Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 69


__ADS_3

Tia sudah keluar dari kamar mandi, ia berjalan sambil terus mengucek matanya yang berair karena rasa kantuknya.


Tiba tiba ia menghentikan langkahnya, matanya menatap fokus pada sofa, terlihat seseorang tengah berbaring di sana, tanpa selimut ataupun kain yang menutup tubuhnya.


"Git, kenapa kau tidur di sana?" tanyanya dengan berjalan mendekat, mengira bahwa yang sedang tertidur di sofa adalah Gita. "Andika!" Tia langsung menatap ke setiap sudut ruangan yang terlihat gelap, hanya pendar lampu tidur yang membuat ruangan itu sedikit bercahaya.


"Astaga, ini kan bukan kamar Gita," gerutu Tia yang sudah menyadari kebodohannya, ia mengira bahwa kamar mandinya pindah tempat, ternyata ia memang tidak tidur di kamar yang biasanya.


Tia memperhatikan sesosok pria yang sedang tertidur di atas sofa di hadapannya, kemudian bibirnya melengkung, menyadari bahwa semua ini pasti adalah ulang kekasihnya.


Tia kembali berjalan ke arah tempat tidur, ia menarik selimut tebal yang tadi ia gunakan, kemudian menutupi sebagian tubuh Andika yang terlihat kedinginan.


"Apa tadi dia mengangkatku ke atas ya, hahaha dasar bodoh!" Tia menahan tawanya karena takut Andika terbangun, ia ingin segera beranjak dan melanjutkan tidurnya karena mata yang kembali mengantuk. 


Entah sadar atau tidak, Andika tiba tiba menarik pergelangan tangan Tia cukup keras, membuat gadis itu tidak bisa menahan tubuhnya dan ia ambruk di atas tubuh Andika, menindih lelaki itu dengan posisi tidak enak.


Aduh ... sakit. Tia meringis sambil memegangi kepalanya yang terbentur pada kepala Andika. Ia menatap jengah pada lelaki yang telah menariknya namun terlihat tetap tenang.


"Kepalaku sakit, hiks. Kenapa menarik ku begini." Tia memukul pelan dada bidang Andika, lelaki itu tidak bergerak, masih berbaring dengan mata terpejam. Perlahan Tia mengangkat wajahnya, menatap wajah Andika yang hanya berjarak seintim dari wajahnya. 


Kenapa dia terlihat lebih tampan jika tertidur beginim. Garis senyum kembali terlihat di wajah Tia, tanpa sadar tangannya sudah menekan nekan wajah Andika di hadapannya.


"Sayang, apa kau berusaha menggodaku," ucap Andika yang langsung bersuara, membuat Tia menarik tangannya dan ingin segera bangkit dari posisinya sekarang. Namun Andika dengan sigap memeluknya, semakin erat hingga Tia benar benar tidak bisa bergerak. 


"Sayang. Lepaskan aku!" Tia masih berusaha menarik tangan Andika yang sudah memeluknya, namun tenaganya kalah kuat, dan membuat usahanya sia sia. 


"Tidurlah!" Andika memperbaiki posisinya, memberi ruang untuk Tia agar berbaring di sampingnya, menjadikan lengannya sebagai bantal perempuan itu.


"Aku akan tidur, tapi tidak disini." Tia masih berusaha untuk bisa kembali ke tempat tidur yang tadi ia pakai. 


"Kenapa?"


"Karena aku tidak mau."


"Sayang, kenapa? Tidurlah, sebentar lagi pagi, kau kan mau ke butik besok pagi." Andika masih menahan tubuhnya untuk bangun, ia mendekap Tia sangat erat di sampingnya. Tia mendengus kesal, mungkin dari mulutnya ia menolak untuk tidur di samping lelaki itu, tapi dari dalam tubuhnya seakan akan yang memaksa agar ia tetap berada disitu.


