
Semua orang sudah berkumpul di ruang kerja Tia yang berada di lantai dua. Mereka sudah mematikan lampu di lantai utama sehingga ruangan di bawa terlihat begitu gelap. Dan mereka juga mematikan lampu ruangan yang mereka tempati sekarang agar bisa melancarkan rencananya.
Tak berapa lama, sudah terdengar suara klakson motor dari bawah. Ulan mengintipnya dari jendela, dan ternyata benar bahwa Tia sudah datang. Ia kembali menuju ke ruang tempat yang lain nya berkumpul.
~
"Emm Buk ... Tia tidak memiliki penyakit jantung kan?" tanya Fina membuat ruangan itu penuh dengan suara tawa, tapi dengan cepat mereka semua menutup mulutnya agar Tia tidak mendengar.
"Kau sangat bodoh," sahut Ulan di sela sela tawanya.
"Hei, aku hanya khawatir, apa kau tidak khawatir huh," ujar Fina yang tak terima di katai bodoh oleh Ulan.
"Sudah, jangan bertengkar. Kau tenang saja Fin, Tia sehat kok," timpal Sisi menghentikan perdebatan kedua karyawan adiknya itu.
~
Tia heran melihat butiknya yang tampak sangat gelap dari luar. Ia berjalan dengan cepat untuk masuk ke dalam. Ia juga membawa beberapa kantong plastik yang berisi makanan dan minuman yang sudah ia beli.
"Gi ... Anggi," panggil nya tapi butik itu tampak sangat sunyi dan tidak ada tanda tanda bahwa ada orang di sana.
"Kenapa begitu gelap di sini ? Lalu dimana Anggi?" tanyanya pada diri sendiri. Ia mencoba meraba benda pipihnya yang berada di dalam kantong celana agar ia bisa menyalakan senter di ponselnya itu.
"Apa dia di atas ya," ucapnya lagi dengan menerka nerka dan berjalan menaiki anak tangga.
"Anggi ... apa kau di atas." panggilnya sebelum sampai di lantai atas.
"Dia tidak ada, lalu dimana dia?" ucapnya dengan terus berbicara sendiri, "eh tunggu, kenapa lampu di sini menyala?" sambungnya setelah menyadari bahwa di lantai dua sangat terang dengan cahaya lampu.
Karena Tia tidak menemukan Anggi, ia kemudian berjalan menuju ruangannya dengan masih membawa beberapa kantong plastik di tangannya. Ia berusaha membuka pintu ruangan itu, karna tangan nya yang penuh dengan tentengan membuatnya sedikit susah membuka pintu.
"Ceh, ini menyebalkan," ucapnya, "ternyata tidak sesulit itu," lanjutnya dengan sedikit tertawa saat pintunya sudah terbuka.
"Di sini juga gelap, apa lampunya rusak secara bersamaan?" ujarnya lagi dengan nada jengkel karena lampunya yang tampak sedang bermain main.
Ia berjalan dengan langkah hati hati untuk membuka jendela ruangan itu, agar bisa mendapat cahaya dari luar. Karna senter di ponselnya sudah ia matikan membuat ruangan itu sangat gelap.
__ADS_1
~
Doorrr ... dooorrr ... doorrrr
Suara letusan balon dan kemudian di lanjutkan dengan suara orang yang sedang bernyanyi lagu selamat ulang tahun, dan ruangan itu langsung tampak sangat cerah dengan lampu yang sudah menyala.
Tia masih mematung di tempatnya, mata nya membulat dengan sempurna saking kagetnya dengan semua itu. Ia menatap semua orang yang sedang tersenyum ke arahnya. Dengan perlahan ia berjalan menghampiri Ibunya yang terlihat sangat bahagia, ia memeluk Ibunya dan buliran bening pun tanpa pamit jatuh dari mata indahnya.
"Apa semua ini?" tanya nya bingung dan menghapus sisa air mata di pipinya.
"Happy birthday to you ... happy birthday, happy birthday, happy birthday to you Tia ...." ucap seorang lelaki dari arah belakang, dengan segera Tia melihat ke arah suara, di ikuti dengan semua orang yang terlihat sudah tau akan kedatangan lelaki itu.
Andika masih berdiri di ambang pintu dengan membawa kue ulang tahun di tangan nya, bibirnya melengkung dengan sempurna dan terus menatap ke arah gadis yang sangat ia cintai.
Tia berjalan menghampiri lelaki itu, ia menatap begitu dalam pada mata Andika, tidak lama kemudian, ia kembali meneteskan buliran bening di ujung matanya, ia masih tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Seumur hidup ia tidak pernah merayakan hari ulang tahun nya, ia bahkan sering kali melupakan hari yang special menurut orang orang sebagian.
