
Semua orang sudah kembali berkumpul di meja makan untuk segera menikmati makan malamnya. Andika dan Tia yang juga sudah kembali dari kantor ikut bergabung.
Satu persatu dari mereka mulai memilih menu makanan yang terlihat menggoda di depannya. Tia belum mengambil makanan ke piringnya, ia masih menatap nanar pada menu yang tersedia.
Ayah ... itu opor ayam kesukaanmu. Tia berucap dalam hati sambil menatap sebuah mangkuk yang berisi opor.
"Kenapa nak? Apa kau tidak suka makanannya?" tanya Isma karena melihat piring Tia yang masih kosong.
"Eh … tidak mam, aku suka semuanya," ujarnya dengan tersenyum, lalu dengan cepat mengisi piringnya dengan makanan.
Mereka menikmati makan malam hangat ini dengan keheningan, hanya suara sendok dan piring yang terdengar saling beradu.
~
"Git, besok kau kuliah tidak?" tanya Tia setelah mereka selesai makan malam dan kini berada di ruang keluarga bersama Andika dan Gita. Sedangkan Iskandar dan Isma sudah pergi ke kamar mereka untuk istirahat.
"Ya, aku ada jadwal besok. Tapi paling cuman dua jam, kenapa?" tanya balik Gita sambil mengingat jadwal kuliahnya.
"Aku hanya ingin mengajakmu ke Butik. Tapi tidak apa apa, aku akan pergi sendiri," balas Tia sambil tersenyum.
"Sayang, biar aku yang menemanimu." Andika menimpali. Membuat kedua gadis itu menatapnya bersamaan.
"Kau harus bekerja sayang. Aku tidak apa apa pergi sendiri." Tia menolak dengan tersenyum manis, seperti berkata, aku tidak mau merepotkan kalian.
"Aku akan bekerja setelah mengantarmu." Andika masih pada pendiriannya. Tidak mau membiarkan perempuan itu pergi sendiri, apalagi mengingat saat kejadian Rosa yang hampir melukainya.
"Baiklah." Mengalah saja pikir Tia. t
Toh dia tidak bakal menang juga.
Andika mulai sibuk dengan laptopnya, memeriksa hasil kerja karyawannya bulan ini. Di akhir bulan memang selalu membuat kesibukannya bertambah hingga harus bekerja juga meski di rumah.
__ADS_1
Gita hanya fokus pada layar televisi yang terpampang di hadapannya, menikmati cemilan renyah yang tak pernah hilang dari kehidupan sehari harinya. Jus yang diberikan oleh pelayan tadi pun ikut serta sebagai pelengkap. Tia memperhatikan Andika yang terus menggerakkan jari jarinya di tombol laptopnya.
"Sayang, tolong lihat email yang Bimo kirim ke ponsel ku," pinta Andika tanpa menatap kekasihnya. Tia hanya melakukan yang Andika mau, membuka ponsel lalu melihat laporan yang sama sekali tidak ia mengerti sedikit pun.
"Bagaimana sayang?" tanya Andika, membuat Tia menautkan kedua alisnya dengan tatapan bingung.
"Bagaimana apa?"
"Oh, sayang. Maafkan aku." Andika menyesal, lalu tersenyum kecut. Saat menyadari kebodohannya.
"Hmm … nah ponselmu," ujar Tia sambil menyodorkan benda pipih milik kekasihnya, Andika menyambutnya lalu melihat sendiri hasil laporan yang dikirim sang asisten.
Mereka masih terus berada di ruang keluarga, dengan Andika yang sibuk.pada laptopnya dan Gita yang sibuk terkekeh melihat film yang sedang ia tonton. Tia mulai merasa bosan, memperhatikan keduanya, ia mulai merebahkan tubuhnya di sofa lalu bermain dengan ponselnya. Lebih baik begitu daripada hanya memperhatikan Andika dan Gita, pikirnya.
Andika melirik Tia dengan ujung matanya, ia tersenyum lalu menarik pelan ujung kaki perempuan yang tengah berbaring.
Tia menatapnya bingung, menaikkan kedua alisnya, mewakili pertanyaan dari mulut. Andika menepuk pahanya beberapa kali, memberi kode agar Tia membaringkan kepalanya di sana.
Tia menghela nafasnya, namun tetap menurut, ia kembali berbaring dengan kepala yang berada di pangkuan Andika.
"Tidurlah!" Andika membelai puncak kepala Tia. Ia melirik Gita sesaat, lalu mencium singkat bibir Tia, membuat gadis itu memukul kepalanya pelan.
