
"Terimah kasih Tia," ucap Hans yang sudah sampai di halaman rumah nya bersama Tia.
"Jangan sungkan Hans mungkin ini jadi yang terakhir kali nya kita pulang kerja bersama " ucap Tia pada Hans yang memang belum mengetahui jika Tia akan berhenti bekerja.
"Apa kau sudah tidak ingin mengantarku jika motor ku rusak," kata Hans pada Tia dengan nada memelas.
"Esok aku sudah tidak bekerja lagi Hans," sahut Tia langsung membuat Hans membulatkan matanya ke arah Tia.
"Apa Boss memecatmu? tapi apa yang sudah kau perbuat sampai dia harus memecatmu, apa kau menyampaikan perasaan mu padanya?" kata Hans terus menebak apa kesalahan sahabatnya itu sehingga harus di pecat, dan seketika Tia langsung memukul punggung lelaki yang terus saja mengoceh itu.
"Aku yang mengundurkan diri Hans kau jangan menyiksa otak mu dengan terus berfikir yang tidak tidak," jelas Tia menahan bibirnya untuk tertawa karna ucapan sahabatnya.
"Tapi kenapa? Jika kau lelah kau bisa memintaku untuk mengerjakan pekerjaan mu, tidak perlu mengundurkan diri dan meninggal kan ku seperti ini" kata Hans dengan tatapan yang begitu sendu ke arah Tia.
"Tidak Hans, aku sungguh betah dan sangat senang bisa bekerja di tempat itu, tapi aku masih punya banyak impian yang harus ku gapai, jika hanya terus bekerja di tempat itu, mimpiku tidak akan bisa terwujud," kata Tia menjelaskan dan menatap Hans yang terlihat begitu tidak bersemangat.
"Aku akan membuka usaha butik Hans, kita juga akan sering bertemu karna aku tidak lah membuka butik di planet lain," lanjutnya dengan sedikit tertawa dan Hans yang mendengarpun ikut tertawa
~
"Apa benar ini ruko yang akan di tempati Tia yah" gumam Rita dalam hati, sambil terus menelusuri setiap sudut ruko yang sebentar lagi akan menjadi tempat usaha putrinya itu.
"Apa Ibu sudah lama di sini?" tanya Tia yang baru saja sampai dan langsung mencium punggung tangan Ibunya.
"Tia kau mengangetkan Ibu, ini Ibu juga belum lama sampainya," balasnya sambil tersenyum ke arah Tia.
__ADS_1
"Ayo masuk Buk." ajak Tia pada Rita yang langsung mengikuti langkah putrinya menuju lantai dua, "Apa Ibu suka tempatnya?" tanya nya pada Rita dan perempuan paruh baya itu langsung memeluk dan mencium puncak kepala anaknya.
"Ibu bangga padamu Nak, di umur mu yang terbilang masih sangat muda kau sudah bisa membangun usaha mu sendiri tanpa bantuan dari siapapun," ucap Rita kagum, dan masih terus memeluk Tia, tanpa terasa Benih kristal jatuh dari ujung mata nya.
"Aku tidak akan bisa melakukan semua ini tanpa do'a dan dukungan dari Ibu dan Ayah," ucap Tia membalas sambil mengeratkan pelukan nya
"Aku akan menyuruh beberapa orang untuk memperbaiki sedikit bangunan ini Buk, aku akan meresmikan nya ketika sudah benar benar menata dengan baik semua barangku nanti, aku juga akan mencari beberapa orang yang bisa membantuku di butik ini nanti," lanjutnya dengan terus menjelaskan pada Rita dengan rasa bahagia karna sebentar lagi ia akan memulai usaha nya sendiri, merintis dari nol dan semoga sesuai dengan rencana yang sudah ia susun selama ini.
"Ibu akan selalu ber do'a untuk mu, dan Ibu juga akan membantumu sebisa mungkin nanti," ucap Rita yang sudah berjalan menggandeng tangan anak nya dan melanjutkan melihat setiap sudut ruko itu.
Seminggu sudah berlalu semenjak Tia berhenti bekerja. Dan sejak itu ia mulai memperbaiki ruko yang akan menjadi tempat nya memulai usaha yang baru, mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia butuhkan nanti, mulai memesan barang dari luar kota dan menata setiap sudut ruko itu.