"Selamat ulang tahun, aku selalu ber do'a agar Tuhan selalu meridhoi setiap langkah mu," ucap Andika begitu lembut pada gadis yang sudah berdiri tepat di hadapan nya.
Tia masih terus mematung, matanya membulat dan pandangannya bergantian menatap ke semua orang yang berada di ruangan itu.
Ia kembali menatap begitu dalam pada lelaki yang sedang berdiri tegap dengan membawa kue di tangan nya.
"Tia, cepat tiup atau lilinnya akan segera meleleh," kata Gita dan Tia kembali menatap ke arahnya lalu tersenyum.
"Ayo tiup Kak ...." timpal Ulan yang juga sudah menunggu.
Gadis itu tersenyum, lalu memejamkan matanya, dan tidak lama kemudian ia kembali membuka matanya lalu meniup lilin di bantu oleh Andika hingga lilin itu padam.
Ruangan itu sangat riuh oleh suara tepuk tangan dan sorakan bahagia dari semua orang. Bibir Tia terus melengkung dengan sempurna, saking bahagia nya.
Setelah meniup lilin, kedua manusia itu kembali bergabung dengan semua orang, lalu mereka duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
"Ceh, kalian sangat licik." umpat Tia pada semuanya tetapi dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajah cantik nya, "dan sejak kapan kalian datang?" tanyanya menatap ke arah Sisi dan Diki serta kedua orang tuanya.
"Itu tidak penting sayang ...." balas Sisi tersenyum di ikuti tawa yang lain.
__ADS_1
"Mas dimana Kak Rena? Kenapa ia tidak datang?" tanya Tia lagi karena tidak melihat keberadaan kakak ipar beserta keponakannya.
"Mas baru di telfon tadi pagi oleh Ibu, mereka tidak bisa ikut karena ini sangat mendadak, dan Mas juga tidak bisa menginap," jelas Diki membuat gadis itu memanyunkan bibirnya.
"Selamat bertambah usia Kak, semoga ... setiap langkah Kak Tia di Ridhoi oleh Tuhan, dan Rezekinya semakin banyak," timpal Fina dengan terus berfikir apa lagi yang ia ingin katakan.
Tia kembali tersenyum ke arah semua orang, hari ini ia sangat bahagia dengan kejutan sederhana yang di buat untuk nya.
"Kapan kita akan makan kuenya?" tanya Anggi dengan menatap kue yang berada di meja, dan semua orang kembali tertawa melihat ekspresi gadis itu.
~
Karena Anggi sudah tidak bisa menahan untuk memakan kue itu, akhirnya Tia memotong kue itu dan mereka menikmatinya bersama sama.
Tia mengambil potongan pertama kue itu dan menyuapi Ayah dan Ibunya. Semua orang masih menikmati kue dan beberapa minuman dingin yang sudah di sediakan oleh Gita dan yang lain nya.
~
"Tia ...." ujar Andika dengan sangat lembut. Semua mata kemudian menatap kearahnya, dan suasana langsung berubah menjadi tegang melihat Andika yang tampak sangat gugup.
Gita menatap tak percaya pada Kakak semata wayangnya, baru kali ini ia melihat Kakaknya segugup dan tidak percaya diri seperti itu. Ia tak menyangka lelaki yang selalu tampak percaya diri dengan semua kelebihannya itu ternyata bisa juga gugup seperti sekarang.
~
"Ada apa?" tanya Tia menatap bingung ke arah lelaki yang berada di samping nya.
Andika langsung beranjak dari duduk nya, dan kemudian ia duduk bersimpuh di hadapan Tia. Gadis itu tampak terkejut dengan tingkah lelaki yang berada di hadapan nya kini. Tia ingin segera beranjak tetapi Andika menarik tangannya membuat ia kembali terduduk di sofa.
"Duduk lah, dan dengarkan aku," ucap Andika dengan tangan yang masih menggenggam tangan Tia.
Gadis itu menurut dan kembali duduk di sofa, lalu menatap Ibu dan Ayahnya bergantian. kedua manusia paruh baya itu tersenyum menatap putrinya dan mengangguk pelan agar gadis itu menurut.
~
Tia mengatur nafas nya, detak jantung nya sudah tak beraturan. Ia berusaha agar terlihat biasa biasa saja meskipun wajah nya menampakkan hal yang berbeda.
__ADS_1
Jangan lupa vote , like dan coment kak🤗
Dan sekali lagi terima kasih😌💙🙏