Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 70


__ADS_3

Kedatangannya ke Butik setelah beberapa minggu membuat karyawannya menyambut dengan hangat dan riang, menggandeng tangan Tia kiri dan kanan, menarik perempuan itu untuk segera masuk kedalam.


Mereka terus menceritakan kesunyian yang terjadi saat Tia tidak ada, mengeluh karena tidak ada yang membuat mereka tertawa. Tia hanya menanggapinya dengan tersenyum, menjadi pendengar yang baik untuk saat ini.


Beberapa customer langganan yang melihat kedatangan Tia ikut menghampiri para gadis yang sedang mengobrol di sofa.


"Mbak Tia yang tabah ya!"


"Jangan berlarut dalam kesedihan, Tuhan lebih menyayangi mereka."


"Doa kan saja orang tuanya mbak, biar tenang di tempat barunya."


Begitulah mereka memberi semangat, menenangkan Tia, bahkan seorang wanita paruh baya sudah berhambur memeluknya, mereka menatap penuh iba pada Tia yang harus kehilangan kedua orang tuanya di waktu yang bersamaan.


"Terima kasih," balas Tia dengan memaksakan senyumnya, ia menatap nanar ke semua sisih ruangan. Tidak ada lagi ibunya yang selalu muncul di Butik tiba tiba, tidak ada lagi ayahnya yang akan selalu menanyakan setiap kegiatannya di Butik. Hanya tersisa sebuah kenangan yang akan selalu abadi di ingatan.


Mereka yang menghampiri Tia kembali melanjutkan aktivitasnya, mengumpulkan barang yang akan mereka beli dan bawa pulang.


Fina sudah kembali ke lantai dua setelah puas bermanja dan memberi semangat pada bosnya, ia juga harus tahu malu dan tetap melanjutkan pekerjaannya.


Semua kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa. Setelah beberapa menit duduk di sofa, Tia pun ikut beranjak, berjalan menaiki anak tangga dengan tatapan kosong. 


Tia berdiri di depan pintu ruangan yang selalu ia tempati beristirahat dan mengobrol bersama ibunya. Pikirannya menerawang kemana mana, sesosok tubuh cantik ibunya kembali terlihat sekilas. Tia menarik nafasnya dalam, lalu segera membuka pintu.


Setelah hampir tiga minggu kepergian orang tuanya, Tia bahkan masih berharap bahwa semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir dari dirinya. Di depan orang orang, ia memang selalu menyembunyikan rasa sepi dalam hatinya, ia berusaha terlihat tegar di depan semua orang. Membohongi perasaannya sendiri.


Drttt … drtttt

__ADS_1


Dering ponsel menyadarkan Tia dari lamunan, membawanya kembali ke dunia yang dipenuhi kenangan. Kemudian mencari cari ponselnya yang berada di dalam tas, "Sayang, ada apa?" tanya Tia bingung, mereka baru saja bertemu sekitar satu jam yang lalu, dan kenapa laki laki itu sudah menelponnya sekarang.


Terdengar tawa dari seberang telepon, membuat Tia semakin menautkan kedua alisnya. "Ada apa?" tanya lagi yang menunggu penjelasan.


"Tidak. Aku hanya ingin mendengar suaramu," jawab dari seberang, mendengar itu Tia kembali mendengus kesal. 


Alasan apa itu? Kita kan baru betemu tadi. Benak Tia, tidak terima dengan alasan tidak masuk akal yang diucapkan kekasihnya.


"Sayang, kau dimana?" diseberang kembali bertanya.


"Pertanyaan apa lagi itu? Apa kau sedang bermain drama? Tadikan kau yang mengantarku ke Butik." Tia merasa kesal sendiri dengan pertanyaan yang baru ia dengar.


"Hahaha, kenapa kau marah sayang, aku kan cuman bertanya." Andika kembali tertawa, seperti sangat puas menggoda kekasihnya pagi pagi.


"Ah, sudahlah, aku mau cek orderan dulu, kau kan harus bekerja," tukas Tia yang ingin segera mengakhiri sambungan teleponnya.


"Baiklah. Aku akan kesana saat jam makan siang. Sampai bertemu." 


Semua orang di Butik melakukan aktivitasnya seperti biasa, namun hari ini karyawan Tia terlihat lebih bersemangat di banding saat Tia tidak masuk, mereka terus tersenyum, sesekali saling mengobrol dengan berteriak karena posisi mereka yang berjauhan. Membuat tawa dari mulut mereka terdengar nyaring memenuhi langit langit ruangan.


Siang bergulir sangat cepat, hari ini terasa lebih panas dari kemarin. Meskipun pendingin ruangan sudah di nyalakan, namun peluh tetap bercucuran di dahi. 


Tia keluar dari ruangannya, menyapa orang orang yang ada di lantai dua, lalu berjalan menuruni anak tangga. Ia menghampiri Ulan yang terlihat sedang sibuk membaca beberapa kertas di atas meja.


