
Masih di dalam ruang kerjanya, kedua manusia itu terus bersenda gurau sambil menikmati jus dan cemilan yang dibawa oleh salah satu staf kantor.
Andika terus menjahili Tia, membuat gadis itu tak pernah lepas dari tawanya. Setelah merasa puas menggoda Tia, Andika menghentikan aktivitasnya lalu bersandar di bahu kekasihnya.
Tia pun sudah bisa menghentikan tawanya, tatapannya kembali beralih pada wajah lelaki yang melekat di bahunya. Namun ia pun tidak menolak, hanya membiarkan selagi itu tidak melewati batasan mereka.
"Bagaimana jika kita menikah," tutur Andika begitu pelan namun terdengar jelas ditelinga Tia karena mulut Andika yang hampir menyentuh telinganya.
"Apa.!" berteriak karena kaget lalu dengan cepat menutup mulutnya sendiri.
Andika mengangkat kepalanya, menatap dengan bingung ke arah Tia.
"Ada apa?" tanyanya dengan kedua alis yang saling bertautan.
"Eh … tidak, aku hanya kaget saja." Menjawab dengan senyum canggungnya.
"Apa kau tidak mau menikah denganku?" tanya Andika lagi, nada suaranya sudah terdengar sangat serius.
Tia belum bersuara, lidahnya keluh, tidak tahu bagaimana menafsirkan perasaannya sekarang. Antara senang, terharu, atau mungkin takut. Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Karena melihat kekasihnya tidak bergeming, Andika mengubah posisi duduknya, ia duduk bersilah di atas sofa dengan menghadap ke arah Tia, menarik pelan tangan gadis itu agar mengikuti posisi duduknya.
Tia menurut, ia menaikkan kakinya ke atas sofa, duduk bersimpuh dengan posisi saling berhadapan dengan kekasihnya.
"Aku tidak bermain main dengan hubungan ini." Menjelaskan fakta sekaligus meyakinkan Tia kembali.
Tia mengangguk beberapa kali, memberitahu lewat sorot matanya bahwa ia percaya dengan ucapan Andika. Lelaki itu tersenyum, memajukan tubuhnya agar semakin dekat dengan Tia. Jarak mereka yang sangat dekat membuat nafas Andika memburu, aliran darahnya sudah terasa panas. Tatapan sendu Tia membuatnya semakin bergairah.
Dengan terus memajukan tubuhnya, hingga bibir mereka bertemu. Tia memejamkan matanya saat Andika mulai membuka mulutnya, memberi isyarat pada Tia agar gadis itu membalasnya.
Andika menggigit bibir bawah kekasihnya, karena gadis itu tidak membuka mulut, membuat Tia meringis pelan. Meskipun sudah berciuman beberapa kali, Tia masih terlihat sangat kaku, di tambah lagi tindakan Andika yang tidak tahu tempat itu.
Mulutnya sudah ikut terbuka, membuat Andika bebas memainkan lidahnya, mengabsen setiap isi mulut Tia, membuat gadis itu terus memejamkan matanya.
Tia sudah terlihat pintar untuk mengatur nafasnya saat berciuman. Jadi mereka melakukannya tanpa harus berhenti untuk mengambil nafas. Cukup lama, hingga Tia sedikit demi sedikit membalas serangan Andika.
__ADS_1
Dengan nafas yang saling memburu, kedua manusia yang sedang di mabuk cinta sudah tidak sadar dengan sekelilingnya. Andika mendorong tubuh Tia, membuat gadis itu tersandar di ujung sofa. Bibir mereka masih terikat satu sama lain.
Drttt … drrttt, dering ponsel membuat Tia melepas ciumannya secara paksa, melihat ke segala arah untuk memastikan tidak ada yang melihat kelakuan mereka berdua tadi.
Andika meraih ponselnya yang berada di meja, menatap layar utama untuk melihat siapa yang menelepon.
"Ya Bim, ada apa?"
"Saya dan Nona sudah ada di lobby Tuan." Memberi informasi, seperti memberitahu bahwa jangan melakukan apapun karena adik Anda akan segera kesitu.
