
Di tengah teriknya matahari, Tia dan Ulan masih mengantri, menunggu pesanannya diselesaikan. Ponsel di saku celana Tia bergetar, ia langsung merogoh dan melihat sederetan pesan yang masuk.
"Sayang, kau dimana?"
"Aku sudah di Butik,"
"Aku kan sudah mengatakan kau jangan pergi sendiri!"
Tia tersenyum, tidak membalas pesan dari kekasihnya, membuat Andika yang sudah berada di ruangannya gusar menunggu.
"Sayang, kenapa tidak membalas pesanku?"
"Kau dimana?"
Lagi lagi Tia hanya mengabaikan pesan kekasihnya, menahan diri untuk tidak tertawa karena pesan bertubi yang masuk. Andika semakin gusar, ia mengacak rambutnya, mengingat kesalahan apa yang ia perbuat sehingga Tia sampai tidak menjawab pesannya.
"Jika masih tidak menjawab, aku akan menyuruh Bimo memasang fotomu di setiap tiang, rumah, pinggir jalan, bahkan di semua tempat di kota ini!" akhirnya memilih untuk mengancam, berharap agar yang dikirimi pesan punya rasa takut.
Tia terkekeh melihat pesan terakhir Andika, pesan yang penuh ancaman membuatnya merasa takut dan lucu bersamaan.
Akhirnya Tia mengetikkan sesuatu yang bahkan membuat Andika semakin tidak tenang saja.
"Jangan melakukan hal konyol! Aku akan segera kembali."
Setelah beberapa saat, pesanannya sudah siap, Ulan mengambil alih kantong makanan dari tangan wanita paruh baya sang pemilik warung. Tia membayarnya lalu mereka segera kembali ke Butik. Sedikit berlari karena matahari semakin terik dan bisa membakar tubuh mereka.
Tia masuk lebih dulu, mencari seseorang yang sudah ia buat kesal sejak tadi. Ia tidak menemukan laki laki itu di lantai utama. Dan Tia langsung menuju tangga untuk naik ke lantai atas.
"Jika kalian sudah lapar, kalian bisa makan lebih dulu. Aku liat Andika dulu di atas," ujar Tia berteriak, dengan tubuh yang sudah menaiki anak tangga.
Ulan menatap aneh pada bosnya yang sudah hilang dari pandangan, ia berbalik menatap temannya yang tidak jauh dari tempatnya sekarang. "Emang Tuan Andika ada di sini?" tanyanya bingung. Anggi mengangguk, menandakan bahwa kekasih dari bos mereka memang ada di sana.
"Yah, gagal dong makan bareng. Sudahlah, dimana Fina? Kita makan saja." Ulan mengerucutkan bibirnya, merasa kecewa karena tidak jadi makan sambil bergosip dengan bosnya.
~~
__ADS_1
Tia masih berdiri di depan pintu ruangannya. Ia membuka pintu dengan begitu pelan, mengintip sosok pria yang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa. Lelaki itu hanya mengenakan kemeja polos, tanpa jas dan rambut yang terlihat berantakan.
Pintu kembali tertutup tanpa suara setelah Tia masuk, ia berjalan tanpa menimbulkan suara, begitu pelan, bahkan suara nafasnya pun tahan agar Andika tidak menyadari kedatangannya.
"Sayang!"
Andika beransur bangun dari sofa saat mendengar suara yang berhasil mengejutkannya, ia menautkan kedua alisnya, lalu menatap pada sosok gadis yang telah membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
Tia langsung tertawa melihat ekspresi wajah Andika, terlihat lucu dan menggemaskan, ditambah rambut yang berantakan namun tetap terlihat keren. Tia berjalan dan ikut duduk di samping Andika.
"Kenapa rambutmu berantakan? Dan itu, kenapa ada di lantai?" tanyanya dan langsung mengambil jas yang berada di ujung kaki Andika. Lelaki itu hanya mengangkat bahunya, tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan Tia.
"Apa kau sudah melihat wajahmu dimana mana?" Andika balik bertanya, mendengar itu, Tia kembali terkekeh karena mengerti maksud dari ucapan kekasihnya.
"Kau begitu konyol, sayang." Masih terus tertawa, bahkan tangannya sudah memukul tangan Andika karena gemas.
Tia membelalakkan matanya saat tubuhnya tiba tiba terdorong dan langsung berbaring di sofa, Andika berada di atasnya namun tetap bertumpu pada lututnya. Membuat Tia langsung menghentikan tawa yang tadi begitu nyaring.
"Jangan bergerak atau tubuhmu akan tertindih!" Andika mengingatkan, membuat Tia terdiam dan membatalkan niatnya untuk mendorong tubuh lelaki itu.
"Kau sengaja membuatku tidak tenang ya. Aku bahkan sudah menyuruh Bimo ke kantor polisi untuk melaporkan kehilanganmu."
