
Masih di dalam ruang kerja Andika, kedua gadis yang tidak akrab terlihat saling melirik. Namun tatapan Rosa sudah seperti ingin menerkam Tia, membuat gadis itu memicingkan matanya ngeri.
Tia menghela nafasnya saat Rosa belum juga mengutarakan maksudnya datang ke perusahaan Andika. "Rosa, untuk apa kau kemari?" tanya Tia lagi dengan sedikit kesal.
Garis bibir Rosa terangkat, ia berdecak beberapa kali, seakan merutuki kepolosan Tia. "Kenapa kau di sini?" akhirnya Rosa bersuara setelah tadi hanya diam dengan tatapan sinisnya.
"Kenapa? Inikan kantor kekasihku." Jawaban yang sudah disiapkan sejak tadi. Tia memang tahu bahwa Rosa tidak suka padanya, tapi toh tidak penting juga menurutnya.
"Ck," berdecak lagi dengan senyum yang kembali tersungging. "Apa kau tidak kasihan dengan orang tuamu?" pertanyaan yang membuat Tia bingung.
Orang tua? Kenapa? Apa sih maksudnya. Tia bertanya dalam hati, mencari jawaban dari pertanyaan gadis aneh itu.
"Kenapa kau diam? Apa kau belum menyadari kesalahanmu?" lanjutnya bertanya, menyadarkan Tia dari lamunannya.
"Rosa apa maksudmu? Kenapa kau membawa bawa orang tuaku?" tanya Tia yang terdengar membentak, membuat Rosa melotot karena terkejut.
"Gadis yatim piatu sepertimu tidak pantas membentakku. Kau itu tidak ada apa apanya dibanding denganku," tutur Rosa dengan begitu bangga membuat Tia tersenyum dan menggelengkan kepala beberapa kali.
"Ya aku memang yatim piatu, orang tuaku sudah tenang di alam barunya," ucap Tia, ia menghela nafasnya sebelum kembali berbicara. "Tapi mereka selalu mengajariku untuk menghargai orang lain, dan yang terpenting, mereka tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan orang lain." Tia menjawab dengan suara datar namun terdengar begitu serius.
Rosa terlihat pias, ia tidak menyangka bahwa Tia mengetahui kasus papanya. Namun bukan Rosa namanya jika dia langsung berhenti hanya karena sindiran seperti itu.
"Apa maksudmu? Apa sekarang kau sedang menghinaku?" Rosa terlihat semakin kesal saat Tia hanya menjawab pertanyaannya dengan tersenyum. "Apa kau masih tidak mengerti setelah kepergian kedua orang tuamu, itu tandanya mereka tidak merestui hubungan kalian, buktinya mereka pergi bahkan sebelum kalian menikah."
Deg … jantung Tia berdegup lebih cepat saat mendengar penilaian yang Rosa berikan, ia menggenggam erat tangannya sendiri.
"Itu tidak benar Rosa! Kenapa kau berpikir seperti itu," marahnya karena Rosa yang seperti sengaja ingin membuat hubungan mereka hancur.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Cinta benar benar telah membuatmu buta untuk melihat kenyataan." Masih berusaha menghasut, menjadi setan liar agar bisa mewujudkan impiannya.
Tia terdiam, mencerna dengan baik ucapan Rosa yang telah membuat perasaannya campur aduk.
Itu tidak mungkin. Ayah dan ibu sudah menyukai Andika, Rosa pasti hanya ingin menghancurkan hubungan kami. Tia menolak keras argumen yang Rosa berikan. Ia menghembuskan nafasnya kasar dengan menatap tajam ke arah Rosa yang terlihat sedang tersenyum puas.
"Rosa, kau itu cantik. Kenapa kau rela menjadi iblis penghasut hanya untuk memiliki Andika." Tia menjawab begitu santai namun Rosa terlihat mengepalkan tangannya marah.
"Berani sekali kau menghinaku ya," geram Rosa yang sudah beranjak dari duduknya dengan tangan yang terangkat, siap memukul Tia.
"Rosa hentikan! Apa yang kau lakukan dengan kekasihku," teriak Andika yang tiba tiba muncul, membuat kedua perempuan itu menatap ke arahnya. "Berani sekali kau ingin menyentuh kekasihku." Andika sudah berjalan mendekat. Bimo dengan sigap ikut mendekat dan menarik tangan Rosa menjauh.
