Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 48


__ADS_3

Semua orang punya mimpi, tapi tidak semua orang bisa mewujudkannya. Jangan jadikan mimpimu sebagai angan angan yang tak pernah kau realitakan, berdo'a dan berusaha, karena Tuhan maha melihat, dan usahamu tidak akan pernah menjadi sia sia.


Seorang gadis lulusan SD, tak pernah pasrah dan putus asa akan nasibnya, berusaha untuk bisa membantu kebutuhan keluarga. Karena kerja kerasnya selama ini, akhirnya sekarang bisa mempunyai usaha Butik sendiri.


Sampai sekarang pun, Tia masih saja bekerja keras layaknya karyawan biasa di Butik miliknya sendiri.


Setelah beberapa jam bergelayut dengan barang barang yang baru tiba di Butik, Tia merebahkan dirinya di sofa karena merasa ngilu di bagian belakang tubuhnya akibat duduk terlalu lama.


Sedangkan karyawan yang lain, setelah istirahat beberapa menit, mereka kembali berkemas dan melayani pelanggan yang datang.


Tanpa sadar, Tia terlelap di sofa, hembusan nafasnya menandakan bahwa ia sudah berada di alam mimpi.


~


Di salah satu kantor cabang milik keluarga Andika, semua karyawan sibuk dengan pekerjaannya. Menatap fokus ke layar laptop dengan berkas yang bertumpuk di meja kerjanya.


Hari ini akan ada pertemuan yang dilaksanakan di kantor cabang setelah makan siang. Membuat karyawan kalang kabut karena pertemuan yang mendadak ini.


Beberapa karyawan yang terlibat terlihat begitu sibuk meskipun nanti mereka hanya akan duduk sambil mengamati beberapa orang yang akan memberikan presentase.


~


Andika sudah berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantornya, menikmati makan siang bersama Bimo sebelum menuju ke kantor cabang.


Tidak ada yang saling bicara, kedua manusia itu fokus dengan santapan di depannya, hanya suara sendok dan piring yang saling beradu, serta suara orang orang yang juga berada di ruangan yang sama dengan mereka.


"Apa kita akan berangkat sekarang Tuan?" tanya Bimo saat mereka telah selesai.


"Iya Bim, lebih cepat lebih baik," jawab Andika lalu beranjak dari duduknya.


"Baik Tuan, silahkan Anda," tutur Bimo yang ikut beranjak.


Bimo sudah melajukan mobilnya meninggalkan halama mall, memecah jalanan untuk menuju tempat diadakannya pertemuan.


Mobil sudah memasuki area kantor cabang, beberapa karyawan dan petinggi perusahaan sudah mengambil posisi masing masing saat melihat mobil yang membawa majikannya datang.


Bimo turun lebih dulu lalu membuka pintu mobil untuk Andika, lelaki itu pun ikut turun sambil merapikan sedikit jasnya.


Andika berjalan mendekat ke arah orang orang yang sudah menunggu kedatangannya. Mereka tersenyum dengan menganggukkan kepala sopan untuk menyambut sang pewaris dari keluarga Iskandar. 

__ADS_1


"Mari Tuan," tutur Bimo mempersilahkan. "Apa semua sudah siap?" lanjutnya berbicara pada petinggi perusahaan.


"Sudah Tuan," jawabnya sambil menunduk.


Mereka pun berjalan menuju ruangan diadakannya pertemuan. Bimo sudah membukakan pintu untuk majikannya, semua yang berada di dalam ruangan pun langsung berdiri saat melihat Andika memasuki ruangan.


"Duduklah.!" Andika berucap karena melihat karyawan yang lain masih terus berdiri di tempatnya.


Semua pun kembali duduk di tempat mereka, mulai mengeluarkan beberapa berkas yang mungkin dibutuhkan. Bimo sudah ikut duduk samping Tuannya, bersiap jika ada yang di perlukan lelaki itu.


~


Di dalam Butik, Tia masih dengan nyamannya terlelap di sofa. Ia bahkan sudah melewatkan waktu makan siangnya. Karyawannya pun tidak tega untuk membangunkan karena melihatnya tertidur sangat pulas. 


Beberapa pelanggar tersenyum saat melihat pemilik Butik itu dengan nyamannya mendengkur. Meskipun pelan, tapi masih terdengar di telinga mereka.


