Tia dan Rita masih betah duduk di sofa setelah membereskan sedikit sisa makanan nya.
"Kemarin nelfon, katanya akhir pekan ini dia gak bisa datang ke sini," kata Rita menjelaskan.
"Emang kamu rindu?" lanjutnya sambil tersenyum ke arah Tia. Tia pun hanya cemberut melihat senyum menggoda Ibu nya, ia memang sangat dekat dengan Kakak nya, dan ini sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu.
"Kalo Mas Diki gimana Buk?" lanjut nya bertanya pada Rita. "Mas mu juga gk bisa datang, kamu kan tau istrinya hamil muda, katanya gk bisa naik mobil jauh jauh," ucap Rita kembali menjelaskan
"Padahal mereka sudah berjanji akan datang akhir pekan ini," sahut Tia kecewa karna Kedua Kakak nya tidak bisa datang, padahal ia sudah berencana akan mengajak keluarga nya untuk makan bersama di restoran dan ingin bersenang senang, tapi kedua kakak nya bahkan mengingkari janji.
"Jangan sedih sayang, pasti nanti mereka akan datang, tapi bukan akhir pekan ini," bujuk Rita pada anak nya sambil mengelus elus puncak kepala Tia. Dan Tia hanya mengangguk pelan mendengar kan Ibunya.
"Ayo Buk," ajak nya yang langsung bangun dari duduk, kemudian menarik tangan Ibu nya pelan.
__ADS_1
"Udah gak marah," sahut Rita menggoda putrinya. "Emang gk marah Buk, cuman kecewa aja," kata nya dengan nada memelas sambil terus menggandeng tangan Rita menaiki anak tangga. Rita pun tertawa mendengar ucapan Tia barusan. Tapi ia langsung melipat bibirnya saat melihat Tia menghentikan langkah nya dan memasang muka masam ke arah Rita.
~
Sedangkan di tempat lain Andika sudah kembali ke kantor nya dan sedang melakukan meeting bersama beberapa karyawan lain nya.
"Selamat datang Nona, apa ada yang bisa saya bantu," ucap seorang perempuan yang berprofesi sebagai sekretaris itu menyapa anak gadis sang pemilik perusahaan.
"Hmm dimana Andika? Kenapa dia tidak ada di ruangan nya?" tanya Gita pada sekretaria itu.
"Tuan Andika sedang rapat dengan beberapa karyawan Nona, mungkin tiga puluh menit lagi akan selesai," ucap nya menjelaskan.
"Baiklah, aku akan menunggu di ruangan nya saja" kata nya dan ingin segera pergi ke ruang kerja Kakak nya.
"Apa Nona menginginkan sesuatu?" tanya kembali perempuan itu. Gita kembali berfikir sejenak mendengar tawaran Ana sebelum kembali berbicara.
"Hmm ku rasa se gelas jus dan cemilan, akan membuat ku betah untuk menunggu Ana," sahut nya sedikit tertawa, "baik Nona, Tapi emm dari mana Nona mengetahui nama ku," ucap nya merasa tidak enak tapi juga penasaran.
Seketika Gita langsung meledakkan tawa nya mendengar ucapan polos sekretaris itu
"Pertanyaan mu begitu polos," kata Gita di sela sela tawa nya sambil mengarahkan pandangan ke arah papan nama yang menempel di baju Ana.
"Oh astaga, maaf kan saya Nona, saya permisi dulu," ucap nya sambil mengutuki kebodohan nya sendiri, dan langsung bergegas meninggalkan Gita yang masih tertawa.
~
Setelah Ana berlalu, Gita kemudian kembali menuju ke ruangan Kakak nya. Dan tidak lama kemudian Ana sudah datang membawa nampan yang berisi jus dan beberapa cemilan, sambil terus tersenyum ke arah Gita
"Silahkan Nona," ucap Ana mempersilahkan
"Terima kasih, kau bisa lanjutkan pekerjaan mu," ucap nya dan Ana hanya mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Gita.
__ADS_1
Jangan lupa vote , like dan coment🤗
terima kasih semuanya😇💙🙏