Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 54


__ADS_3

Hari bergulir sangat cepat, aktivitas orang orang masih berjalan lancar hingga saat ini. Meskipun di sebuah perusahaan pusat Bimo masih di bikin pusing dengan semua pekerjaannya, tapi ia tidak memperlihatkan pada karyawan lain agar semua berjalan sesuai rencananya.


Dua hari belakangan ini ia terus menyelidiki siapa dalang dari semua kekacauan yang terjadi di perusahaan majikannya. Sebenarnya sudah ada titik terang yang ia ketahui, tapi lebih mencari bukti yang benar benar nyata agar tikus tikus itu tidak bisa untuk mengelak.


Andika pun demikian, ia ikut menyelidiki kasus yang telah membuat perusahaannya rugi besar sehingga terancam bangkrut. Orang yang dengan tidak tahu malunya membuat kekacauan, menjadi musuh dalam selimut, benar benar harus dihilangkan dari muka bumi ini.


Setelah penyelidikan beberapa hari, semua bukti nyata sudah ada di tangan Bimo. Dua orang saksi yang juga adalah karyawan restoran ikut membantu menjelaskan jika mereka kembali dimintai saksi mata.


Bersiap lah, kalian akan membusuk di penjara wahai manusia tidak tahu di untung. Kalian bahkan telah menambah pekerjaanku. Huu, ini akan jadi nilai plus dalam hukuman kalian. Batin Bimo menggerutu, batas kesabarannya benar benar telah habis sekarang.


"Tuan, saya sudah menghubungi pihak kepolisian, mereka telah menuju lokasi, apa Tuan ingin melihatnya?" tanya Bimo yang sekarang berada di ruangan kerja Andika.


"Tentu saja, aku ingin melihat bagaimana wajah mereka nanti." Ada senyum tipis yang muncul di wajahnya. Ia memang bukan tipe bos yang kejam, tapi yang salah memang harus mendapat hukuman agar menjadi pelajaran untuk tidak melakukan lagi kedepannya dan untuk orang lain.


Setelah itu, mereka langsung bergegas keluar dari ruangan. Menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar perusahaan.


~


Bimo membukakan pintu mobil untuk majikannya, lelaki itu masuk dan duduk dengan tenang. Lalu Bimo membuka pintu kemudi dan duduk disana. Mulai menyalakan mesin dan berlalu meninggalkan halaman kantor.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang saling berbicara di antara mereka. Andika hanyut dalam lamunannya, memikirkan bagaimana cara agar perusahaannya kembali normal setelah ini. Ia menyandarkan kepalanya di kursi, sesekali mendesah kesal karena mengingat orang yang dipercaya keluarganya malah berkhianat dan merugikan mereka.


Karena kondisi jalan yang cukup lengang membuat mereka tidak memakan waktu lama dalam perjalanan. Mobil sudah memasuki area parkir sebuah restoran, sudah terlihat beberapa mobil polisi disana.


Andika sudah turun lebih dulu bahkan sebelum Bimo membuka pintu mobilnya. Ia benar benar tidak sabar ingin melihat wajah wajah sang pengkhianat.

__ADS_1


Bimo pun mempercepat langkahnya untuk menyusul Andika yang sudah memasuki restoran. Perasaan lega dan cemas bercampur memenuhi pikirannya. 


Restoran terlihat sangat sepi di lantai bawah, Andika menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Mereka terdiam sejenak, mendengar suara keributan dari lantai dua. Dengan langkah cepatnya, Andika kembali meninggalkan Bimo dan sedikit berlari menaiki anak tangga.


Cih! 


Wajahnya sudah berubah, tatapan dinginnya seketika menghentikan keributan yang sempat terjadi. Ada tiga orang lelaki yang terlihat pucat pasi di hadapannya.


Andika berjalan mendekat, menghentikan langkahnya saat jaraknya hanya tersisa lima langkah dari lelaki yang tampak ketakutan sekarang.


Setelah melihat Andika berdiri tidak bergeming, seorang laki laki langsung berjalan dan berlutut di kakinya, sudah tidak peduli dengan tatapan semua orang, ia harus menyelamatkan diri, begitu pikirnya.


"Tuan, ampuni saya Tuan, tolong ampuni saya." Memohon dengan penuh rasa penyesalan.


