
Rosa menatap ke segala arah saat mobil yang ditumpanginya masuk ke halaman sebuah rumah yang jauh dari kata mewah.
Ia kemudian menatap bingung pada lelaki yang masih berada di sampingnya. Lelaki itu tampak begitu cuek dan tidak menghiraukannya.
"Dika … rumah siapa ini?" tanyanya dengan raut wajah yang sangat ingin tahu.
"Kekasihku," balas Andika santai dan segera keluar dari dalam mobil.
Rosa menatap Andika yang sudah berlalu meninggalkannya, ia memilih untuk tetap menunggu di dalam mobil dari pada harus ikut ke dalam rumah yang sangat asing dari pandangannya.
~
"Eh … ada tamu, silahkan masuk," sapa Gunawan yang kebetulan sedang berada di teras rumahnya.
"Terima kasih Ayah, tapi begini … em … aku ingin mengajak Tia makan malam bersamaku," tutur Andika, begitu gugup dengan berharap agar lelaki paruh baya itu mengizinkannya.
"Makan malam? Dimana?" tanya Gunawan dan Andika terlihat sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan lelaki itu.
"Huu, apa dia harus tau tempatnya," gumam Andika begitu pelan
"Hmmm … apa kau mendengarku," sahutnya membuat Andika merasa gugup.
"Ii … iya Ayah, kami akan makan malam di restoran," ujarnya dengan tersenyum kecut.
"Baiklah, jaga Tia baik baik, kalian harus pulang sebelum pukul 22:00," tutur Gunawan begitu serius dan Andika hanya mengangguk dengan tersenyum.
"Masuklah, Tia ada di dalam bersama Ibunya,"
"Baik Ayah, aku tinggal dulu ...."
Andika pun kembali melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu. Ia melihat Tia sedang duduk bersama Ibunya di ruang keluarga. Ia tersenyum lalu segera menghampiri kedua manusia itu.
"Ibu, Tia," sapa Andika membuat kedua manusia itu memegangi dadanya karena terkejut.
"Astaga … kau mengangetkan kami," ujar Tia dan mencoba mengatur nafasnya agar kembali stabil.
"Dika, silahkan duduk dulu nak," timpal Rita tersenyum kearah lelaki yang tampak sangat gagah dengan pakaian santainya.
"Aku sangat ingin berlama lama di sini, tapi aku ingin mengajak Tia makan malam di luar, dan Ayah menguruh kami pulang sebelum pukul 22:00, jadi kami harus pergi sekarang," tutur Andika membuat wanita paruh baya itu mengulum bibirnya agar tidak tertawa
"Ibu," cetus Tia yang melihat raut wajah Ibunya.
"Ya sudah, kalian sebaiknya pergi sekarang, sebelum Ayah berubah pikiran," ucap Rita yang sengaja menggoda sepasang kekasih itu.
"Ayah … kami pamit dulu," kata Andika saat ia dan Tia sudah berada di teras rumah.
"Hm … hati hati, jangan lupakan ucapanku," balas Gunawan sambil menatap kearah Andika.
"Iya Ayah," timpal Tia lalu mencium punggung tangan Ayahnya dan Ibunya bergantian, kemudian Andika pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
~
Sepasang kekasih itu kembali berjalan menuju mobil yang masih terparkir di halaman rumah Tia.
Rosa yang melihat kedatangan mereka mengerutkan dahinya, dengan terus memperhatikan gadis yang sedang berjalan bersama pujaan hatinya. Ia tak dapat melihat jelas wajah gadis itu karena begitu gelap.
"Hm … sayang … maaf, aku lupa memberitahumu kalo tadi Rosa ikut denganku, karena ban mobilnya bocor, apa kau tidak keberatan jika kita mengantarnya pulang terlebih dulu," jelas Andika yang kembali menyadari bahwa Rosa masih berada di dalam mobilnya.
"Rosa," ulangnya dan Andika mengangguk, kemudian membuka pintu mobilnya agar Tia dapat melihat wanita itu.
"Rosa, tolong pindah ke belakang, kekasihku akan duduk di situ," ujarnya dengan tubuh yang sedikit membungkuk.
Rosa membelalakkan matanya mendapat perlakuan tak enak dari Andika. Tanpa menjawab, gadis itu langsung keluar dan kembali masuk ke kursi belakang kemudi.
"Silahkan masuk sayang," ucap Andika dengan ujung bibir yang melengkung dengan sempurna.
Tia hanya menurut dan langsung masuk kedalam mobil itu. Ia merasa sedikit canggung dengan kehadiran Rosa disana.
Setelah menatap dengan jelas wajah gadis yang menjadi kekasih orang yang dicintai, Rosa bahkan merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Gadis itu? Bagaimana mungkin," gerutunya dalam hati, ia bahkan sesekali terlihat mengucek matanya untuk memastikan bahwa yang ia lihat memang benar benar gadis yang berada di pesta hari itu.
Andika mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota yang cukup padat malam ini, sesekali melirik kekasihnya yang terlihat fokus menatap keluar jendela.
"Rosa, dimana apartemen mu?" tanya Andika memecah keheningan.