"Apa Kak Tia benar benar tidur?" tanya Anggi khawatir.


"Apa maksudmu? Tentu saja dia tidur." Ulan menjawab sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


"Aku takut Kak Tia pingsan, ini kan sudah lewat makan siang, apa dia tidak lapar." Berbicara lagi dengan terus menatap wajah terlelap bosnya.


Setelah puas menertawakan orang masih tertidur pulas, mereka kembali melanjutkan pekerjaan dan melayani pelanggan yang datang. 


Tia beberapa menggeliat tapi belum terbangun. Ia sama sekali tidak terganggu dengan suara berisik di dalam Butiknya. Sudah hampir dua jam dan gadis itu belum juga terbangun.


"Mbak Gita," sapa Ulan saat melihat gadis itu di ambang pintu masuk.


Gita tersenyum sambil berjalan mendekat ke arahnya.


"Dimana Tia?" tanyanya


Ulan hanya menjawab dengan lirikan matanya yang tertuju ke sofa, Gita pun langsung melihat ke arah yang sama. 


"Hei, astaga, apa yang kau lakukan." Berteriak dan langsung menghampiri Tia. "Tia, ini sudah malam, apa kau akan menginap disini?" berbicara lagi dengan nada suara yang tinggi, berfikir bahwa ucapannya akan menyadarkan Tia dari mimpi indahnya.


Dan benar saja, Tia kembali menggeliat dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha mengumpulkan nafas dan kembali ke dunia nyata.


"Gita, kenapa kau berisik sekali?" tanyanya masih setengah sadar.

__ADS_1


"Cepat bangun, apa kau tidak malu dengan suara dengkuran mu yang memenuhi ruangan." Berbohong lagi agar Tia terpancing dan segera bangun.


Masih mengumpulkan nafasnya, Tia bangun lalu duduk di sofa, menatap sekelilingnya untuk memastikan siapa saja yang telah mendengarnya mendengkur.


Para karyawan dan pelanggan yang melihatnya hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu.


"Ceh gadis jahat, kau telah membohongiku," hardinya saat menyadari bahwa Gita telah berbohong. 


"Ha-ha-ha, tenanglah, aku akan mengajakmu bersenang senang hari ini," imbuh Gita di sela sela tawanya. "Ayo pergi," ajaknya sambil menarik tangan Tia.


"Hei, tunggu dulu, aku mau mencuci wajahku," ujar Tia dan berusaha melepaskan tangan Gita.


"Tidak perlu, ayo pergi," cegah Gita, lalu mengambil tas Tia yang berada di meja dan kembali berjalan.


"Aku pergi dulu, kalian jaga Butik dulu." Tia pun mengalah, lalu sedikit berteriak untuk memberitahu karyawannya.


"Siap Kak," jawab Ulan dari dalam.


"Masuk lah," ucap Gita sambil mendorong tubuh Tia untuk segera masuk.


"Apa kau ingin menculikku, kenapa begitu kasar." Merasa kesal sendiri dengan tingkah Gita, namun gadis itu hanya tertawa mendengar omelan sahabatnya.


Gita sudah melajukan mobilnya meninggalkan Butik. Sedangkan Tia ia masih terus mengamati kemana Gita akan membawanya.


Ha-ha-ha … mereka tertawa sangat keras saat mendengar suara perut Tia yang berbunyi meminta asupan.


"Memalukan hahaha," tuturnya masih terus tertawa.


"Apa kau tidak makan hari ini? Aku kasihan mendengar cacing di perutmu." Gita terus tertawa hingga ujung matanya mengeluarkan air.


"Sembarangan, aku sudah sarapan tadi," jawabnya polos, ia mungkin belum melihat jam sekarang.


Lagi lagi Gita kembali menertawakan gadis di sampingnya, bagaimana mungkin gadis itu membahas sarapan jika sekarang waktu makan siang pun sudah lewat.


"Apa kau belum makan siang?"


"Apa ini sudah siang?" bertanya kembali seperti orang bodoh. Membuat Gita terus menertawakannya.


Jangan lupa vote, like, dan komen🤗

__ADS_1


Terimakasih😌💙🙏


__ADS_2