
Setelah memastikan bahwa kekasihnya keluar dari rumahnya, Tia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
"Ia selalu membuat jantungku berdetak tidak stabil," gumamnya dengan terus berjalan menuju kamar mandi.
Tak berapa lama, Tia sudah keluar dari dalam kamar mandi, ia ingin segera merebahkan tubuhnya karena merasa sudah sangat mengantuk.
Tia pun segera naik ke atas kasur miliknya dan segera memejamkan matanya agar bisa kembali terlelap.
~
Andika baru saja sampai di apartemen miliknya, ia pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selang beberapa menit, ia sudah keluar kembali dan berjalan menuju sofa.
Andika memeriksa ipad kerjanya, melihat dan mengecek hasil kerja karyawan nya hari ini.
"Bimo memang bisa diandalkan," gumamnya dengan ujung bibir yang sedikit terangkat.
Karena melihat tidak ada yang perlu ia selesaikan, akhirnya Andika segera beranjak menuju kamar tempatnya tidur.
~
Rita dan Gunawan sudah berada di meja makan, menunggu putrinya untuk sarapan, tapi gadis itu tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Ibu liat Tia dulu di kamar, apa mungkin dia belum bangun ya," ucapnya pada Gunawan sembari beranjak dari duduknya.
Rita pun berjalan menuju kamar putrinya, ia melihat pintu kamar gadis itu masih tertutup rapat pertanda bahwa dia memang belum bangun.
Tok … tok … tok
Rita mengetuk pintu berulang kali tapi tak mendapat jawaban dari dalam. Akhirnya Rita masuk ke dalam dan melihat Tia masih tertidur pulas di bawah selimutnya. Ia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Tia, karena melihat putrinya yang masih tertidur sangat pulas. Akhirnya ia meninggalkan kamar Tia dan kembali ke meja makan untuk segera sarapan bersama Gunawan.
"Apa Tia belum bangun?" tanya Gunawan saat melihat Istrinya berjalan sendiri ke arahnya.
"Belum Yah, biarkan saja dulu, mungkin dia masih lelah…." ujar Rita dengan tersenyum.
Rita kemudian mengambilkan makanan untuk suaminya, lalu mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka menikmati sarapan nya tanpa banyak bicara. Setelah selesai sarapan Gunawan berjalan menuju ruang keluarga, sedangkan Rita masih membersihkan sisa makanan lalu mengangkat piring kotor ke dalam wastafel.
~
"Buk, Ayah pamit dulu," sahut Gunawan memanggil istrinya yang masih berada di dapur.
Rita yang mendengar pun langsung berjalan menghampiri Gunawan yang ingin segera berangkat bekerja.
"Hati hati di jalan Yah..!!" ucapnya pada Gunawan yang sudah berada di atas sepeda motornya.
Gunawan tersenyum dan segera melajukan motornya keluar dari halaman rumah miliknya.
~
Jam sudah menunjukkan pukul 09:00
Tia masih belum bangun juga dari tidurnya, Rita pun hanya membiarkan saja, dan tidak mengganggu putrinya.
~
"Kenapa dia tidak mengangkat telponku?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Apa hari kita punya jadwal meeting Bim," sambung nya bertanya pada Bimo
"Kita hanya akan bertemu klien di cafe milik Anda tuan," jelas Bimo pada majikannya
"Jam berapa?" tanya Andika kembali sambil merapikan beberapa berkas di hadapan nya
"Setelah makan siang tuan," ucapnya dan Andika mengangguk seraya beranjak dari duduknya
"Aku akan keluar, setelah waktunya ke kafe kau jemput aku di butik," jelasnya dan segera melangkah menuju pintu keluar ruang kerjanya,
"Gunakan mobilku saja, aku akan menggunakan motor ke butik," sambungnya sebelum benar benar meninggalkan ruangan itu. Bimo hanya mengangguk dengan terus menatap Andika yang sudah berada di ambang pintu.
Setelah Andika benar benar menghilang dari hadapannya, Bimo pun segera beranjak untuk menuju ruangan nya, ia ingin menyiapkan beberapa penting sebelum pertemuan nanti.
~
Tia baru saja bangun dari tidur nya, ia menjadi kalang kabut saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10:00
"Ah, kenapa aku bisa tertidur hingga siang seperti ini," gumam nya dengan bergegas menuju kamar mandi.
Ia kemudian berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan Ibu nya.
"Ibu, kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Tia saat mendapati Rita yang sedang menonton di ruang keluarga.
"Kau tertidur begitu pulas, dan ibu tidak tega untuk mengganggumu," jelasnya dengan tersenyum menatap wajah bantal putrinya.
Andika berlalu meninggalkan halaman kantornya menggunakan sepeda motor. Ia membelah jalanan kota yang cukup padat di jam menuju siang.