Tibalah hari di mana ia akan meresmikan butik miliknya itu yang ia beri nama " Tia Collection " dengan penuh rasa Syukur ia dan keluarganya mengadakan syukuran untuk peresmian butik nya, hanya sekedar mengundang beberapa Anak Yatim untuk ikut memanjatkan do'a agar usaha nya bisa di lancarkan dan bisa mendatangkan rezeki yang halal kedepan nya.
Dan beberapa saat pun keheningan tercipta l, semua memanjatkan do'a dari dalam hatinya masing masing, dan kemudian kembali membuka mata dan semua tersenyum satu sama lain.
"Satu..Dua..Tigaa...Guntinggg.!!" ucap semua orang dan Tia langsung menggunting pita yang menjadi pembatas antara dirinya dan toko itu dan kemudian suara gemuruh akibat tepuk tangan pun terdengar dari semua orang.
"Terimah kasih semuanya, silahkan masuk dan nikmati lah hidangan yang sangat sederhana di dalam," ucap Tia mempersilahkan semua orang untuk masuk.
"Ayo masuk, kenapa terus berdiri di sini sih?" tanya Rita pada Tia karna melihat anak nya masih saja berdiri di depan pintu sedangkan yang lain sudah ada di dalam
"Iya Buk, ayo masuk" balasnya dan langsung menggandeng tangan Ibunya untuk ikut bergabung dengan yang lain.
~
__ADS_1
"Selamat yah Tia, wah kami tidak menyangka kau bisa membuka usaha sendiri.
"Iya, bahkan dengan pendidikan yang minim ternyata kau bisa berhasil yah.
"Benar, aku juga tidak menyangka bahwa anak bungsu Rita ini bisa seperti sekarang.
Seperti itulah beberapa kerabat memberi ucapan dan selamat kepada Tia, ada yang memuji dengan penuh rasa bangga dan kadang ada juga yang masih mencibir dengan ucapan polos tapi sangat menusuk untuk Tia, kadang ia hanya tersenyum untuk membalas semua ucapan karna tidak tau mau berkata apa dengan dengan mereka.
Setelah menikmati hidangan, satu persatu kerabat nya pun ber pamitan untuk pulang ke rumah masing masing, dan terakhir giliran anak Yatim itu lah yang ber pamitan, Tia memberikan satu amplop kepada setiap anak untuk tanda syukur dan terima kasih nya karna mendapat do'a dari anak anak itu dan menurutnya memberikan sedikit uang tidak akan membuatnya rugi.
~
Saat sampai di rumahnya Tia langsung pamit pada orang tuanya untuk tidur lebih dulu karna merasa sangat mengantuk dan lelah, ia juga harus bangun lebih awal esok karna harus ke toko untuk mulai membersihkan beberapa barang yang masih berantakan.
"Buk, Ayah aku tidur dulu." pamit Tia langsung mencium punggung tangan orang tua nya bergantian kemudian berjalan menuju kamar nya.
~
"Ibu bangga pada Tia, dia tidak pernah mengeluh dengan kondisi keluarga kita," ucap Rita pada Gunawan dengan mata yang sudah berkaca kaca tidak habis fikir bagaimana anak nya bisa mengumpulkan uang secepat itu padahal selama ini gajinya juga di berikan pada orang tua nya.
"Ayah juga bangga dan kasian pada Tia karna banyak yang selalu mem bandingkan dia dengan anak kerabat kita yang memiliki pendidikan tinggi, Ayah tau jika membicarakan soal pendidikan pasti akan membuat hatinya terluka, tapi ketegaran nya menutipi itu semua, sekarang dia membuktikan pada kita semua bahwa pendidikan bukan lah jalan satu satunya menuju kesuksesan," panjang lebar Gunawan mengeluarkan isi hatinya karna begitu bangga pada Tia dan dua orang paruh baya itupun langsung melempar senyuman satu sama lain.
jangan lupa vote , like dan coment๐ค
terima kasih dan maaf untuk segala kekurangan nya๐๐๐
__ADS_1