Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 40


__ADS_3

Sebuah mobil masih setia melaju, membelah jalanan kota yang tampak sangat padat malam ini, lampu jalan memberi keindahannya tersendiri, orang orang berlalu lalang membuat jantung kota semakin ramai.


Di dalam mobil, ketiga manusia itu masih diam membisu, semua fokus pada pikirannya masing masing, Tia sesekali melirik Andika yang terlihat sangat murung, meskipun begitu, lelaki itu terus mendekap tubuh Tia di dadanya. 


"Sayang …." Tia bersuara, memecah keheningan di antara mereka. Andika menatapnya kemudian tersenyum. Menaikkan kedua alisnya, pertanda bahwa ia sedang menunggu kata lanjutan dari Tia.


Tia tidak melanjutkan bicaranya, ia hanya mengeratkan pelukannya pada Andika, lelaki itu menatap lekat ke arahnya, seakan mengerti bahwa kekasihnya tak ingin ditinggalkan.


"Bimo, tolong berhenti di depan swalayan itu," ucap Andika sambil menunjuk swalayan yang berada tak jauh dari mereka.


"Baik Tuan." Bimo menjawab, kemudian ia menepi di area parkir.


"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Andika, Tia menggeleng pelan pertanda bahwa ia tak ingin membeli apapun.


"Tolong beli minuman soda dan susu, dan beberapa makanan juga Bim," ujar Andika pada Bimo, lelaki yang duduk di kursi kemudi itu kemudian segera membuka pintu di sampingnya dan berjalan menuju swalayan.


Setelah Bimo keluar, Andika mendongakkan wajah Tia untuk menghadap ke wajahnya. Gadis itu menurut dan menautkan kedua alisnya bingung.


Andika tersenyum dengan terus mendekatkan wajahnya, bibir mereka bertemu, Tia berusaha mendorong tubuh Andika karena takut jika Bimo tiba tiba muncul dan melihat kelakuan mereka.


Tapi tentu saja ia kalah kuat, tangan Andika semakin erat memeluknya, bibir mereka sudah menyatu, karena pergerakan Andika yang begitu lembut, perlahan Tia membuka mulutnya dan membiarkan lelaki itu me***** bibir mungilnya.


Andika menghentikan aksinya agar Tia bisa bernafas, setelah beberapa saat, ia kembali melanjutkan dan ini lebih lama.


Setelah cukup lama, Tia kembali mendorong tubuh lelaki itu, tapi kali ini sangat lembut, dan membuat Andika melepaskan bibirnya.


"Bimo sudah datang," ucap Tia saat melihat Bimo berjalan ke arah mereka.


"Ceh, kenapa dia tidak lebih lama," gumam Andika namun masih terdengar jelas di telinga Tia.


"Ini Tuan." Bimo memberika beberapa minuman dan makanan kepada majikannya.


"Terima kasih Bim, ambillah untukmu." Tia yang menjawab dan mengambil kantongan yang berada di tangan Bimo.


"Terima kasih Nona," ucap Bimo, ia pun mengambil satu botol soda dan langsung meneguknya.


"Nah, minumlah.!"

__ADS_1


"Hem. Kau minum susu saja."


"Ya, baiklah."


Bimo pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah kekasih majikannya itu. Tidak lama kemudia, mereka sudah sampai di halaman rumah Tia, Bimo berhenti tepat di depan teras kecil rumah itu.


Meskipun sudah sampai, kedua manusia yang duduk di kursi belakang belum juga melepas pelukannya, terlihat jelas bahwa mereka tak ingin berpisah meskipun hanya beberapa hari. Eh tidak, mereka bahkan tidak tau kapan akan bertemu kembali.


Bimo pun masih mematung di kursi kemudi, sesekali mengintip dari arah spion. Ia tersenyum melihat majikannya yang belum juga beranjak.


"Sayang … ayo masuk, aku akan mengantarmu," tutur Andika namun Tia dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, ini sudah hampir larut, kau harus segera berangkat, dan jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai." Tia terdengar lirih namun tetap tersenyum.