Ia sengaja menggunakan sepeda motor agar tak terlalu lama dalam perjalanan.
Ia memarkirkan sepeda motornya di samping butik, dan segera berjalan untuk masuk ke butik milik kekasihnya itu.
~
"Eh … tuan, silahkan duduk," sapa Ulan saat melihat kedatangan kekasih bosnya.
"Dimana Tia? Apa dia di atas?" tanyanya langsung membuat Ulan menautkan kedua alis.
"Kak Tia hari ini tidak datang kemari tuan," katanya memberitahu
"Apa kau tau dia pergi kemana?"
"Tidak tuan, dia tidak mengabari kami,"
"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu.!" pungkasnya sebelum pergi meninggalkan butik itu.
Ulan masih menatap punggung lelaki yang semakin menjauh dari tempatnya, setelah Andika benar benar menghilang, Ulan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
~
"Halo, kau dimana," ucapnya saat panggilannya sudah tersambung
"Di kampus, ada apa?" tanya balik dari seberang telepon
"Apa Tia bersamamu?" tanyanya tidak sabar
"Apa kau bercanda? Aku sedang di kampus, mana mungkin dia bersamaku," cercah Gita membuat Kakaknya mendengus kesal.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Andika langsung memutuskan sambungan teleponnya bersama Gita, ia sudah tahu bahwa kekasihnya tidak ada di sana.
Andika kembali melajukan sepeda motornya membelah jalanan kota.
Hanya butuh waktu beberapa menit, akhirnya ia sampai di halaman sebuah rumah kecil dengan model klasik yang membuat mata merasa nyaman ketika melihatnya.
~
"Eh … nak Dika, silahkan masuk.!" sapa Rita yang sedang berada di teras rumahnya.
"Terima kasih Buk," sahutnya tersenyum sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Matanya melihat ke kiri dan kanan, seperti sedang mencari sesuatu.
"Tia sedang sarapan, masuklah …." ujar Rita yang menyadari maksud lelaki itu datang kerumahnya
Andika tersenyum, kemudian dengan cepat melangkah ke dalam rumah kekasihnya untuk menemui gadis itu. Ia melihat Tia yang duduk di sofa sambil terus mengunyah makanannya, mata gadis itu hanya fokus menatap ke arah televisi yang terus berbicara.
Andika memperlambat langkahnya karena ingin menjahili gadis itu.
"Ibu … aku sedang makan, kenapa menutup mataku seperti ini," ujarnya Tia yang belum menyadari kedatangannya.
"Ceh, apa kau tidak mengenali bau tangan ku huh," kata Andika yang langsung ikut duduk di samping kekasihnya.
"Eh … kenapa kau bisa ada di sini," ujar Tia yang terkejut melihat kedatangan tiba tiba lelaki itu.
"Apa tidak boleh? Baiklah, aku pulang saja …." ucapnya dengan tubuh yang sudah bersiap untuk pergi.
"Kalau kau ingin pergi, pergi saja, tapi jangan pernah menemuiku lagi," sahutnya membuat lelaki itu menatap tajam ke arahnya, dan kembali mengambil posisi di samping Tia.
Tia melipat bibirnya untuk tidak tertawa, ekspresi wajah Andika membuatnya merasa lucu.
"Apa kau baru sarapan di jam segini? Ini bahkan sudah hampir waktu makan siang," imbuhnya dengan menatap Tia yang masih fokus ke acara televisi.
Tia tersenyum lalu mengangguk pelan ke arah kekasihnya.
"Tunggu di sini, aku akan kembali," ucap Tia yang langsung meninggalkan dan berjalan menuju dapur.
~
"Loh, dimana Tia, apa dia tidak melihatmu?" tanya Rita saat mendapati lelaki itu duduk sendiri di ruang keluarga.
"Dia sudah melihatku Buk, dia hanya menyimpan bekas makanannya ke dapur," balasnya tersenyum dan Rita mengangguk mengerti.
"Ibu ingin keluar dulu, tolong beritahu Tia,"
"Baik Buk …."
~
Setelah Rita pergi, Andika membaringkan tubuhnya di sofa sambil terus mencari acara televisi yang menarik untuk ditonton sebelum Tia kembali.
"Hei … kenapa berbaring di sini? Apa kau lelah?" tanya Tia saat ia kembali dan melihat Andika berbaring di sofa.
"Hmm … kemarilah," ucapnya tanpa melihat ke arah Tia. Gadis itu tersenyum dan kemudian duduk di sofa yang lain karena posisi Andika yang masih berbaring.
Jangan lupa vote, like, dan coment kak🤗
Sekali lagi terima kasih😌💙🙏
__ADS_1