
Di sebuah kediaman yang selalu menjadi tempat yang nyaman untuk keluarga Gunawan, terlihat sangat sederhana jika dilihat dari pandangan orang orang. Tapi selalu menjadi tempat yang sangat berkesan untuk keluarga kecil itu.
Semua orang sedang menikmati makan malamnya. Tia terlihat tidak banyak bicara hari ini, di meja makan pun demikian, ia hanya diam sambil menyimak pembicaraan orang tuanya.
Setelah selesai dengan acara makan malam, Gunawan sudah beranjak untuk menuju ruang keluarga, sedangkan Tia dan ibunya ingin membersihkan meja dan sisa makanan terlebih dahulu.
"Ibu," ucapnya pelan.
"Ada apa sayang, kenapa kau telihat murung sekali hari ini?" tanya Rita lembut dengan senyum hangatnya.
"Kenapa aku tidak boleh ikut dengan kalian? Aku kan juga rindu dengan Mas Diki," tutur Tia dengan memasang wajah memelas.
"Kami tidak akan lama, nanti ibu akan menyuruh mas mu untuk datang kemari." Rita menenangkan. Ia pun tidak tega untuk meninggalkan putrinya meski hanya beberapa hari, tapi entah kenapa Gunawan benar benar melarang Tia untuk ikut.
Tia hanya mendesah, merasa sedikit kesal karena tidak diizin kan ikut bersama. Ia sudah tidak menawar lagi, ia tahu bahwa ayahnya tidak akan merubah keputusan.
Kembali berkumpul dan mengobrol diruang keluarga. Tia lagi lagi hanya menjadi pendengar yang baik, menyaksikan acara telvisi tapi telinganya hanya fokus mendengar pembicaraan orang tuanya.
"Tia ...." Gunawan bersuara, membuat Tia langsung menolah dan menatapnya.
"Ada apa ayah?" tanyanya bingung.
"Beritahu Andika untuk datang kemari besok pagi."
"Andika? Untuk apa?" merasa bingung sendiri dengan ayahnya. "Kan besok kalian akan pergi, apa ayah menyuruh dia menjaga rumah?" bertanya lagi, membuat dua manusia paruh baya itu tertawa.
"Panggil saja, ayah ingin bicara dengannya, katakan bahwa ayah mengundangnya sarapan bersama."
"Baiklah. Aku mau kekamar dulu, mau istirahat," pamit Tia sembari mencium punggung tangan orang tuanya.
"Hem, jangan lupa pesan ayah!" Gunawan kembali mengingatkan, membuat Tia mengangguk pelan dan tersenyum pada mereka lalu berjalan menuju kamarnya.
Sudah menepuk bantal beberapa kali, lalu segera membaringkan tubunya di kasur empuk itu. Tia meraih ponselnya yang berada di atas nakas, jari jarinya terlihat sedang bermain disana. Entah apa yang ia tulis sekarang. Setelah selesai dengan ponselnya, ia kembali meletakkan benda kecil itu diatas nakas.
Perlahan Tia memejamkan matanya, memeluk guling yang selalu menemaninya tidur, tidak berapa lama, sudah terdengar dengkuran kecil dari gadis itu, ia sudah terlelap masuk kedalam mimpinya.
__ADS_1
~
Pukul 02.00 dini hari, Andika baru kembali ke apartemennya. Doni yang menemaninya pulang pun ikut menginap disana karena merasa sudah sangat mengantuk.
Setelah tadi Bimo mengantarnya pulang ke apartemen, Doni menghubungi dan memintanya untuk datang ke pesta malam sahabatnya, karena merasa suntuk dengan semua masalah kantor akhirnya ia menerima ajakan Doni dan pergi kesebuah Club malam.
Minuman beralkohol itu membuat kesadarnnya berkurang, Doni pun tidak mengizinkan sahabatnya pulang sendiri karena takut akan terjadi apa apa, jadi ia memilih untuk pulang bersama dan menginap di apartemen Andika.
~
Udara dingin di pagi hari masih terasa ditubuh Tia, sedangkan diluar sana matahari sudah terang benderang menyinari bumi. Tia meregangkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku karena tidur terlalu lama. Menguap beberapa kali sambil terus mengumpulkan nafas.
Ia sudah duduk di pinggiran tempat tidur, menatap ponselnya yang berada diatas nakas lalu meraih benda pipihnya itu.
Kenapa dia tidak membalas pesanku ya? Batin Tia.
Wajahnya sudah terlihat murung pagi pagi, ia kembali meletakkan benda kecil itu dan berlalu menuju kamar mandi. Karena sekarang akhir pekan, ia tidak mandi sepagi biasanya, hanya mencuci wajah lalu menggosok gigi. Setelah selesai ia keluar dari kamarnya untuk melihat keberadaan orang tuanya.