Tia kembali tertawa, bahkan semakin nyaring dari sebelumnya, air mata bahkan keluar dari ujung matanya karena terus tertawa. Benda kenyal menempel di bibirnya, membuat mulutnya yang tadi terbuka langsung ditutup secara paksa. Andika menggigit pelan bibir bawahnya, membuat perempuan itu memejamkan mata.
Andika menatap wajah Tia yang berada di ujung hidungnya, perlahan ia membuka mulut, memasukkan lidahnya kedalam mulut Tia yang masih tidak bergeming. ******* bibir Tia begitu lembut, lidahnya mulai mengabsen setiap isi dalam mulut Tia, hingga masuk ke rongga mulut kekasihnya. Perempuan itu mulia melakukan serangan balasan, cukup lama bibir mereka saling serang.
"Sayang, aku lapar.!" Tia melepaskan bibirnya, nafasnya memburu akibat ciuman yang baru saja mereka lakukan. Andika tersenyum, masih dengan posisi yang sama, ia mengelap bibir Tia yang terlihat basah. Lalu memperbaiki posisi duduknya.
"Ayo!" ajak Andika yang sudah beranjak lebih dulu, sambil merapikan kemejanya.
Mereka berdua pun keluar dari dalam ruangan, berjalan beriringan menuju lantai utama. Pengunjung Butik tidak terlalu ramai hari ini, membuat para karyawan terlihat cukup santai dengan pekerjaannya.
"Kalian sudah makan?" tanya Tia menghampiri para gadis yang sedang merapikan beberapa barang.
"Sudah. Makanan Kak Tia ada di sana," jawab Fina mewakili sambil menunjuk kotak makanan yang berada di atas meja. Tia tersenyum mengangguk dan berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
Tia sudah membuka dua kotak makanan, satu untuknya dan satu lagi untuk laki laki yang berada di sampingnya. Dua gelas minuman dingin juga tersedia sebagai pelengkap.
"Apa kau yang membelinya?" tanya Andika dan Tia mengangguk.
"Ayo makan!"
Satu suapan sudah masuk kedalam mulut Tia, perutnya yang sudah berbunyi sedari tadi semakin tidak sabar saat melihat nasi santan dengan wangi pandan di hadapannya. Andika masih belum menyentuh makanannya, hanya fokus menatap Tia yang terlihat lahap.
"Apa ini enak?" tanya Andika bingung, ia tidak pernah makan nasi dengan wangi pandan dengan warna hijau seperti itu sebelumnya. Tia langsung menatapnya dengan mulut yang terus mengunyah.
"Tentu saja enak. Buka mulutmu!"
Andika membuka mulutnya, menerima sesuap nasi dan lauk yang di sodorkan Tia dengan tangan. Ia mulai mengunyah, Tia menatapnya, menunggu tanggapan lelaki itu tentang makanan yang ia beli.
"Lumayan. Tapi ini terlalu wangi untuk sebuah makanan."
"Daun pandan kan memang wangi. Ah, pasti kau tidak tahu daun pandan kan." Tia menggelengkan kepalanya beberapa kali, suapan kedua kembali ia berikan pada Andika, lelaki itu menerimanya dengan suka rela, meskipun ia tidak terlalu suka dengan wangi nasinya, tapi karena Tia menyuapi jadi ia tetap memakannya.
"Sayang, hahaha …." Tia tertawa sambil menatap Andika yang tengah menyeruput minumannya.
"Ada apa?"
"Maafkan aku,"
Andika bingung, maaf untuk apa lagi, pikirnya. Ia menatap Tia, meminta penjelasan dari kata maaf gadis yang baru saja selesai menyuapinya hingga makanan mereka habis tanpa sisa.
"Tadi aku tidak mencuci tanganku." Memberitahu dengan nada jijik, sambil memperlihatkan tangan yang tadi digunakan. Andika terlihat memicingkan matanya namun sesaat kemudian langsung menarik gemas hidung Tia yang masih tertawa.
"Sayang, aku harus kembali ke kantor. Sore nanti aku akan menjemputmu." Andika menatap arloji di tangannya, mengingat Bimo yang pasti sudah resah karena berkas bertumpuk yang belum ditandatangani oleh majikannya.
"Hm … baiklah. Sampai bertemu nanti." Tia mengantar Andika sampai ke teras Butik, masih menunggu hingga mobil kekasihnya benar benar hilang dari jangkauan mata. Dan dia kembali kedalam untuk membersihkan bekas makanan yang masih berada di atas meja. Membuangnya ke tempat sampah, lalu ikut bergabung pada karyawannya yang sedang melakukan pengemasan untuk pesanan yang akan dikirim pada customer onlinenya
Jangan lupa untuk selalu like, komen, dan vote jika ada rezeki🤗
Sekali lagi terima kasih😌💙🙏
__ADS_1