"Hei, dasar."
"Ada apa Tia?" Gita langsung berbalik menatap sepasang kekasih itu saat mendengar suara Tia sedikit berteriak. Andika mengulum bibirnya agar tidak tersenyum dan kembali fokus pada pekerjaannya. Menghiraukan Tia yang terlihat malu sekaligus kesal padanya.
"Hahaha tidak Git. Aku hanya akting tadi," jawab Tia yang membuat Andika tidak bisa menahan diri untuk tertawa dan menarik gemas hidung Tia hingga memerah, membuat gadis itu meringis dengan bibir yang mengerucut.
"Baiklah, lanjutkan saja akting kalian." Gita menggelengkan kepalanya beberapa kali, bingung sendiri dengan tingkah dua manusia itu.
Akting apaan coba malam malam. Aku kan tidak bodoh, lagian aku sempat lihat sekilas tadi. Punya kakak nggak tahu aturan banget. Gita merasa geli dan kesal seketika, mengutuk kakaknya yang masih menggoda Tia.
__ADS_1
Daripada melihat sepasang kekasih yang terus membuat mata Gita terusik, perempuan itu memilih untuk kembali fokus menatap televisi.
Malam bergulir semakin larut, Gita sudah naik ke kamarnya, meninggalkan kakak dan sahabatnya di ruang keluarga. Andika merasa kram pada kakinya karena duduk terlalu lama di tambah Tia yang masih berbaring di pangkuannya.
Andika menatap perempuan itu. "Menggemaskan sekali wajah tidurmu ini," ujarnya dengan mengacak pelan rambut Tia yang sudah tertidur. Andika mematikan laptopnya lalu menggerakkan sedikit kakinya, gadis itu sudah tertidur pulas dengan hembusan nafas yang begitu beraturan.
Andika menggendongnya menaiki tangga anak tangga, dengan bibir yang terus melengkung, ia menggelengkan kepalanya heran. "Nyenyak sekali tidurmu, bahkan kau tidak sadar bahwa sedang di gendong," gumamnya begitu pelan agar Tia tidak terganggu.
Ia sudah berdiri di depan pintu kamar Gita, kembali menatap Tia yang tidak bergeming dalam dekapannya. Andika masih mematung, terlihat ragu ragu untuk membuka pintu.
Hoaaammm ….
Tia menggerakkan tubuhnya, mungkin merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya sekarang, membuat Andika tersenyum lalu mengecup keningnya cukup lama dan perempuan itu kembali terlelap.
Dan pada akhirnya, Andika membatalkan niatnya yang akan membawa Tia menuju kamar Gita, ia memutuskan untuk membaringkan kekasihnya di dalam kamarnya sendiri.
Setelah membaringkan Tia di tempat tidurnya, ia menarik selimut, menutupi tubuh gadis itu hingga ke pinggang, lalu ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah beberapa saat, ia sudah kembali keluar, mematikan beberapa lampu ruangan lalu berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Andika kembali tersenyum menatap wajah Tia tertidur sangat pulas, ia mengambil satu buah bantal lalu berjalan menuju sofa, merebahkan tubuhnya di sana.
"Dia pasti akan memukulku habis habisan jika berani tidur dengannya." Andika terkekeh, membayangkan wajah marah Tia yang pasti akan tetap terlihat menggemaskan untuknya.
Perlahan Andika mulai memejamkan matanya dengan garis bibir yang terus terlihat. Ia mulai merangkak menuju alam bawah sadar, merajut mimpi indahnya di dunia lain.
Pukul 02.30 dini hari, Tia menggeliat beberapa kali, berusaha membuka matanya karena rasa sakit pada bagian perut yang tidak bisa ia tahan.
"Kenapa kamar mandinya pindah sih," ujarnya masih setengah sadar, ia memutar langkahnya saat menyadari bahwa yang ia masuki adalah ruang baca, bukan kamar mandi.
Tia terdiam sesaat, mengamati dimana ia sekarang. Mencari kamar mandi yang menurutnya sudah berpindah tempat. Ia melihat cahaya lampu dari ruangan yang tidak jauh darinya. "Apa kamar mandinya benar benar pindah? Ah … sudahlah, perutku sakit sekali." Tia setengah berlari ke kamar mandi karena hajat yang sudah tak bisa di tampung.
Jangan lupa vote, like dan komen kak, biar author makin semangat🤗
Terima kasih😌💙🙏
__ADS_1