
Perjalanan yang seharusnya hanya dilalui tiga puluh menit, malah memakan waktu hampir satu jam karena terkena macet dibeberapa titik.
Akhirnya mereka sampai juga disebuah terminal. Semua orang sudah turun dari mobil, Andika membuka bagasi mobil lalu menurunkan tas pakaian dan beberapa barang lainnya yang sudah dibeli Tia untuk diberikan pada keluarga kakaknya.
Sebentar lagi bus akan berangkat, namun Tia masih terus memeluk ibu dan ayahnya. Di wajahnya jelas terlihat bahwa ia tidak rela ditinggal meskipun hanya beberapa hari.
Setelah berhasil dibujuk oleh Andika dan orang tuanya, Tia mulai melepas pelukannya dan membiarkan orang tuanya untuk naik keatas bus yang akan membawa mereka.
Sudah duduk di kursi penumpang, Gunawan dan Rita melambaikan tangannya pada sepasang kekasih yang terus menatapnya.
Kenapa perasaanku tidak enak begini? Aku benar benar tidak rela dan merasa sangat khawatir. Oh, Tuhan, kumohon lindungi orang tuaku. Batin Tia lirih, tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya. Namun dengan cepat ia menghapus dengan tangannya agar orang tuanya tidak melihat.
Mobil sudah mulai meninggalkan terminal, Tia dan Andika masih terus berdiri dan menatap kendaraan yang semakin jauh meninggalkan mereka. Hingga akhirnya mobil hanya seperti titik hitam yang hampir tidak terlihat.
Hiks ... hiks!
Kembali terdengar isakan dari gadis itu, Andika langsung menatapnya lalu manarik Tia dan mendekapnya.
"Sayang, kenapa menangis? Mereka kan tidak akan lama." Andika masih memeluknya erat. Mencoba untuk menangkan Tia, entah kenapa gadis itu berubah jadi sangat cengeng sekarang.
Saat berhasil menenangkan Tia, Andika mengajak gadis itu untuk berjalan jalan, karena sekarang akhir pekan. Meskipun sebenarnya Andika punya banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tapi ia memilih untuk mengajak Tia berjalan jalan saja hari ini.
Maafkan aku Bim, tapi kekasihku jauh lebih penting. Batin Andika, bibirnya sedikit tersenyum saat mengingat Bimo yang harus tetap bekerja diakhir pekan.
Mobil kembali melaju meninggalkan area terminal. Keheningan masih tercipta, Tia terus menatap keluar jendela, melihat deretan gedung yang berlarian meninggalkannya.
Ia menguap beberapa kali sambil menutup mulutnya. Karena bangun terlalu pagi membuat ia kembali mengantuk sekarang. Saat mengucek matanya, ia seketika tersadar dengan pakaiannya.
"Sial, kenapa aku ceroboh sekali." Mengutuki kebodohannya sendiri. Ia baru sadar bahwa ternyata ia belum mandi sedari pagi. "Ibu juga, kenapa tidak mengingatkan aku sih." Kembali mengoceh, membuat Andika menautkan kedua alisnya bingung.
"Aku belum mandi," ucapnya malu, memberi tahu Andika yang terlihat bingung menatapnya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah mencium bau yang agak aneh sedari tadi, tapi tidak enak untuk mengatakannya." Andika terlihat serius. Namun percayalah, ia hanya sedang menggoda kekasihnya. Dan benar, Tia langsung mencium aroma tubuhnya, mencari kebenaran dari ucapan lelaki disampingnya.
"Ah ... benarkah? Memalukan sekali." Masih terus mencium tubuhnya sendiri. Membuat Andika terbahak karena tinggahnya yang terlihat menggemaskan. Tapi itu menurut Andika ya, kan dia kekasihnya :v
"Hem, benar sayang, tadi aku kira aroma terminalnya yang tidak enak, ternyata bukan." Lagi lagi membuat Tia malu berkepanjangan.
"Kenapa tertawa?" tanya Tia bingung saat Andika tak hentinya tertawa.
"Tidak, sepertinya cacing diperutku sedang melakukan senam pagi dan membuatku geli." Menjawab sembarangan, membuat Tia ikut tertawa padahal jelas jelas Andika sedang menertawakannya.
~
Sudah hampir satu jam menunggu, Andika suka merasa bosan ditematnya, sedangkan Tia masih belum keluar juga daru dalam kamarnya.
