Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 60


__ADS_3

#flashback


Sore itu hujan turun membasahi bumi, bus masih melaju dengan kecepatan tinggi. Sang supir sesekali menguap karena merasa mengantuk. Cuaca seperti sekarang sepertinya akan enak jika hanya tidur dirumah bersama istri. Tapi pekerjaan menyuruhnya untuk tetap konsisten.


Ia melirik ke arahnya teman yang berada di sampingnya, pria itu tertidur pulas rupanya. Kemudian melirik spion tengah untuk melihat penumpangnya di belakang sana. Banyak dari mereka yang tertidur dengan posisi saling berhadapan dengan pasangan masing masing.


Aku merindukan istriku di cuaca seperti ini, hiks hiks! sang supir mengerutkan wajahnya dan kembali fokus ke depan.


Rasa kantuk semakin menjalar pada dirinya. Hujan juga masih sangat deras, terlihat jelas dari jendela bus itu.


Agar rasa kantuknya bisa sedikit berkurang, pria itu berinisiatif untuk melakukan panggilan video dengan istrinya. Dengan adanya sang istri yang berbicara, meskipun hanya dalam layar ponsel, itu mungkin bisa membuat matanya kuat.


Ponsel sudah di tangannya, senyumnya terpancar saat melihat foto seorang perempuan di layar benda pipihnya. Ia pun segera menelpon dan meletakkan ponselnya di tempat yang bisa memperlihatkan wajahnya dengan jelas nanti.


"Hallo sayang!"


Panggilan sudah tersambung, langsung berbicara saat melihat wajah istrinya di seberang sana.


"Mas, kenapa menelpon, mas kan belum sampai," ujar sang istri


"Mas mengantuk, kau temani mas bicara ya," jawabnya. Lelaki itu hanya sesekali melihat ke arah ponselnya. Sang istri terus berbicara dengan riang. Menemani suaminya meskipun tidak secara langsung.


Lubang yang berada di tengah jalan membuat hentakan keras pada bus itu. Ponsel yang tadinya menunjukkan wajah sang istri sudah terjatuh di bawah kakinya.


"Sial," umpatnya. Tangannya sudah meraba ke bawah mencari benda pipih miliknya, tatapannya sudah tidak fokus pada jalan.


Teeeetttttttttt …. Suara klakson terdengar sangat keras dari arah berlawanan.


Bruukkkk ….


Suara hantaman terdengar sangat keras, dengan suara klakson yang terus berbunyi nyaring.


"Maafkan aku Tuhan," gumam sang supir sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.


~


Diki sudah tidak tenang di rumahnya, ia beberapa kali menghubungi ponsel ayahnya namun tidak pernah tersambung.


"Kenapa ponsel mereka tidak aktif?" bertanya pada dirinya sendiri. Sudah mondar mandir di dalam rumahnya. Membuat sang istri ikut khawatir.


"Sayang, kamu jangan gitu dong, aku makin pusing liat kamu mondar mandir," ujar Rena pada Diki.


"Ren, mereka seharusnya sudah sampai sekarang, tapi kenapa …, " ucapnya menggantung dengan menatap sendu pada istrinya. "Kamu jaga anak anak ya, aku mau ke terminal, siapa tau mereka terjebak hujan disana," lanjutnya yang sudah berjalan ke ambang pintu utama rumahnya.

__ADS_1


"Yasudah, hati hati di jalan. Beritahu aku jika sudah bertemu dengan mereka." 


Tanpa menunggu lama, Diki sudah berlalu meninggalkan halaman rumahnya dengan sepeda motor yang dibelikan Tia untuknya.


Hujan belum sepenuhnya reda, namun juga sudah tidak sederas tadi. Diki melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena jalanan yang begitu licin.


~


"Permisi, saya ingin bertanya, apakah bus dari kota M sudah tiba?" tanya Diki sopan pada salah satu petugas parkir yang berada disana.


"Kota M?" ulang pria itu sedikit terkejut. Diki langsung mengangguk, masih menunggu jawaban dari lelaki paruh baya itu. "Bus itu mengalami kecelakaan di persimpangan kota pak."


Tubuh yang tadinya berdiri dengan tegap langsung terduduk di atas genangan air yang masih tersisah. Pikirannya langsung berlarian, wajah ayah dan ibunya terlihat sekilas di hadapannya, mereka tersenyum menatap Diki yang tidak bergeming.


"Ayah, ibu, maafkan aku," gumamnya dengan tubuh yang seperti tidak memiliki tenaga.


"Pak … pak, apa Anda baik baik saja?" tanya lelaki paruh baya yang terlihat panik di sampingnya. Ia membantu Diki untuk segera berdiri. 