Tia menghentikan langkahnya, tersenyum karena Ulan yang belum menyadari kedatangnnya. "Apa itu?" tanya Tia membuat gadis yang sedang duduk langsung tersentak dan beranjak bangkit dari kursi. Ulan memegangi dadanya, Tia yang datang tiba tiba membuat jantungnya berdegup kencang.


"Maaf," ujar Tia dengan tertawa kecil melihat ekspresi wajah gadis di depannya.

__ADS_1


"Kak Tia membuat jantungku seperti habis lari maraton." Ulan menghela nafasnya, membuat Tia terkekeh. "Eh, ini laporan tentang keuangan Butik selama Kak Tia nggak datang, pengeluaran dan pemasukan sudah aku pisahkan dan jumlah setoran ke suplayer juga ada," lanjut Ulan menjelaskan sambil menyodorkan beberapa lembar kertas pada Tia. 


"Terima kasih ya," tutur Tia dengan tersenyum tulus, ia menepuk nepuk punggung gadis yang telah membantunya selama ini.


"Kak Tia apa apaan sih, aku kan bekerja disini, lagian kalo nggak di gaji juga aku nggak bakalan mau." Ulan terdengar begitu serius namun Tia yakin gadis itu hanya bercanda, dan berhasil membuat Tia kembali tertawa.


Ulan ikut tertawa lalu menarik Tia untuk duduk di sofa. Setelah mereka duduk, Ulan tersenyum dengan tatapan yang tidak biasa, menatap mata Tia begitu dalam, seperti sedang mencari kebenaran dari sana. Tia memukul tangannya pelan, merasa ada sesuatu yang ingin di ucapkan Ulan yang mungkin akan sulit untuk ia jawab.


Ulan terkekeh bahkan sebelum ia memulai pertanyaannya. "Kak Tia tidur di rumah Mbak Gita belakangan ini?" tanya Ulan yang memulai introgasinya. Tia mengangguk membenarkan, membuat Ulan tampak semakin bersemangat untuk bertanya.


"Wah hebat kak. Gimana rasanya tinggal di rumah calon mertua?" pertanyaan kedua yang ditanyakan pada Tia, wajah Ulan sudah terlihat berharap.


Tia kembali tertawa mendengar ucapan Ulan barusan.Aku haru menjawab apa? Bagaimana ya perasaanku saat menginap di sana, hahaha aku juga tidak tahu. Tia meminta jawaban dari hatinya, merasa aneh juga dengan pertanyaan Ulan. 


"Kak, ada apa? Pasti rasanya sangat bahagia dan tidak bisa di ceritakan lewat kata kata ya." Ulan kembali menarik paksa Tia dari lamunannya, membuat gadis itu tertawa untuk menutupi rasa bingungnya.


"Ulan, rasanya itu biasa saja, malah aku merasa tidak enak karena itu bukan rumahku, dan karena orang tuaku tidak ada bersamaku." Senyum yang tadi terpancar tiba tiba memudar, bersamaan dengan perasaan yang kembali sakit. Ulan yang menyadari perubahan wajah Tia langsung merasa bersalah karena membuat bosnya kembali bersedih.


"Maafkan aku." Ulan menunduk, perasaan bersalah langsung menari pada kepalanya. "Sudah jam makan siang, ayo beli makanan kak, sudah lama kan kita semua tidak makan bersama," ajak Ulan yang berusaha mencairkan suasa, Tia pun langsung menganggut bersemangat dan beranjak lebih dulu dari sofa.


"Ayo," ajaknya pada Ulan. Mereka pun berjalan keluar dari Butik, memilih warung kaki lima untuk membeli makan siangnya. Matahari yang begitu terik membuat Tia tidak sanggup jika harus pergi ke restoran menggunakan motornya. Ia juga tidak terbiasa memesan pada ojek online, jadi lebih memilih warung yang tidak jauh dari Butiknya dan dapat di jangkau dengan berjalan kaki.


~~


Sebuah mobil sport mewah sudah terparkir rapi di samping Butik milik Tia, seorang pria turun dengan postur tubuh tegapnya, ia terlihat merapikan jasnya yang sedikit berantakan. Lalu berjalan ke arah pintu masuk yang tidak jauh darinya.


"Sayang," ucapnya langsung saat sudah melewati pintu kaca, ia melihat ke semua penjuru ruangan, tidak menemukan orang yang ia cari di sana. Hanya melihat beberapa orang asing yang sedang berbelanja. Ia berjalan ke arah tangga, dan segera naik ke lantai dua dengan setengah berlari.

__ADS_1


"Tuan," sahut Fina yang langsung melihatnya, Andika mengangguk dan ingin segera melanjutkan langkahnya menuju ruangan Tia.


Perlahan ia membuka pintu, mengintip sedikit ke dalam, dia tidak melihat siapapun di sana. Lalu kembali melanjutkan langkahnya, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan ke arah sofa. Mendudukkan tubuhnya sambil merogoh ponsel yang berada di saku jaz.


__ADS_2