Andika akhirnya memeriksa ponselnya untuk melihat laporan kerja yang dikirim oleh Bimo. Setelah itu, ia melihat aktivitas karyawan dibeberapa restoran cabang, CCTV yang ia sambung dengan ponselnya akan mempermudah untuk memantau semua karyawan.
Dilayar ponselnya terlihat semua karyawan bekerja dengan baik, melayani pelanggan dengan sopan dan terus tersenyum, agar mereka merasa nyaman dan betah untuk selalu berkunjung.
Tia sudah ikut duduk disofa samping Andika, lelaki itu terlihat masih fokus pada ponselnya, belum menghiraukan kehadiran kekasihnya disana. Tia menyalakan televisi lalu merebahkan tubuhnya disofa yang lain karena Andika terlihat sibuk.
"Sudah selesai," ujar Andika membuat tatapan Tia beralih padanya.
"Sudah dari tadi," jawab Tia lalu kembali menatap kelayar televisi.
"Hem ... benarkah?" Andika sudah berpindah kesofa yang sama dengan Tia, mengangkat kepala gadis itu lalu meletakkan dipangkuannya.
Tia kembali menatap kearahnya, memperlihatkan senyumnya yang secerah mentari. Membuat Andika menarik hidungnya gemas.
"Awwww." Meringis lalu memukul tangan Andika.
"Ayo pergi," ajak Andika tersenyum.
__ADS_1
Tia pun segera bangun dan memperbaiki posisi duduknya, kancing bajunya yang ia kenakanterbuka dibagian atas, mambuat Andika tersenyum nakal kearahnya.
"Sayang, jangan menggodaku," ucapnya membuat Tia bingung. Tidak tahu apa maksud lelaki itu. "Kancing bajumu, kenapa kau membukanya dihadapanku," lanjutnya menjelaskan, membuat pipi Tia merona lalu segera memasang kembali kancing yang terbuka.
"Dasar mesum." Tia meliriknya tajam, masih tersipu malu dengan ucapan Andika.
"Siapa yang mesum? Aku masih lelaki normal sayang, dan kau beruntung karena aku masih bisa menahan tanganku tadi." Menjelaskan dengan senyum jenaka. Membuat Tia memukul lengannya dengar keras.
Cih!
Setelah selesai bermain drama yang membuat Tia terus merasa malu, mereka kembali meninggalkan kediaman Tia menggunakan mobil sport milik Andika. Kembali menelusuri jalanan yang masih tampak padat siang ini.
Terus mengobrol satu sama lain, bercanda untuk menghilangkan rasa membosankan karena ramai kendaraan yang membuat kemacetan dan rasa gerah meskipun sudah menggunakan pendingin didalam mobil.
Tia mengecek ponselnya beberapa kali, memeriksa jika mungkin orang tuanya mengiriminya pesan.
Karena tidak ada pesan ataupun panggilan telepon dari kedua manusia yang baru pergi tadi pagi, Tia berinisiatif untuk menghubungi kakaknya dan mengabarinya jika ibu dan ayah mereka sudah sampai.
"Iya mas ini aku," ucapnya setelah sambungan teleponnya tersambung, lalu diam dan mendengarkan. "Aku lagi dijalan mas, ini juga bareng Andika," jelasnya lagi sambil tersenyum kearah Andika. Diam lagi mendengarkan suara dari sana. "Iya mas. Jangan lupa beritahu aku jika mereka sudah sampai." Tia kembali meletakkan ponselnya ketika sambungan telepon dimatikan. Menyandarkan tubuhnya dikursi lalu memejamkan matanya yang terasa mengantuk.
Kenapa aku gampang sekali mengantuk jika naik mobil sih. Batinnya menggerutu. Perlahan ia mulai masuk kedalam dunia mimpi, meninggalkan Andika dalam kebisuan.
Hei, apa dia sudah tidur? Hahaha lemah sekali matamu. Andika tersenyum sambil menggeleng beberapa kali.
Mobil masih terus melaju, Andika mengemudi dengan tenang, entah kemana ia akan membawa gadis yang sudah terlelap disampingnya, hanya sesekali melirik dan tersenyum saat mendengar dengkuran kecil yang keluar dari mulut Tia.
Bagaimana dia bisa tidur dengan nyenyak seperti itu sih. Ah, dia terlihat menggemaskan sekali, aku seperti ingin memakannya saja, hahaha. Andika kembali menggelengkan kepalanya dan tertawa jahat. Namun dengan segera ia menghentikan pikiran kotornya dan kembali fokus mengemudi.
Jangan lupa vote, like, dan komen Kak🤗
Thank you so much😌💙🙏
__ADS_1