
"Sayang, kenapa kau berpikir terlalu pendek, semua kan belum berakhir, jangan menyerah seperti ini." Akhirnya mengeluarkan juga kata kata yang sudah ingin keluar sedari tadi.
Andika kembali terdiam, memikirkan semua ucapan gadis itu. Tia menggenggam tangannya, memberi semangat pada lelaki itu. Setelah beberapa saat, Andika tersenyum. Menarik Tia kembali kedalam dekapannya. Tia tidak menolak, ia mengeratkan pelukannya sambil mengelus beberapa kali punggung Andika.
"Eh, apa kau belum makan?" tanyanya dengan bibir yang melengkung sempurna, Andika mengangguk pelan sambil memegangi perutnya.
Karena masalah di kantornya, ia sampai tidak makan siang, dan langsung datang ke Butik tadi.
"Kenapa bertingkah bodoh huh," hardiknya dan terlihat sibuk dengan benda pipihnya.
"Kita makan di luar saja," ajak Andika. Ia menghentikan tangan gadis itu dari aktivitasnya.
"Hem … baiklah," ujar Tia tersenyum. Mereka pun segera meninggalkan ruangan itu. Mereka berjalan beriringan, Andika menggenggam jari jemari kecil Tia sepanjang menuruni tangga. Gadis itu terus tersenyum secerah mentari, membuat karyawan dan beberapa pelanggan yang melihat ikut tersenyum.
Tia memberitahu karyawannya terlebih dahulu bahwa ia ingin keluar. Setelah itu ia kembali menyusul Andika yang sudah menunggunya di sisi mobilnya.
"Silahkan masuk Nona," ujar Andika menggoda sambil membuka pintu untuk kekasihnya. Membuat Tia berdelik kemudian tersenyum dan segera masuk.
Sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol. Andika meminta Tia untuk merahasiakan masalah perusahaan ini dari keluarga mereka. Tia pun hanya mengangguk menyetujui.
Mobil memasuki area parkir sebuah restoran mewah. Mereka berdua sudah turun dari mobil. Andika menggenggam erat tangan gadis itu dan berjalan beriringan.
~
Mereka memilih menu makanan masing masing. Setelah selesai, pelayan kembali meninggalkan sepasang kekasih itu.
"Sayang," ucap Andika dengan terus menatap gadis dihadapannya
"Hem."
"Aku ingin mengajakmu mengunjungi papa dan mama."
"Apa!" berteriak kaget, namun dengan cepat menutup mulutnya sendiri.
"Kenapa?" tanya Andika bingung.
"Ah ... tidak," sahutnya dengan tersenyum malu. Entah kenapa ia begitu terkejut dengan kalimat sederhana Andika tadi.
__ADS_1
Terlihat pelayan mendekat ke arah mereka dengan membawa nampan yang berisi makanan. Pelayan itu meletakkannya di atas meja dengan sangat hati hati sambil tersenyum ramah pada pelanggannya.
"Dimana bosmu?" bertanya dengan begitu santai, membuat pelayan itu menatapnya karena tidak sadar bahwa pertanyaan itu untuknya. "Doni, dimana dia?" Andika memperjelas karena melihat wajah bingung pelayan itu.
"Oh, Mas Doni, dia ada diatas Tuan," jawanya sambil menunjuk ke arah tangga. "Apa mau saya panggilkan Tuan?" kembali bertanya dengan sopan.
"Tidak!" Andika menjawab secepat kilat. Membuat Tia dan pelayan yang masih berada disana menatapnya bingung.
Dia akan menjadi serangga pengganggu disini. Batin Andika.
"Sayang ada apa?" tanya Tia.
"Tidak sayang, makanlah!"
Melihat sedikit adegan seperti itu, membuat pelayan yang tadi langsung meninggalkan mereka. Seperti tahu bahwa keberadaanya sudah tidak diinginkan disana.
Mereka menikmati makanan di hadapannya. Meskipun Tia sudah makan siang, tapi ia terlihat lahap mengalahkan Andika yang memang belum makan siang sama sekali.
~
Doni terus tersenyum sepanjang menuruni anak tangga. Sesekali menatap ke arah orang orang yang sedang berkunjung dan menikmati makanan di restoran miliknya.
Pandangannya terhenti saat melihat seorang gadis bersama pria yang sedang makan siang. Ia menarik tangan gadis yang bersamanya sedari tadi, berjalan menghampiri kedua manusia yang belum menyadari kedatangannya.
