
Masih di ruang ICU, setelah sambungan telepon di matikan secara sepihak oleh Gunawan, keheningan tercipta.
Lelaki paruh baya yang terus memperlihatkan senyumnya melirik Rita yang juga sedang menatapnya. Mereka saling melempar senyum hangat, kemudian Rita kembali membuka bicara.
"Dik, jaga cucu ibu! Mungkin kami tidak bisa lagi melihatnya secara langsung, tapi percayalah kami sangat menyayanginya," ungkap Rita dengan tersenyum, namun di ujung matanya sudah terlihat buliran bening. Ia menarik nafasnya dalam, sebelum melanjutkan ucapannya. "Jaga keluarga kecilmu dengan baik, dan adik adikmu, tolong jaga mereka! Kami mencintai kalian semua. Jika saatnya tiba, tolong beritahu cucu ibu bahwa mereka memiliki nenek dan kakek yang sangat menyayanginya," pungkasnya.
"Ibu, kumohon jangan berbicara seperti itu, kalian pasti akan sembuh, aku yakin itu." Diki menepis air matanya yang sudah jatuh tanpa pamit, namun ia berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Berjanjilah untuk selalu menyayangi adik adikmu," pinta Rita yang kembali berbicara dengan nada lirih.
"Ibu, tanpa ibu minta pun aku akan selalu menyayangi mereka."
Terlihat senyum bahagia dari wajah Rita saat ini. Wajahnya sudah pucat seakab tak ada darah disana.
"Ayah ingin tidur dulu," ucap Gunawan menimpali.
"Baiklah, ayah istirahat saja," jawab Diki yang kini memeluk singkat tubuh lemah ayahnya. Lelaki paruh baya itu menepuk punggungnya beberapa kali, kemudian memejamkan matanya perlahan.
"Nak," lirih Rita kembali bersuara.
"Bu, cepatlah sembuh, Tia pasti sangat khawatir jika mengetahui keadaan kalian. Dia masih sangat butuh kasih sayang dari kalian. Diki mohon bu, kalian harus kuat untuk kami, terlebih lagi untuk Tia bu." Bibirnya bergetar, ia sekuat tenaga meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik baik saja.
"Ibu ... ibu ... bangun bu, kumohon bangun, ibu ...." Tangisnya pecah saat Rita kembali tidak sadarkan diri.
Seorang Dokter masuk kedalam ruangan diikuti beberapa perawat di belakangnya.
"Silahkan tunggu di luar pak, kami akan memeriksa keadaan mereka." Dokter itu sudah terlihat panik menekan di beberapa bagian tubuh orang tuanya.
Diki pun keluar dengan langkah berat, ia berdiri di balik pintu kaca agar tetap bisa melihat orang tuanya di dalam sana.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, seorang perawat menutup pintu dan jendela kaca dengan tirai, membuat Diki tidak bisa melihat aktivitas di dalam
Selamatkan orang tuaku Tuhan, kumohon. Adikku masih membutuhkan kasih sayang mereka, pinta Diki dalam hati.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanyanya dengan begitu panik pada seorang perawat yang keluar dari ruangan.
"Maafkan kami pak," jawab perawat itu dengan wajah menunduk. Diki berlari dan segera masuk di mana orang tuanya berada. Ia mematung saat melihat kedua tubuh manusia paruh baya yang kini sudah tertutupi oleh selimut yang tadi mereka kenakan.
Tangisannya kembali pecah, ia mengamuk layaknya anak kecil. Membentak Dokter yang juga masih berada disana.
Setelah berhasil di tenangkan, Diki kembali menelepon Andika. Memberitahu semua yang terjadi, yang diberitahu tentu saja terkejut bukan main. Lalu ia juga menelepon Sisi agar untuk segera pulang kerumah ayahnya. Setelah itu ia mengurus jenasah orang tuanya yang akan ia bawa langsung menuju kediaman Gunawan.
Rena pun sudah menyusul suaminya kerumah sakit saat mendapat telepon dari lelaki itu. Ia mendekap putrinya erat yang masih berumur dua bulan, dan menggandeng putranya yang berumur tiga tahun.
#flashback off ....
Andika masih setia merangkul pundak gadis itu. Memberi kekuatan pada kekasihnya.
"Sayang, ayo masuk," ajaknya Andika. Tia hanya meliriknya sebentar, lalu mengikuti langkah kaki Andika yang mulai masuk kedalam rumah.