"Apa kau sudah memberitahu Andika?" tanya Gunawan tiba tiba, membuat Tia terperanjak dan langsung memegangi dadanya.
"Dimana Andika, dia akan datang kan?" kembali bertanya sambil berjalan menuju sofa.
"Dia tidak membalas pesanku ayah, mungkin dia sibuk," jelas Tia, membuat Gunawan terlihat sedikit kecewa dan tidak lagi bertanya.
Sarapan telah siap dimeja makan, Rita menghampiri suami dan anaknya untuk mengajak sarapan sebelum mereka keterminal. Di meja makan, tidak ada yang terlibat pembicaraan, Tia hanya sesekali melirik orang tuanya, berharap bahwa lelaki paruh baya dihadapannya berubah fikiran dan membiarkannya untuk ikut berkunjung.
Semua masih fokus dengan makanan dihadapannya. Tia berhenti sejenak saat mendengar suara klakson dari halaman rumahnya. Garis bibir Gunawan langsung terlihat, seperti sudah tahu siapa yang datang.
"Biar aku yang lihat," kata Tia mencegah ibunya, dan ia langsung meninggalkan manusia paruh baya itu.
"Sayang, maaf kan aku, aku benar benar minta maaf." Andika sudah berdiri diteras rumah, raut menyesal sangat terlihat di wajahnya.
"Masuklah, ayah sudah menunggu," ujar Tia tersenyum, Andika mengangguk dan mengikuti langkah kaki gadis dihadapannya.
Gunawan langsung tersenyun sangat cerah saat melihat bahwa yang datang benar benar Andika. Ia bahkan menyuruh Andika untuk duduk didekat kursinya.
__ADS_1
Ayah ini kenapa sih? Kenapa sikapnya sangat berbeda sekarang. Tia bertanya dalam hati, meminta jawaban dari dirinya sendiri.
Setelah Andika duduk, semua kembali menikmati sarapannya, hanya Gunawan dan Andika yang terlibat pembicaraan.
Ternyata ayah meminta kami mengantarnya keterminal. Huuu, kenapa tidak sekalian mengajak kami sih, biar enak. Batin Tia, ia sudah paham maksud ayahnya mengundang Andika pagi pagi.
Aktivitas dimeja makan telah selesai. Andika langsung membantu Gunawan untuk memasukan tas pakaian mereka kedalam bagasi mobil. Sedangkan Tia, ia terus melengket dilengan ibunya, membuat Rita merasa bersalah saja karena meninggalkan anaknya sendiri.
Mobil sudah meninggalkan kediaman Gunawan. Membelah jalanan kota, akhir pekan membuat jalanan terlihat padat oleh kendaraan yang terus berlalu lalang.
"Dika ...." Gunawan memecah keheningan.
"Ada apa ayah?" tanya Andika, melirik sekilas ke arah spion lalu kembali menatap kedepan.
"Kau benar benar sudah menganggapku seperti ayahmu sendiri ya," imbuh Gunawan tersenyum namun terdengar sangat serius.
"Tentu saja." Andika menjawab tak kalah serius dari lelaki paruh baya dibelakangnya. Sedangkan Rita dan Tia hanya tertawa mendengar obrolan kedua lelaki itu.
"Apa kau benar benar mencintai putriku?" tanya Gunawan, namun menatap lekat pada Tia.
Andika kembali melirik spion untuk melihat ekspresi wajah Gunawan, terlihat sangat serius, dan menunggu jawaban. Andika menarik nafasnya sebelum menjawab.
Kenapa calon ayah mertua bertanya begitu? Sikapnya terlihat berbeda hari ini, bahkan dia mengajakku bercanda tadi. Batin Andika.
"Dika ...."
Mendengar namanya kembali disebut, Andika langsung tersadar dari pikirannya.
"Ah, maaf ayah, aku melamun ya." Tertawa sendiri membuat Gunawan menggeleng beberapa kali. "Ayah, aku benar benar mencintai putri kalian, aku akan mencintainya hingga nafas terakhirku, dan akan menjaganya melibih diriku sendiri." Berbicara tegas, tidak terdengar nada bercanda sama sekali. Ia melirik Tia yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Baiklah, jangan kecewakan ayah. Kami titip Tia selama kami pergi, tolong jaga dan lindungi dia." Terdengar getir namun langsung ia tutupi dengan senyum cerah yang kembali diperlihatkan.
"Ayah, aku bukan barang yang harus dititip," ucap Tia menimpali. Membuat orang tuanya dan Andika langsung tertawa.
Jangan lupa vote, like, dan komen Kak🤗
__ADS_1
Terima kasih😌💙🙏