"Hei bro," sapanya sambil menepuk punggung Andika, membuat lelaki itu tersentak dan terbatuk beberapa kali.
Tia segera mengambil gelas yang berisi air putih dan memberikannya pada Andika. Lelaki itu langsung minum hingga habis. Kemudian menoleh ke arah belakang untuk memastikan siapa orang kurang ajar yang telah mengagetkannya.
"Dasar sialan!" Andika mengumpat kesal saat melihat Doni sedang berdiri sambil menahan diri untuk tidak tertawan.
"Kau disini rupanya," tutur Doni tanpa rasa bersalah. Andika menatapnya jengah, tapi seketika ia tersenyum saat melihat gadis yang bersama lelaki itu.
Tia mempersilahkan Doni dan Chika untuk ikut bergabung bersama mereka. Kedua orang itu pun dengan senang hati mengambil posisi duduknya masing masing. Chika terlihat begitu santai mengobrol dengan Andika dan Doni. Namun Tia tidak peduli karena sepertinya sekarang gadis itu cukup dekat dengan Doni.
Sepertinya nona cantik ini cukup tahu diri dan tidak lagi mengharapkan kekasihku. Batin Tia, ia masih memperlihatkan senyumnya dengan pikiran yang terus menerka nerka.
Mereka terus mengobrol, meskipun Tia sedikit canggung karena orang orang itu sedang membicarakan tentang masa masa sekolah mereka dan membuat Tia tidak tahu menanggapinya seperti apa.
__ADS_1
Ternyata gadis ini juga teman sekolah mereka berdua, pantas saja mereka terlihat dekat. Tia kembali berucap dalam hati, sambil menyimak semua pembicaraan manusia di depannya.
Doni tak henti hentinya bercerita, membicarakan hubungannya dengan Chika tanpa malu. Yang mendengar malah tertawa karena sikap terlalu percaya diri dari laki laki itu.
"Kalau gita kami duluan ya Dik, nikmatilah waktu kalian," imbuh Chika, dengan tersenyum.
Andika hanya menjawab dengan anggukan kepala. Setelah itu, Doni dan Chika beranjak meninggalkan mereka berdua.
"Sayang, gadis itu yang pernah memelukmu di kantor kan?" tanya Tia setelah melihat kedua manusia tadi sudah jauh dari mereka.
"Hem …." Andika hanya menjawab sekenanya. Tidak tertarik dengan pertanyaan Tia. Membuat gadis itu cemberut dengan alis yang saling bertautan.
"Sayang, kau mau kemana setelah ini?" Andika bertanya sambil menyendokkan buah yang ada di meja ke dalam mulutnya.
"Oh iya, ayah dan ibu kan mau mengunjungi Mas Diki akhir pekan ini. Bagaimana kalau kita membelikan mereka hadiah," usul Tia dengan wajah antusias.
"Baiklah, apa kita pergi sekarang saja," tawar Andika dengan bibir yang melengkung. Tanpa banyak bicara, Tia langsung mengambil tasnya yang berada atas meja dan segera beranjak dari duduk, membuat Andika ikut beranjak lalu mereka berjalan menuju area parkir.
~
Mobil sudah melaju meninggalkan halaman restoran, sekarang mereka menuju mall untuk membelikan hadiah yang akan diberikan kepada keponakannya.
"Sayang, bagaimana kalau kita ikut mengunjungi mereka akhir pekan nanti." Andika memberi ide, terlihat bersemangat dengan ucapannya.
"Aku juga maunya seperti itu, tapi ayah tidak mengizinkan."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu, ayah melarangku ikut, dan aku tidak lagi bertanya alasannya," lirih Tia berucap. Ia pun sangat rindu dengan kakak laki lakinya, tapi entah kenapa ayahnya melarang ia untuk ikut berkunjung.
"Ya sudah, tidak apa apa, kita bisa berkunjung di akhir pekan selanjutnya, aku yang akan meminta izin pada ayah," ujar Andika begitu serius, berusaha menghibur kekasihnya yang sudah cemberut.
"Benarkah?" bertanya dengan sangat antusias. Andika mengangguk meyakinkan, membuat bibir gadis itu kembali melengkung dengan sempurna.
Jangan lupa vote, like, dan komen kak🤗
Terima kasih😌💙🙏
__ADS_1