
Semua orang sudah pergi, meninggalkan Tia sendirian di Butiknya. Ia membaringkan tubuhnya di sofa, memainkan benda pipih sembari menunggu kekasihnya yang belum menampakkan batang hidung.
Sudah tiga puluh menit Tia menunggu, karena merasa bosan, ia bangkit dan berjalan keluar, duduk di teras Butiknya, menikmati hangatnya senja sore itu. Pikirannya kembali menerawang, biasanya, jika sudah sore seperti ini, ia sudah kembali ke rumah, disambut dengan senyum kedua orang tuanya yang selalu menjadi obat lelah tersendiri. Sekarang, semua seakan terbang ke langit, tidak ada yang tersisa selain kenangan.
Tia terus langit pada luasnya langit di atas sana, menyaksikan senja yang perlahan berlalu, disambut dengan malam yang tidak terlalu dingin. Bulan mulai menampakkan diri, di susul bintang yang ikut menyapa dengan malu malu.
Tia terbelalak saat matanya melirik ke samping dan melihat Andika yang sudah duduk dengan nyaman di sana.
Sejak kapan dia disini?
"Jika sudah puas, ayo kita pulang."
Tia hanya mengangguk tersenyum, ia berlalu untuk mengunci pintu Butiknya dan kembali menghampiri Andika yang sudah menunggunya di sisih mobil.
"Makasih Bim," ujarnya tersenyum pada Bimo yang membukakan pintu mobil. Tia masuk dan duduk, di ikuti Andika yang duduk di sampingnya.
"Aku mau singgah dulu ke rumah ayah, boleh kan?" tanya Tia menatap Andika, lelaki itu langsung mengangguk menyetujui.
"Tentu saja boleh."
Andika mendekatkan tubuhnya pada Tia, menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya. Tia menurut, ia bahkan langsung memeluk erat tubuh Andika, membuat laki laki itu tersenyum merona. Tanpa mereka sadari, di kursi kemudi sudah ada manusia yang hatinya meronta ronta, berharap agar segera memiliki kekasih.
Kalian benar benar hanya menganggapku sebagai batu yang tidak berperasaan. Batin sang jomblo menangis.
"Hm … sayang, apa kau begitu sibuk?" tanya Tia yang kini mengangkat wajahnya menatap Andika.
"Maaf telah membuatmu menunggu lama." Satu kecupan mendarat di bibir Tia, membuatnya langsung memukul Andika karena sikapnya yang selalu tidak tahu aturan. Tia melirik Bimo, lelaki yang dilirik hanya fokus mengemudi, tidak lagi peduli dengan sesuatu di sekitarnya yang hanya membuat hati menjadi panas.
"Ayo masuk Bim!" Tia yang sudah berada di teras rumahnya kembali berbalik, memanggil Bimo yang hanya diam di samping mobil majikannya.
Tia masih berdiam diri di depan pintu yang sudah terbuka, wajah orang tuanya terlihat berkeliaran memenuhi rumah itu. Suara ibu yang selalu memanggilnya untuk makan, suara ayahnya yang penuh ketegasan. Dada Tia mulai sesak, semua masih seperti mimpi baginya.
__ADS_1
"Sayang." Andika merangkul pundaknya, memberi semangat pada perempuan yang telah memiliki hatinya sepenuhnya. "Ayo," ajaknya lagi sambil tersenyum.
Tia menghela nafasnya beberapa kali, menguatkan hatinya agar tidak sesak dan menitikkan air mata. Ia tidak mau jika orang tuanya ikut bersedih. Andika membuka pintu kamar milik kedua manusia paruh baya yang telah berpulang pada sang pencipta. Tia berjalan ke arah tempat tidur, menatap pada semua sudut ruangan. Ia membelai bantal lalu memeluknya, isakan kecil mulai terdengar. Andika menghampiri, memeluk Tia dan mengelus puncak kepala perempuan itu.
"Sayang, jangan menangis! Setelah ini aku mau mengajakmu ke pesta, jika matamu sembab, mereka akan berpikir bahwa aku yang menyakitimu." Andika kembali memberi beberapa ciuman di puncak kepala Tia, menenangkan kekasihnya yang mulai terisak.
"Pesta?" Tia langsung menepis ujung matanya, menatap dengan penuh tanda tanya pada Andika.
"Hmm."
"Hei, jawaban apa itu? Apa kau berbohong?" Tia menatap dalam pada mata Andika, menuding lelaki itu yang hanya tersenyum tanpa berniat untuk menjelaskan.
"Sekarang kita ke apartemen dulu. Besok baru kesini lagi," ajak Andika semakin membuat Tia dipenuhi tanda tanya. Daripada penasaran, akhirnya Tia menuruti kemauan laki laki itu, ia kembali menatap seluruh sudut kamar orang tuanya sebelum keluar dari ruangan itu. Pintu sudah kembali terkunci. Tia kembali duduk di kursi mobil setelah Bimo membuka pintu untuknya. Menatap pada rumahnya yang terlihat begitu sunyi, hanya cahaya lampu yang memberi sedikit penerangan.