Saat melihat bahwa adiknya sudah kembali. Sisi langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya. Ia tahu bahwa sekarang adiknya lah yang sangat terpukul.
Tia kembali terisak didada kakaknya, air matanya kembali membanjiri wajah halus itu.
Rumah yang biasanya akan selalu ramai jika semua anggota keluarga berkumpul, kini semua hanya menjadi kenangan, tidak ada lagi orang tua yang selalu mewarnai hidup mereka, tidak ada lagi senyum ayah dan ibu yang akan memberi kehangatan pada anak anaknya. Tidak ada lagi kebahagiaan yang terlihat saat ini, hanya kesedihan dan berjuta kenangan yang akan selalu menyelimuti.
Mereka semua hanya duduk di ruang keluarga, dengan Tia yang terus menangis sesegukan didada kakaknya. Memutar otaknya untuk mengingat kembali kenangan bersama orang tua yang sekarang telah pergi, bahkan untuk selamanya. Tia menatap sebuah foto besar yang berada tidak jauh darinya. Foto itu adalah foto pertama dan terakhirnya dengan Rita dan Gunawan. Mereka terlihat sangat bahagia disana.
"Kenapa kalian meninggalkanku begitu saja. Kenapa kalian tidak mengajakku pergi bersama kalian. Bu ... aku ingin ikut saja, aku tidak mau sendiri bu," gumamnya begitu lirih, dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
"Mereka tidak akan suka jika kita terus bersedih. Sudah ya, ayah dan ibu sudah tenang disana." Sisi membelai puncak kepala adiknya, air mata yang ingin jatuh ia tahan agar tetap terlihat tegar dimata adiknya.
~
Matahari sudah terbenam didalam peraduannya. Sinar bulan di atas sana terlihat lebih indah malam ini. Acara tahlilan masih berlanjut, keluarga besar serta kerabat dekat dan beberapa tetangga turut meramaikan, menundukkan kepala, mengirim do'a untuk orang yang telah berpulang kepada sang pencipta.
Setelah beberapa jam, acara pun selesai. Tetangga dan beberapa kerabat sudah bergegas kembali kerumah mereka masing masing. Yang tersisa hanya keluarga besar Tia. Andika dan Gita pun masih setia menemani keluarga itu.
"Sayang, kau belum makan apapun sejak pagi, kita makan dulu ya," bujuk Andika yang kini duduk di samping kekasihnya.
"Aku belum lapar," jawab Tia dengan senyum yang ia paksakan.
"Tia, ini sudah larut, makanlah dulu! Andika juga belum makan sejak pagi," kata Diki menimpali.
Tia menatap kekasihnya, bertanya lewat sorot matanya apakah ucapan Diki benar atau tidak. Andika mengangguk seakan mengerti tatapan gadis itu.
"Benar Tia, kau harus makan agar kakakku ikut makan, aku tidak mau melihat kalian seperti sup tulang,"imbuh Gita bercanda namun terdengar sangat serius.
"Aku akan selalu ada untukmu, ikhlaskan ayah dan ibu agar mereka bisa beristirahat dengan tenang." Andika melarik gadis itu kedalam dekapanya. Mengelus kepala Tia berulang, membuat gadis itu merasakan sedikit ketenangan.
Tia menganggukan kepalanya pelan, kemudian beranjak dari duduk, dan berjalan menuju meja makan bersama Andika. Meskipun tidak memiliki selera makan, ia tetap memaksakan agar makanan itu bisa turun ke perutnya. Andika pun demikian, ia tetap berusaha terlihat baik baik saja untuk menguatkan kekasihnya.
~
Sekarang, duniaku seakan sudah berhenti berputar, ayah dan ibu kenapa begitu tega pergi tanpa sepengetahuanku, tanpa pamit padaku. Ayah, ibu ... sebanyak apapun ucapan terima kasih ku, itu tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan yang kalian berikan, tanpa kalian aku tidak mungkin menginjakkan kakiku di bumi ini. Tuhan ... kumohon berikan tempat terindah mu untuk orang tuaku. Kuatkan aku agar bisa melewati semua ini. Semoga kalian akan selalu berbahagia disana. Tia kembali menepis ujung matanya yang kembali berair.
Terima kasih untuk segala dukungan kalian🙏
Terus support aku ya kak🤭💙🙏
__ADS_1