Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 46


__ADS_3

Aktivitas di sore hari sudah selesai, Tia yang awalnya tidak ke Butik karena ingin bermalas malasan di rumah malah menghabiskan waktunya untuk berbelanja bersama ibu dan kekasihnya. 


Pukul 19:00 keluarga kecil Tia kembali berkumpul di ruang keluarga setelah membersihkan diri masing masing dan Andika yang ikut hadir di tengah tengah mereka. Tia berfikir, mungkin saja Andika ingin mengajak mereka untuk makan malam di luar. Entah lah, hanya Tuhan dan lelaki itu yang tau.


"Apa kita akan makan malam di luar?" bertanya langsung agar tidak penasaran.


Kedua orang paruh baya di hadapannya saling menatap bingung, mereka juga tidak tahu akan dibawa kemana oleh Andika. Lelaki itu hanya menyuruhnya bersiap karena ingin mengajak keluar.


"Iya, apa kalian sudah siap?" Andika tersenyum menatap bergantian ketiga manusia di depannya.


"Apa maksudmu? Kita hanya akan makan malam, kenapa harus siap dulu." Gunawan malah semakin bingung kan.


"Ha-ha-ha, mempersiapkan perut itu penting ayah." Tertawa karena merasa lucu sendiri dengan kalimatnya. "Aku hanya bercanda, ayo kita berangkat sekarang," lanjutnya saat melihat Gunawan meliriknya tajam.


Mereka pun beranjak dari duduk dan segera menuju mobil yang masih terparkir di halaman rumah.


Mobil sudah meninggalkan kediaman Gunawan. Lampu jalan terlihat indah menerangi perjalanan mereka. Kendaraan yang berlalu lalang pun cukup ramai tapi tetap terpantau lancar.


Tia hanya sesekali mengobrol dengan ibunya untuk menghilangkan keheningan. Sedangkan Gunawan, ia hanya duduk diam sambil sesekali menatap sepasang anak muda yang berada di depannya. Memperhatikan tingkah anaknya yang berada di kursi depan.


~


Tibalah mereka di depan sebuah bangunan dua lantai yang cukup besar. Andika memarkirkan mobilnya, setelah itu ia turun lebih dulu dan membuka pintu yang berada di sisih Gunawan. Tia pun ikut turun, menatap bingung pada bangunan yang ada di depannya.


"Apa ini restoran." Gunawan akhirnya mengeluarkan kalimatnya dari pada bingung.


"Sebenarnya ini bukan restoran, tapi kalian tenang saja, makanan di dalam sana juga tak kalah enak." Andika tersenyum, terlihat sangat yakin dengan ucapannya. Ia bahkan sudah menyiapkan sudah mengatur rencananya semenjak masih berada di Amerika.


"Ayo masuk, sayang ayo," ajaknya pada semua orang dan berjalan mendekat ke arah kekasihnya yang masih mengamati bangunan itu.

__ADS_1


"Hem …." Tia hanya mengangguk pelan dan mengikuti langkah kaki Andika yang menuntun mereka masuk ke dalam bangunan.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya," sapa seseorang dengan sopan.


"Apa semua sudah siap?" Andika langsung bertanya untuk memastikan.


"Sudah Tuan, mari saya antar." Membungkuk sedikit lalu berjalan lebih dulu lalu Andika dan keluarga Tia mengekor di belakang.


"Ini ruangannya Tuan, silahkan masuk," ujar pria itu dan langsung membuka pintu ruangan.


Apa ini? Siapa mereka? Ah ... apa yang mau Andika lakukan sebenarnya. Batin Tia.


Mereka pun memasuki ruangan, pria tadi kembali menutup pintu dan berlalu entah kemana. Andika menatap ke segala penjuru, memastikan bahwa tidak ada yang kurang di sini.


Tak berapa lama, pintu ruangan kembali terbuka, terlihat beberapa orang memasuki ruangan dengan membawa beberapa alat di tangannya. Kamera, hanya benda itu yang Tia tahu namanya.


Sedangkan kedua orang paruh baya itu masih dia mematung, tidak tau mau berbuat dan bersikap seperti apa. Merasa canggung meskipun merekalah yang paling Tua di ruangan ini.