"Ayah dan ibu saya ada di bus itu pak," katanya dengan begitu lirih. Pria yang tadi membantunya terlihat terkejut lalu menepuk nepuk punggung Diki beberapa kali.


"Sebaiknya Anda pergi ke RS kota saja pak, mungkin penumpang yang jadi korban sudah ada disana."


"Baik, terima kasih."


~


"Dokter, apakah ada pasien bus kecelakaan disini?" tanyanya panik dengan salah satu Dokter yang ia temui.


"Benar pak, silahkan cek di meja resepsionis," ujar Dokter itu dan Diki segera berlari menuju tempat yang ditunjuk Dokter itu.


Sebuah perawat menuntunnya menuju ruang ICU dimana orang tuanya berada. Ia mematung di depan pintu kaca, air matanya mengalir begitu saja saat melihat orang tuanya yang sedang berbaring tidak berdaya di dalam sana. Rasa bersalah menghantui dirinya.


"Apa saya boleh masuk?" tanyanya tanpa melihat ke arah perawat itu.


"Untuk sekarang tidak bisa pak, Dokter sedang menangani pasien," jelas perawat itu tersenyum ramah.


Akhirnya ia hanya duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang ICU. Menunggu Dokter yang sedang memeriksa orang tuanya.


"Dokter, bagaimana keadaan mereka?" tanyanya langsung menghampiri Dokter perempuan yang baru saja keluar.


"Apa Anda keluarganya?"


"Iya, saya anaknya Dok."

__ADS_1


Dokter itu memanggil Diki untuk ikut keruangannya. Dengan langkah berat pria itu mengikutinya.


"Dokter, bagaimana dengan orang tua saya?" nada suaranya sudah terdengar begitu khawatir.


"Kami akan berusaha sebisa kami pak."


"Mereka harus selamat Dok, saya mohon," pintanya dengan tatapan begitu dalam.


"Maaf kan saya pak, tapi jika orang tua Anda sembuh, mereka juga tidak akan sehat seperti dulu, benturan di kepala ayah anda begitu keras sehingga membuat saraf mentalnya cedera. Dan ibu anda, benturan di bagian tulang ekornya begitu keras sehingga dia akan mengalami kecacatan." Dokter itu menjelaskan dengan rasa bersalah. Tapi bagaimana pun dia harus jujur pada keluarga pasiennya.


Mereka masih terus berbicara, Diki memohon untuk melakukan yang terbaik untuk orang tuanya. Dokter itu hanya menjawab iya dengan senyum yang ia paksakan.


Tiba tiba seorang perawat membuka pintu dan masuk dengan tergesa gesa. "Dok, pasien yang baru Anda tangani sudah sadarkan diri," jelasnya. Dengan wajah bahagia Diki langsung berlalu mengikuti Dokter yang sudah berjalan lebih dulu.


Ya Tuhan, kumohon selamatkan orang tuaku, pintanya di sela sela langkahnya.


"Mereka ingin bertemu dengan Anda," ujar Dokter yang sudah keluar dari ruang ICU. Diki pun wajah bahagianya masuk dan menghampiri orang tuanya.


"Ayah, ibu … maafkan aku," ucapnya getir dengan tatapan bersalah. Kedua manusia paruh baya itu tersenyum.


"Nak," sahut Gunawan lirih namun dengan senyum yang terus ia perlihatkan.


"Ia ayah. Kalian harus sembuh, berjanji lah padaku," pintanya memohon dengan mata yang sudah berkaca kaca. Rita tidak lagi berbicara, namun ia tetap tersenyum menatap putranya.


"Ayah ingin meminta sesuatu padamu,"


"Katakan saja ayah. Apa ayah ingin aku pindah ke kota M bersama ayah?" tanya Diki bercanda untuk menutupi ketakutan di dalam hatinya.


"Tolong telpon adikmu sekarang."


Diki segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Tia. Beberapa saat panggilan sudah tersambung, namun terdengar suara pria di seberang sana.


"Halo, dimana Tia?" tanya Diki langsung.


Belum sempat Diki mendengar jawaban Andika, Gunawan sudah lebih dulu meraih ponsel itu.


"Andika …." Gunawan sudah berbicara, meskipun terdengar sangat pelan.


"Ayah, kenapa baru memberi kabar sekarang? Kami sudah begitu khawatir, tapi syukurlah kalian tidak apa apa." Terdengar rasa lega dari seberang.


"Andika, tolong jaga putri kami dengan baik, jangan buat dia menderita bersamamu. Jangan pernah buat dia menangis," ujar Gunawan memohon, senyum masih terus terpancar di wajahnya. Sambungan telepon langsung terputus sebelum mendapat jawaban dari seberang.


Terima kasih untuk segala dukungannya😌💙🙏

__ADS_1


__ADS_2