Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 76


__ADS_3

Petir terus menggelegar, kilatnya seakan ingin memecah jendela kaca rumah Tia. Angin bertiup sangat kencang di luar sana, derasnya hujan sangat terdengar jelas pada genteng rumah itu. 


Tia masih terlelap dalam tidurnya, di atas sofa yang berada di ruang keluarga rumahnya, ia sepertinya sedang mengigau, tubuhnya pun terlihat sedikit menggigil. Tangan mungilnya masih mendekap erat foto orang tuanya yang sering ia bawa.


 ~~~


Di kediaman Andika, semua sudah merasa cemas, Andika yang terus menghubungi Tia belum juga mendapat hasil yang membuatnya merasa lega, sampai saat ini ponsel gadis itu belum juga aktif. 


Di luar sana pun hujan semakin deras menyiram bumi. Andika sudah tidak tenang, ia berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Tak berapa lama, ia kembali muncul menggunakan hoodie.


"Mau kemana?" tanya Isma yang langsung beranjak saat putranya melangkah ke arah pintu keluar.


Andika menghentikan langkahnya, menatap pada mamanya yang juga tak kalah khawatir, "Aku cari Tia dulu ma, mungkin dia terhalang hujan di jalan," jelasnya tergesa gesa, dan tanpa menunggu lama ia langsung berlari menuju garasi rumahnya.


Mobil sport mewah milik Andika masih berkeliling di bawah derasnya air hujan, ia menengok pada sudut jalan yang terdapat segerombolan manusia. Tidak ada kekasihnya disana, Andika kembali melajukan mobilnya, derasnya hujan membuatnya agak susah untuk melihat ke arah luar. Di pertengahan jalan, Andika terus berpikir keras, kemana sebenarnya Tia, ia sangat tahu bahwa gadis itu tidak memiliki banyak teman, dan Tia pun pasti akan pergi ke rumah temannya kan.


"Astaga, kenapa aku tidak kepikiran sejak tadi," celetuk Andika yang tiba tiba mengingat teringat akan sesuatu, ia menginjak pedal gas dengan kencang, melajukan mobilnya masih dengan wajah yang tidak bisa ditebak.


Mobil berhenti tepat di hadapan rumah peninggalan orang tua Tia. Andika menyorot kedalam, rumah itu tampak gelap, tidak ada lampu yang menyala disana. Ia mulai ragu bahwa akan keberadaan kekasihnya di rumah itu. 


"Apa Tia benar benar ada di dalam?" tanyanya pada diri sendiri.


Andika mengambil payung yang tadi ia letakkan di sampingnya, kemudian membuka pintu mobil dan berjalan cepat ke arah pintu. 


"Pintunya terkunci dari dalam. Berarti Tia memang ada di sini." Andika mulai bernafas lega, ia mulai mengetuk pintu, berharap agar Tia segera membukanya.


Tok … tok … tok


Andika terus mengetuk, belum ada jawaban dari dalam. Ia kembali terlihat cemas, beberapa kali mengintip dari jendela kaca namun ia tidak bisa melihat situasi di dalam sana karena tidak ada cahaya lampu. 


"Sayang, apa kau didalam?" teriaknya dengan tangan yang terus berusaha membuka pintu.


Setelah hampir tiga puluh menit berada di luar, Andika memilih untuk mendobrak pintu rumah itu dari pada terus menunggu Tia yang tidak kunjung muncul. Pintu pun berhasil dibuka setelah dobrakan kedua, Andika menyalakan senter pada ponselnya, mencari tombol lampu agar bisa memberi cahaya pada rumah itu.

__ADS_1


Lampu sudah dinyalakan, Andika berjalan ke arah ruang keluarga, matanya langsung menyorot pada tubuh gadis yang sedang berbaring di atas sofa panjang, ia menghembuskan nafas lega, bibirnya melengkung dan segera menghampiri kekasihnya.


"Kenapa kau malah tidur disini?" 


Andika mengangkat pelan kepala Tia, ia duduk di sana kemudian meletakkan kepala gadis itu di pangkuannya. Membelai lembut rambut Tia, menatap dalam pada wajah terlelap kekasihnya.


"Sayang," ucapnya seraya tersenyum, "Bangun sayang, ini sudah malam," lanjutnya sambil menusuk nusuk pelan wajah Tia. Gadis menggeliat, kedua alisnya berkerut, ia bergumam tidak jelas, membuat bibir Andika melengkung sempurna karena tidak tahu apa yang diucapkan Tia.


Kruyuk … kruyuk


Suara protes terdengar keras dari perut Andika, tanda bahwa cacing di dalam sana butuh asupan makanan. Tia yang tadi masih memejamkan matanya kini langsung melotot saat menyadari kehadiran seseorang di rumahnya. 


"Eh, udah bangun ya," celetuk Andika sambil mengecup singkat bibir Tia, membuat gadis itu langsung duduk dan bergeser ke ujung sofa, "Sayang, ada apa?" tanya Andika dengan raut bingung. 