"Apa kita akan berfoto?" mata Tia sudah berbinar, senyum mereka sudah terlihat dari wajahnya. Jika dugaannya benar, ini akan menjadi momen yang sangat indah untuknya.


Andika mengangguk beberapa kali, membuat Tia semakin senang tak karuan. Karena merasa sangat senang, di luar kesadarannya, ia langsung berhambur memeluk Andika, tentu saja lelaki itu menerimanya dengan senang hati.


"Hem …." Berdehem juga akhirnya.


Tia kembali sadar dengan keberadaan orang tuanya disana, dengan segera ia melepas kan dirinya dari tubuh Andika.


"Baiklah, sekarang waktunya." Andika kembali menetralkan keadaan. Mengajak keluarga kekasihnya menuju kursi yang sudah disiapkan. Fotografernya pun sudah ready sejak tadi.


Mereka pun mengatur posisi yang cocok di bantu oleh sang pemotret juga pastinya. Posisi pertama, Gunawan yang duduk berdampingan dengan Rita, Tia yang berdiri di samping ayahnya dan Andika di samping Rita, tersenyum dengan sangat bahagia.

__ADS_1


Cekrek … cekrek … memotret beberapa kali sebelum tukar posisi. Andika menyuruh kekasihnya untuk foto bertiga dengan orang tuanya, Tia pun dengan senang hati mengikuti. Senyum bahagia tak pernah pudar dari wajah gadis itu. Tentu saja, karena ini adalah kali pertama ia berfoto dengan kedua orang tuanya, dan semua adalah rencana kekasihnya.


"Mas nanti dikirim ke saya ya," ucap Tia pada lelaki yang tadi memotret mereka. Pria itu tersenyum dan mengangguk kecil.


Entah sudah berapa banyak foto yang diambil, Tia bahkan sudah kehabisan gaya tadi. Sedangkan orang tuanya, mereka pun tak kalah bahagianya. Terlihat sangat jelas kebahagiaan yang dipancarkan dari wajah mereka.


Mereka memilih beristirahat dan duduk di sebuah kursi dengan meja bundar di tengah tengah, seseorang sudah meletakkan makanan dan beberapa minuman juga yang siap di santap.


Sungguh ini makan malam yang sangat menyenangkan. Ah ... tapi ini kurang, karena Kakakku bahkan tidak ada disini hiks ... hiks.... Hatinya terenyuh saat mengingat kedua saudaranya yang tinggal di kota yang berbeda. 


"Tia, Tia." Rita menepuk bahunya beberapa kali menyadarkan gadis dari lamunan. "Ada apa?" bertanya langsung saat melihat raut wajah sedih putrinya.


"Eh … tidak, ayo makan," sahutnya tersenyum dan langsung menyantap makanan di hadapannya.


Semua orang tersenyum menatapnya, gadis itu sudah menyendokkan makanan ke mulutnya, tapi tangannya berhenti saat menyadari bahwa yang lain sedang menatapnya.


Cekrek … cekrek … beberapa foto kembali di ambil. Mengabadikan momen, Tia yang sedang memegang sendok, dan yang lain sedang tersenyum manatapnya. Terlihat sangat manis. Makan malam hangat pun berlangsung. Sesekali terdengar obrolan kecil di sela sela makannya. 


Acara makan ini pun selesai, makan malam dan pemotretan malam. Ah, sangat manis. Tia yang awalnya merasa iri saat melihat foto keluarga Andika yang berada di apartemen. Ia pun memberitahu kekasihnya dan akhirnya malam ini salah satu keinginannya terwujud.


Mereka meninggalkan halaman studio, memecah jalanan untuk mengantar keluarga kekasihnya pulang kerumah.


Malam yang semakin larut membuat jalanan senggang, dan bisa melajukan mobilnya sedikit lebih kencang.


Akhirnya sampai lah di rumah Tia, setelah semua orang turun, Andika pun segera pamit untuk pulang karena hari yang sudah sangat larut.


Jangan lupa vote, like, dan koment kak😘


Thank you all, I Love You so much☺💙🙏

__ADS_1


__ADS_2