Dasar tidak tahu malu, kesalahanmu sudah sangat fatal, mengerikan sekali.dan kau masih berani memasang wajah memelas seperti itu. Bimo merasa jengah melihat lelaki yang sedang berlutut. 


"Bangunlah Tuan, tidak ada gunanya berlutut seperti itu. Silahkan renungkan kesalahan Anda dan jalani hukumannya." Bimo bersuara dengan nada yang sangat santai. Namun terdengar menakutkan di telinga orang orang yang bersalah.


"Bangunlah!" sekarang Andika yang bicara. Biar bagaimana pun, lelaki di hadapannya masih lebih tua darinya, dan sangat tidak sopan jika ia membiarkan lelaki itu terus berlutut.


Tidak ada reaksi dari lelaki itu, masih menunduk menatap lantai, mencengkram lututnya sendiri, tidak peduli sudah dengan harga dirinya. Bahkan semua karyawan restoran sudah menatapnya dengan penuh iba.


"Berdirilah, jangan membuatku terlihat seperti orang jahat." Berbicara lagi saat pria itu tidak bergerak. Dengan lutut yang bergetar ia bangun dan berdiri di hadapan Andika, masih terus menunduk, tidak berani menatap lelaki yang berada di hadapannya.


Sementara yang lain, masih diam mematung, terus mengamati pembicaraan Andika yang terlihat sangat marah namun tetap menahan diri karena sudah ada pihak kepolisian disana.

__ADS_1


"Dika," ucap seorang lelaki dengan suara lirih. Andika meliriknya sebentar lalu kembali membuang pandangan ke arah lain.


"Saya memang tidak mengenal Anda dengan baik, tapi Anda tentu tahu bahwa papa saya sudah menganggap Anda seperti saudaranya sendiri." Ada nada kecewa dengan kalimatnya. Namun sesat iya langsung tersenyum tipis sebelum kembali berbicara. "Anda beruntung karena papa saya tidak berada disini sekarang. Tapi tenang lah, saya tidak akan memberitahu keluarga saya tentang sikap lain dari diri Anda." Tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri.


"Pak, silahkan selesaikan pekerjaan kalian. Tolong segera bawa mereka pergi dari sini." Andika kembali menatap tajam tikus tikus perusak di hadapannya. 


"Baik Tuan, terima kasih atas kerjasamanya, kami akan memberi keadilan untuk Anda dan keluarga." Bapak Polisi terdengar turut prihatin.


Beberapa polisi sudah membawa tiga orang si biang kerok menuju lantai dasar dan segera ke kantor polisi untuk di proses. Mempertanggung jawabkan semua kesalahan yang sengaja mereka lakukan.


Masih di lantai dua restoran, Andika sudah duduk di sebuah sofa, menatap satu persatu karyawan yang berkumpul di ruangan yang sama dengannya.


"Apa yang kalian pikirkan sekarang?" tanyanya dengan terus memperhatikan semua orang. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya, semua diam, lidahnya keluh, udara di ruangan ini sudah terasa berbeda. Bimo pun sudah ikut diam sedari tadi, tidak mau memotong ucapan majikannya. 


"Bim," panggil Andika membuat Bimo tersadar dari pikirannya yang entah sedang apa.


"Eh, ia Tuan," sahutnya sedikit gelapan.


"Kau urus dan jelaskan pada mereka, ingat semua pesanku tadi siang kan." Mencoba mengingatkan kembali obrolan mereka tadi siang.


"Ia Tuan, saya mengingatnya," jawab Bimo.


"Baiklah. Bimo akan mengurus semuanya besok, sekarang kalian boleh pulang dulu untuk beristirahat," ujarnya dengan posisi yang sudah beranjak dari duduknya.


Tidak ada yang bersuara, hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban bahwa mereka mengerti. 

__ADS_1


Tuan, kenapa harus besok? Sekarang kan bisa agar besok pekerjaanku bisa di ringankan, ini juga masih terlalu cepat untuk mereka pulang kerumahnya. Batin Bimo hanya bisa mengeluh dalam hati.


"Bim, antar aku pulang sekarang." Andika kembali bersuara, menyadarkan Bimo dari lamunannya. Bimo melirik semua karyawan sebelum ia menuruni anak tangga untuk menyusul sang majikan.


__ADS_2