"Em … Dik … sebenarnya, tadi aku ingin mengajakmu makan malam bersama," tutur Rosa tanpa malu sambil memajukan sedikit tubuhnya kedepan.
"Maaf Rosa, tapi aku sudah menyiapkan tempat untukku bersama Tia," tutur Andika santai, namun terdengar sangat tegas.
"Tapi Dik …." belum selesai Rosa mengecupakan kalimatnya, Andika sudah memotong lebih dulu.
"Dimana apartemen mu?" tanya Andika memotong ucapan gadis itu.
Rosa menarik nafasnya dalam lalu membuangnya dengan kasar. Ia kemudian memberitahu Andika alamat apartemennya meskipun ia sangat ingin ikut bersama kedua manusia itu.
"Mereka sangat menyebalkan." Rosa menggerutu dalam hati akibat penolakan lelaki itu.
Setelah mengetahui alamat Rosa, Andika kemudian menambah kecepatan mobilnya agar ia bisa segera menurunkan gadis yang selalu berusaha mendekatinya.
"Sayang," ucapnya begitu lembut karena sedari tadi ia tak pernah mendengar kekasihnya berbicara.
Tia langsung menatapnya bingung. Gadis itu tidak menjawab, tapi ia terlihat meminta jawaban dari sorot matanya.
"Kenapa hanya diam saja?" tanya Andika yang langsung mengerti.
"Mengemudi lah dengan benar," imbuh Tia dengan menatap tajam kearah Andika. Lelaki itu tersenyum, ia kembali menatap ke depan, dengan tangan satunya yang terus memegangi tangan Tia.
Setelah beberapa saat, mereka sudah sampai di depan gedung yang terlihat menjulang tinggi. Tia tertegun menatap bangunan itu, ia sudah bisa memastikan bahwa Rosa pasti dari keluarga yang sangat kaya, tempat tinggalnya bahkan semewah ini meskipun hanya terlihat luarnya saja.
__ADS_1
"Kita sudah sampai," sahut Andika untuk menyadarkan gadis yang terlihat belum bergerak dari tempat duduknya.
"Apa aku sungguh tidak boleh ikut makan malam." Rosa berucap dengan tampang memelas, berharap agar lelaki itu berubah pikiran.
"Maaf Rosa, mungkin lain waktu kau bisa ikut, tapi tidak untuk kali ini," balas Andika, dan Rosa tampak kecewa lalu ia keluar dari mobil itu, dan langsung membanting pintu, lalu berjalan memasuki gedung apartemennya.
"Ceh, dia terlihat sangat kecewa," timpal Tia dengan menatap Andika yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Apa kau cemburu?" tanyanya yang sengaja menggoda gadis itu.
"Tidak. Cepatlah, aku sudah begitu lapar," elak Tia yang terlihat sedang memegangi perutnya.
Andika tersenyum lalu menarik Tia untuk bersandar di lengan berototnya. Tia pun ikut tersenyum dengan posisi yang sedikit miring karena tubuhnya yang bersandar ke samping.
~
"Silahkan masuk Tuan," sapa seorang pelayan dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
Andika hanya mengangguk sambil terus melangkahkan kakinya, ia tak pernah melepaskan tangan kekasihnya dan terus menggandeng gadis itu. Mereka menuju ke Private Room dengan pelayan yang mengikutinya dari belakang.
"Silahkan Tuan dan Nona," ucap pelayan mempersilahkan kedua manusia itu untuk duduk.
"Terima kasih Mba," balas Tia tersenyum. Matanya terus menatap ke semua arah, melihat betapa mewahnya ruangan itu. Ia tak tahu jika itu adalah ruangan Private yang sudah dipersiapkan kekasihnya.
"Tempatnya indah, namun pengunjungnya begitu sepi," ujar Tia dan Andika tampak bingung dengan pernyataan kekasihnya.
"Sepi," ulangnya dan Tia mengangguk
"Ya, lihatlah, hanya kita yang berada disini," jelasnya membuat Andika tertawa cengengesan karena sikap polos kekasihnya.
"Ada apa?" tanya Tia bingung
"Siapkan makanannya, setelah itu tinggalkan kami," pinta Andika pada seorang pelayan wanita paruh baya. Pelayan itu kemudian berlalu untuk melakukan perintah Majikannya.
"Tapi kita belum memilih menu makanan," cercah Tia saat melihat pelayan itu pergi meninggalkan mereka.
"Aku sudah memesan semua menu makanan untukmu," tutur Andika tersenyum namun terlihat begitu serius.
"Ceh," desis Tia yang tak tahu harus menjawab apa.
Drrttt … drrtttt
Suara ponsel mengagetkan mereka berdua dan melempar pandangan satu sama lain sebelum Tia menjawab panggilan itu.
"Ya, halo Git," ujarnya dengan ponsel yang sudah berada di samping telinga.
"Tapi aku sedang di luar, besok saja ya," lanjutnya dengan menatap kearah lelaki yang terus mengamati pembicaraannya.
"Em … nanti aku jelaskan, aku tutup dulu," pungkasnya lalu segera mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan coment Kak🤗
Sekali lagi terima kasih☺💙🙏