Tia mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan, menggelengkan kepalanya beberapa kali, kemudian kembali menatap pada pria yang tidak jauh darinya. Andika mendekat dengan bibir tersenyum, ia memegang kepala Tia, membuat gadis itu langsung tersenyum kecut.


"Sejak kapan kau disini?" tanya Tia saat bingung.


"Cih," desis Tia yang kini menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Andika. Di luar sana angin bertiup semakin kencang, membuat pintu yang tadi di buka secara paksa kini tertutup dengan suara keras. Tia terkejut, ia semakin mengeratkan pelukannya.


Setelah hujan sudah sedikit reda, Andika mengajak Tia untuk segera pulang karena hari yang semakin malam. Tia yang juga sudah merasa lapar menyetujui. Mereka sudah beranjak, menuju mobil yang terparkir di halaman rumah Tia.


 


"Sayang, kenapa ponselmu tidak aktif?" tanya Andika di tengah perjalanan mereka.


Tia melirik pria itu tersenyum dan berkata, "baterainya habis." Sambil menunjukkan ponselnya yang masih mati total. Membuat Andika menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Lalu, kenapa tidak pulang ke rumah?" tanya Andika lagi, mengintrogasi kekasihnya.


"Aku kan tidur, pas kau datang ternyata sudah malam," jelas Tia dengan tersenyum, memperlihatkan sederetan gigi putihnya.


Andika menghela nafasnya, kemudian mengacak gemas rambut Tia, membuat bibir gadis itu manyun seketika.

__ADS_1


Mobil sport berhenti di depan sebuah restoran Jepang ternama di kota itu. Tia melikir Andika, bertanya melalui sorot matanya kenapa pria itu membawanya kemari.


"Kita berenang dulu," ujar Andika sambil membuka pintu mobil disisinya. 


Tia menautkan kedua alisnya, dan ikut turun dari dalam mobil sambil bergumam tidak jelas, "Sayang, apa kau tidak salah?" tanya Tia yang masih mengedarkan pandangan pada bangunan di depannya.


Andika menahan bibirnya agar tidak tertawa, lalu menarik tangan Tia untuk segera masuk. 


Seorang pelayan menghampiri mereka, menyapa dengan begitu sopan, menunjukkan kursi kosong untuk kedua manusia itu. Mereka langsung mengikuti sang pelayan dengan tangan yang saling menggenggam.


"Terima kasih," ucap Tia sopan yang kini sudah duduk di kursi yang ditunjukkan.


"Sama sama nona. Silahkan," balas pelayan itu sambil memberikan buku menu pada Tia.


Karena melihat Tia kebingungan memilih menu, Andika pun mengambil alih, ia membuka lembaran buku itu, memilih makanan yang akan memanjakan lidah.


Setelah memilih, pelayan itu pergi meninggalkan mereka, membawa kembali buku menunya. Selang berapa menit, pelayan lain mendekat, membawa nampan yang berisikan makanan serta minuman sebagai pelengkap. Meletakkan dengan begitu hati hati di atas meja. 


Beberapa menu sudah tersaji di hadapannya, siap untuk disantap oleh sepasang kekasih itu, Tia mengelus perutnya yang mulai berbunyi, meminta untuk segera diisi. Mereka pun menikmati makan malamnya yang sudah terlambat, tidak ada yang saling berbicara, hanya suara sendok dan piring yang saling beradu.


Andika yang sudah selesai menyantap makanannya memperhatikan Tia yang masih berusaha menghabiskan menu penutup. Bibir Andika kembali melengkung, menatap gemas pada gadis di hadapannya.


"Ini sungguh nikmat," ujar Tia yang telah selesai dan kini menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Andika mencubit pipinya gemas, perempuan itu selalu saja membuatnya gagal menahan diri. Setelah merasa nyaman dengan perutnya, mereka ingin segera beranjak untuk pulang, karena malam yang semakin larut. Mereka pun keluar setelah selesai membayar makanannya. 


Dalam perjalanan Tia sudah tidak banyak berbicara, ia menguap beberapa kali karena rasa kantuk yang sudah tidak terkondisikan. Dan posisi  tubuh yang bersandar dengan nyaman membuat Tia secepat kilat berada di dunia lain. Andika melirik gadis di sampingnya, "Ceh, dia sudah tidur."


Andika pun hanya membiarkan, ia hanya fokus memecah jalanan kota yang selalu ramai, namun malam ini sepertinya semua berjalan lancar, tidak ada kemacetan dimana mana. 


Jangan lupa like, komen, dan vote kaka🤗


Terima kasih😌💙🙏

__ADS_1


__ADS_2