"Sayang, apa dia melukaimu?" tanya Andika, ia terlihat memeriksa bagian wajah dan tangan Tia, mencari bukti jika Rosa telah menyakiti kekasihnya.
"Tidak sayang, aku tidak apa apa." Tia menjawab pelan, menggenggam tangan Andika yang terus menelusuri wajahnya.
"Bim, bawa dia keluar! Dan pastikan dia tidak bisa menginjakkan kakinya lagi di sini," perintah Andika tanpa mengalihkan pandangannya dari Tia.
"Dik … Dika … dengarkan aku, ini tidak seperti yang kau lihat." Memohon dengan nada memelas, ia menatap tajam Bimo yang berusaha menariknya keluar dari ruangan.
"Bimo!" berteriak kesal, membuat Bimo langsung menarik keras tangan Rosa, membuat gadis itu menjerit karena cengkraman tangan Bimo.
"Lepaskan aku! Hei, sialan. Lepaskan tanganku." Rosa masih mengaduh keras. Setelah berada di luar ruangan, Bimo mengibaskan tangannya, membuat Rosa langsung menarik tangannya yang terasa sakit. Rosa terdengar mengumpat beberapa kali, sorot mata tidak suka dan permusuhan ia tunjukkan pada Bimo lalu menatap tajam pada pintu yang sudah tertutup.
"Apa perlu saya mengantar Anda Nona?" tanya Bimo membuat Rosa berdecak kesal.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri." Mulai berjalan menjauhi Bimo dengan perasaan marah. Ia menekan tombol lift dengan kasar. Makian terus terlontar dari mulutnya, hingga ia meninggalkan halaman kantor milik Andika.
__ADS_1
Kembali ke ruangan sang pemilik perusahaan. Andika masih terlihat khawatir pada kekasihnya, gadis itu belum menceritakan kejadian sebelum Rosa hampir memukulnya tadi.
"Sayang, apa kau benar tidak apa apa?" tanyanya lagi dengan nada penuh khawatir.
"Aku baik baik saja sayang. Kenapa kau begitu khawatir huh?"
"Tentu saja aku khawatir, aku sudah berjanji pada ayah dan ibu untuk menjagamu, dan tidak akan membuatmu sedih." Raut wajah Tia berubah seketika, ia kembali teringat dengan ucapan Rosa tadi. "Sayang, ada apa?" tanya Andika yang merasa aneh dengan perubahan mimik wajah kekasihnya.
"Em … tidak. Apa rapatnya sudah selesai?" Tia ikut bertanya, ingin mengalihkan topik sebelumnya.
"Kau kenapa? Wajahmu terlihat tidak sedang baik baik saja." Andika masih bertanya, menunggu jawaban yang bisa membuatnya yakin bahwa kekasihnya baik baik saja. Tia terlihat menunduk lalu memeluk tubuh Andika dengan begitu erat, membuat pria itu bingung namun ikut memeluk Tia tak kalah erat.
Tia terisak di dada kekasihnya, ucapan Rosa tadi membuat perasaannya benar benar sakit. Awalnya ia ingin menyembunyikan dari Andika, tapi ternyata hatinya tidak bisa di ajak kerja sama.
Andika berusaha menenangkan Tia dengan mengelus puncak kepalanya sambil memberi ciuman beberapa kali di sana. "Jangan percaya dengan semua ucapan perempuan itu. Dia hanya ingin menghancurkan hubungan kita." Meskipun Andika tidak tahu apa apa, tapi ia yakin bahwa ucapan Rosa lah yang membuat kekasihnya kembali menangis.
"Jangan pernah meninggalkan aku," pinta Tia dengan suara lirih.
"Aku akan selalu ada untukmu. Menjagamu hingga nafas terakhirku." Andika semakin mengeratkan pelukannya, berusaha meyakinkan Tia bahwa ucapannya tidak main main.
Maafkan aku karena membiarkan putri kalian menangis. Aku akan pastikan gadis tidak tahu malu itu tidak akan mengganggu Tia lagi. Andika berjanji dalam hati, merasa bersalah karena Tia yang kembali menangis.
Ayah, ibu ... kuharap semua ucapan Rosa tadi hanyalah sebuah omong kosong. Tia menepis ujung matanya untuk menghapus butiran bening yang terus mengalir.
Jangan lupa vote, like, dan komen🤗
__ADS_1
Terima kasih😌💙🙏