"Tapi … jika Ayah bertanya bagaimana?"


"Aku akan menjelaskan padanya, pergilah.!"


"Kau serius?"


"Tentu saja."


"Hati hati di jalan, jangan lupa beri kabar.! Bimo, hati hati," cercah Tia saat mobil yang membawa kekasihnya sudah ingin meninggalakan halaman rumahnya. Andika melambaikan tangannya, Tia pun melakukan hal yang sama hingga mobil itu benar benar hilang dari pandangan.


~


Tia kemudian melanjutkan langkah beratnya menuju kedalam rumah. Ia mendengar suara Ibunya tertawa dari dalam, mungkin kedua orang tuanya sedang menyaksikan acara tv.


Saat pintu tiba tiba terbuka, kedua manusia paruh baya itu langsung melihat kearah suara, mereka melihat Tia berjalan lesuh, Rita pun segera menghampiri putrinya.


"Dimana Andika?" tanya Rita langsung karena melihat putrinya datang sendiri.


Tia belum menjawab, ia memeluk lengan Ibunya dan terus berjalan menuju sofa di ruang keluarga.


"Tia, dimana Andika? Apa dia tidak mengantarmu?" Gunawan ikut bertanya saat Tia sudah duduk di sofa.


Tia menarik nafasnya dalam sebelum menjelaskan pada Ayah dan Ibunya.

__ADS_1


"Dia hanya mengantarku sampai depan," ucap Tia dan kembali menarik nafasnya.


"Ada apa?" tanya Rita bingung, dan merasa tidak puas dengan jawaban Tia.


"Andika … dia ke Amerika." Tia menjawab namun semakin membuat orang tuanya bingung.


"Jita tidak ingin memberitahu, sekarang masuk kekamarmu.! Biar Ayah yang bertanya langsung pada Andika." Gunawan menimpali dengan nada suara tak bisa di tebak, entah dia marah atau ia sedang peduli.


"Ayah … Papanya terjatuh dari atas gedung yang masih du bangun," ucap Tia terdengar begitu lirih.


"Papa? Maksdumu Pak Iskandar?" tanya Gunawan dengan nada panik.


Tia mengangguk pelan sebelum kembali berbicara. 


"Dan … dan, dia kritis." Tia bersuara lagi, terlihat ada butiran bening yang siap jatuh di ujung matanya. Kedua manusia parah baya di sampingnya terlihat sangat terkejut. Rita segera menghampiri putrinya, memeluk gadis itu dan segera mengantar Tia menuju kamarnya.


"Tidurlah.! Semua akan baik baik saja." Rita memgelus kepala putrinya. Seorang Ibu memang akan selalu memberi ketenangan pada anaknya.


Rita kemudian mematikan lampu kamar Tia dan segera beranjak dari ruangan itu. Ia kembali menghampiri Gunawan yang masih berada di ruang keluarga.


~


"Apa Tia sudah tidur?" tanyanya saat melihat Rita kembali.


"Sepertinya belum," jawab Rita dan kembali duduk di samping suaminya. "Apa Ayah sudah menelpon Andika?" lanjutnya bertanya.


"Sudah, tapi nomornya tidak aktif." Gunawan menjawab seadanya.


"Hem."


~


"Tuan … apa Anda tidak ingin memberitahu Nyonya kejadian ini?" tanya Bimo hati hati. Ia melirik Andika yang terlihat gusar di kursi belakang, menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Bimo.


"Aku akan memberitahu setelah melihat sendiri kondisi Papa." akhirnya ini keputusannya. Bimo pun tidak lagi bertanya dan kembali melajukan mobilnya. Keheningan kembali tercipta, Andika menatap pohon dan lampu jalan yang telihat indah di malam hari, tapi ia sungguh tidak menimatinya, pikirannya sudah berlarian entah kemana. Ia menarik nafasnya berat, lalu membuangnya dengan kasar, dan begitu seterusnya.


Jangan lupa vote, like, dan coment kak🤗

__ADS_1


Thank's For You All☺💙🙏


__ADS_2