Akhirnya tidak ada pilihan lain, Tia tetap membaringkan tubuhnya di samping Andika, di atas sofa panjang yang seharusnya hanya cukup untuk satu orang jika berbaring.  


Andika menarik selimut, menutupi tubuhnya dan Tia dengan tersenyum nakal. "Tidurlah!" ujarnya dengan mengecup singkat bibir Tia dan mulai merajut kembali mimpinya yang sempat tertunda. 


~

__ADS_1


Tok … tok … tok


Ketukan pintu sudah terdengar beberapa kali, namun kedua manusia yang berada di sofa belum juga menyadari. Jari jari milik Gita sepertinya sudah terasa sakit gara gara mengetuk pintu sejak tadi.


"Astaga!" teriak Gita saat membuka pintu dan melihat sepasang kekasih masih tertidur pulas di bawah selimut tebal. "Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Gita yang langsung menghampiri.


"Gita! Kenapa kau berteriak pagi pagi?" gerutu Andika dengan suara serak khas bangun tidur. Ia kemudian tersenyum saat melirik Tia yang masih terlelap di sampingnya.


"Dika, kau kan bisa beritahu papa atau mama jika kau sudah mau, kenapa kalian harus seperti ini." Gita mengoceh, memberi argumen sesukanya, membuat Andika menatap tajam ke arahnya.


"Berhenti berbicara omong kosong Gita. Dasar anak kecil." Andika mendengus kesal mendengar ucapan Gita. 


Hoaaammm ….


Tia mengerjapkan matanya beberapa kali, mulai berusaha untuk mengumpulkan nafasnya kembali. Ia melirik sekilas ke arah Andika, lelaki itu tersenyum lalu kembali memberi ciuman singkat di pipinya.


"Aku tunggu di bawah saja, cepat turun atau aku akan mengadukan kalian pada mama dan papa." Gita mengancam dengan mengalihkan pandangannya dari sepasang kekasih yang masih berbaring bersama di sofa. Lalu ia melangkah keluar tanpa melihat wajah terkejut Tia karena kehadirannya di sana.


"Sejak kapan dia kemari?" tanya Tia dan Andika hanya tersenyum tanpa menjawab. "Dan tadi dia bilang apa? Ingin mengadukan kita?" lanjutnya dengan begitu bingung.


"Hm … tadi dia melihat kita saling berpelukan, mungkin jika dia mengadu kita akan segera dinikahkan." Andika menjelaskan dengan begitu enteng, membuat Tia membelalakkan matanya terkejut lalu segera bangkit dari sofa dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Andika yang sudah tersenyum puas karena berhasil menggodanya.


Andika ikut beranjak saat tubuh Tia sudah hilang dari balik pintu, ia berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya sebelum berangkat bekerja.


~


"Pagi nak, dimana Dika?" tanya Iskandar karena tidak melihat putranya.


"Mungkin masih bersiap pa," jawabnya dengan melirik ke arah Gita, gadis yang dilirik malah memperlihatkan senyum jenakanya. Membuat Tia malu dan takut bersamaan.


Kau pasti takut aku mengatakan jika kalian semalam tidur bersama kan. Gita tertawa dalam hati.


"Tia kau kenapa? Ayo duduk!" Gita mengedipkan matanya beberapa kali, menggoda Tia yang sudah tak enak hati karena ancamannya. Tia pun menarik kursi lalu duduk di sana.


"Maaf aku terlambat." Andika sudah ikut bergabung, duduk di kursi kosong di sebelah Tia.


"Sepertinya tidurmu begitu nyenyak," timpal Isma dengan lembut. Membuat pipi Tia merona tanpa berani mengangkat wajahnya.


Mereka kembali menikmati sarapan dengan menu sup wortel telur yang dibuat oleh koki rumah itu. Tidak ada lagi yang saling, hanya fokus pada yang terlihat lezat di hadapan mereka.


Setelah semua selesai dengan sarapannya, Gita pamit untuk segera ke kampus karena ada kelas pagi ini. Ia berangkat menggunakan mobil mewah miliknya.