Bimo kembali melajukan mobil, meninggalkan kediaman Tia, memecah jalanan kota yang selalu ramai pengendara serta orang yang berlalu lalang. Dempulan asap dari setiap kendaraan menyatu, melayang ke angkasa menjadi kabut di atas sana.
"Bim, dimana barangku?" tanya Andika. Mereka sudah berada di area parkir gedung apartemen yang ditempati Andika. Tia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa ia harus disini, bukankah seharusnya kembali ke rumah Gita, dan pesta apa yang dimaksud Andika. Tia benar benar bingung, namun tetap menurut.
Tia yang masih penasaran terus bertanya pada kekasihnya. Jawaban Andika bukannya membuat tanda tanya di kepalanya hilang, malah membuatnya semakin penasaran saja. Akhirnya Tia memilih diam, mau bertanya berapa kali pun, Andika hanya menjawab, nanti juga kau akan tahu, membuat Tia mengerucutkan bibirnya karena kesalm
"Sayang, ayo mandi!"
Tia yang mendengar ajakan mandi langsung melotot ke arah arah Andika, tangannya ia pake untuk menutup tubuhnya yang bahkan masih menggunakan pakaian.
"Aku tidak mau," jawabnya ketus. "Kau saja dulu yang mandi, setelah itu baru aku." Memberi ide yang menurutnya aman. Namun Tia langsung menautkan kedua alisnya saat Andika tiba tiba tertawa.
Apa apaan sih dia? Kenapa tertawa? Memangnya apa yang salah dengan ucapanku. Dasar mesum. Tia berucap dalam hati, menghardik kekasihnya sendiri.
"Sayang, jika menunggu aku selesai, kita akan terlambat. Jadi, kita harus mandi bersamaan," jelas Andika dengan nada bicara menggoda, membuat Tia berdelik kesal.
"Pokoknya aku tidak mau. Kita harus bergantian."
__ADS_1
"Sayang, kita bersamaan saja. Disini kan ada dua kamar mandi, kau mandi saja di kamarku."
Pipi Tia merona seketika, ternyata Andika tidak mengajaknya mandi bersama. Dia saja yang berpikiran mesum, ia langsung menarik salah satu goodie bag yang berada di tangan Andika, lalu berlari masuk kedalam kamar, tanpa menoleh lagi pada laki laki yang sudah terkekeh menatapnya.
Bodoh bodoh! Ahh ... kenapa kau berpikir bodoh sekali Tia. Andika kan tidak mungkin mengajakmu mandi bersama.
Setelah puas mengutuk kebodohannya, Tia mengambil baju handuk dan berjalan menuju kamar mandi, sebelum Andika kembali menghamipiri dan menertawakannya.
Di ruangan lain, Andika pun sudah menyegarkan tubuhnya. Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, ia keluar menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya, dan bertelanjang dada.
Andika terkejut saat menyadari sebuah goodie bag masih berada di sofa apartemennya, dan langsung tertawa saat melihat pakaian kekasihnya yang ia lupakan. Tia hanya mengambil goddie bag yang berisi heeals dan melupakan sesuatu yang jauh lebih penting.
Tok … tok … tok
"Sayang, apa kau sudah selesai? Apa kau tidak melupakan sesuatu?" Andika bertanya dari balik pintu dengan bibir yang sudah melengkung sempurna. Karena tidak ada jawaban dari dalam, ia memilih langsung masuk, dan benar saja, Tia masih berada di kamar mandi. Setelah meletakkan goodie bag di atas kasur, Andika berjalan menuju ke tempat pakaiannya berada, yang memang terletak di dalam kamarnya.
Tia sudah selesai, ia keluar menggunakan baju handuknya. Tia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya sendiri, langaung tersenyum saat mengingat pikiran nakalnya tadi.
"Hei, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya sedikit berteriak saat melihat Andika yang sedang berdiri di belakangnya.
"Sayang, ini kamarku. Lagian bajuku kan disini, dan kau tadi meninggalkan pakaianmu di luar, untung ada aku." Andika menjelaskan sambil merapikan pakaiannya.
"Benarkah? Yasudah, aku ingin memakai baju, tunggu di luar saja."
"Aku tidak akan mengintipmu sayang. Lagian nanti aku juga akan melihat semua bagian dari tubuhmu."
"Tidak! Kau harus keluar, ayo keluar!" Tia tidak peduli dengan ucapan Andika, ia menarik tangan pria itu dan menyeretnya keluar dari kamar.
Setelah berhasil menyeret keksihnya, Tia langsung mengunci pintu agar lelaki itu tidak kembali masuk dan menggodanya. Tia segera bersiap, mengenakan pakaian yang sudah tersedia, entah Bimo atau siapalah yang menyiapkan, tapi itu benar benar pas di tubuhnya, di tambah beberapa perhiasan sebagai pelengkap. Ia juga menggunakan make up tipis di wajahnya, membuatnya terlihat semakin cantik.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya kak🤗
__ADS_1
Dan sekali lagi terima kasih😌💙🙏