__ADS_1


"Kami juga pamit ya ma," ucap Andika pada kedua orang tuanya, kedua manusia paruh itu mengangguk dengan tersenyum.


"Hati hati di jalan, jangan ngebut." Isma memeluk singkat tubuh putranya lalu beralih memeluk erat tubuh Tia, memberi beberapa kecupan di puncak kepala gadis itu. Tia mencium punggung tangan Iskandar dan Isma bergantian, lalu berjalan ke arah mobil yang sudah disiapkan.


"Bimo tidak kemari?" tanya Tia sambil menatap ke kiri dan kanan, kenapa tidak ada Bimo, pikirnya.


"Dia sudah berangkat lebih dulu, ayo masuk!" Andika membuka pintu di sisih Tia, dan gadis itu menurut lalu segera masuk dan duduk di samping kursi kemudi.


Andika memutar tubuhnya, mengitari mobil, membuka pintu untuknya lalu duduk dan siap untuk segera berangkat. Ia melirik Tia di sampingnya, lalu menyalakan mesin mobil dan mulai meninggalkan halaman rumah mewahnya itu.


Mobil mulai memecah keramaian pagi ini, orang orang yang berlalu lalang di bawah teriknya matahari pagi, membuat keramaian dimana mana.


Mereka masih mengobrol di dalam mobil, Tia yang masih takut jika Gita benar benar mengadukan mereka, membuat Andika tak hentinya tertawa karena kepolosan kekasihnya.


Meskipun Andika sudah mengatakan bahwa Gita hanya menggodanya, Tia masih terlihat malu dan cemas. Mengira bahwa ancaman Gita itu serius.


"Sayang, kenapa kau begitu takut, aku akan bertanggung jawab, jadi tenanglah!" Andika kembali tertawa mendengar kalimatnya sendiri, membuah Tia merasa semakin jengah.


"Tanggung jawab apa? Kita kan tidak melakukan apapun." Tia kembali menatapnya tajam membuat Andika menarik hidungnya gemas.


"Sampai," ujar Andika saat mobil sudah berhenti tepat di depan Butik milik Tia.


Sesaat Tia terdiam, menatap nanar ke arah luar jendela yang memperlihatkan Butiknya, sekilas kenangan manis bersama keluarganya terlintas di pikirannya. Tia tersenyum dengan tatapan sendu, lalu beralih menatap Andika yang masih berada disampingnya.


"Apa kau mau masuk dulu?" tanya Tia dan Andika langsung melihat arloji di tangannya lalu menggeleng dengan tersenyum kecut. 


"Aku langsung ke kantor saja, Bimo pasti sudah menunggu," ucapnya. 


Tia mengangguk mengerti dan ingin segera turun dari mobil, namun Andika lebih dulu menarik tangannya membuat Tia kembali melihat ke arah lelaki itu. "Ada apa?" tanya Tia bingung.


"Selamat bekerja kembali, kumohon berhenti bersedih." Andika mengangkat jari kelingkingnya, tatapannya seperti anak kecil yang sedang memohon. Tia tersenyum lalu ikut mengaitkan jari kelingkingnya disana.


"Berhati hatilah!"


"Kau juga. Aku mencintaimu!" ciuman singkat kembali diberikan untuk Tia sebelum ia benar benar turun dari dalam mobil, sudah seperti kewajiban yang tak boleh terlewatkan bagi Andika.


Mobil laki laki itu sudah kembali melaju, Tia masih berdiri di tempatnya, menatap mobil Andika yang hanya seperti titik hitam dari kejauhan.


"Kak Tia!" seseorang berteriak dengan sangat antusias dari teras Butik, membuat Tia tersenyum dan langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat ke asal suara.


Jangan lupa vote, like dan komen, jika tidak punya poin/koin, silahkan like saja, karena itu gratis, jadi nggak merugikan kalian🤗😚

__ADS_1


Terima kasih😌💙🙏


__ADS_2