"Hem." Menjawab sesingkat mungkin, sudah bisa menebak maksud Bimo meneleponnya.
Sambungan telepon sudah di akhiri, Andika kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menari pelan tangan Tia, membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
Membelai puncak kepala Tia, dan menciumnya beberapa. Memberi kehangatan dan rasa nyaman untuk gadis itu.
Selang beberapa menit, sudah terdengar ketukan dari balik pintu, Andika segera bersuara untuk membiarkan mereka masuk.
Gita berjalan cepat, menjatuhkan dirinya di sofa yang sama dengan Tia, membuat sepasang kekasih itu melepas pelukannya dan menatap ke arah Gita.
"Ada apa?" Andika bertanya dengan alis yang saling bertautan.
Kedua adik beradik itu saling menatap bingung. Membuat Tia melengkungkan bibirnya karena merasa lucu dengan sikap dua orang yang berada di sisinya.
Matahari kembali terbenam, malam akan segera tiba, namun masih menyisakan warna keemasan di langit luas. Membuat orang yang menatapnya terus memuji keindahan sang senja.
~
Semua orang sedang menikmati makan malamnya. Andika dan Gita juga ikut serta dengan keluarga kecil itu.
Keheningan tercipta, hanya suara dentingan sendok yang saling beradu dengan piring kaca, menimbulkan suara khasnya.
Setelah semua selesai dengan makan malamnya, mereka berkumpul di ruang keluarga, mengobrol dan sesekali bercanda.
Gita terlihat berpikir, ia ingin meminta izin untuk mengajak Tia, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Masih mencari kata yang masuk akan agar jawaban lelaki paruh baya itu tidak mengecewakan.
__ADS_1
Ia menarik nafasnya, membuangnya perlahan, berdo'a dalam hati, lalu memulai rencananya.
Aku kan hanya perlu meminta izin dengan benar dan berbicara jujur. Ah, kenapa harus sesulit ini sih. Aku bahkan seperti orang yang akan melakukan kesalahan. Batin Gita.
"Paman," ucap Gita pelan.
Semua orang menatapnya, menunggu apa yang akan diucapkan gadis itu.
"Begini paman, em … apa aku boleh mengajak Tia menginap di rumahku, aku … " belum selesai dengan kalimatnya, Gunawan sudah menolak dengan tegas.
"Tidak boleh.!" jawabannya membuat Gita berkerut.
Apa apaan ini, aku kan belum selesai menjelaskan, paman. Batinnya sudah kecewa duluan.
"Memangnya kenapa Nak Gita harus mengajak Tia menginap?" tanya Rita yang ikut menimpali. Sementara Tia dan Andika hanya menjadi pendengar yang baik.
"Aku kesepian di rumah, Mama juga belum kembali dari Amerika." Menjawab dengan suara memelas.
"Andika kan ada," ujar Gunawan sambil menatap lelaki yang berada di hadapannya.
"Dia kan tinggal di apartemen, paman," jawabnya masih dengan nada memelas.
"Kalau seperti itu, kamu saja yang menginap disini," imbuh Gunawan memberi solusi. Dengan begitu kan ia tetap bisa mengawasi anaknya dari hal yang tidak diinginkan.
"Paman, kan Andika juga tidak di rumah, jadi tidak akan ada … " lagi lagi kalimatnya ditolak keras oleh Gunawan.
"Tidak. Bisa saja dia juga pulang kalau ada Tia disana. Jadi, biar kamu saja yang menginap disini.!" berbicara dengan sangat serius.
Gita berpikir, sebenarnya ia ingin mengajak Tia berjalan jalan di malam hari, tapi kalau menginap disini, pasti mereka tidak akan sebebas itu.
Dan akhirnya keputusan akhirnya adalah Gita yang menginap di rumah Tia. Rencana jalan jalan di malam hari yang sudah di susun oleh Gita sudah hancur lebur.
Gunawan dan Gita pun sudah selesai bernegosiasi. Membuat yang mendengar merasa lucu sendiri karena pembicaraan mereka.
Setelah selesai mengobrol dengan keluarga Tia, Andika berpamitan untuk segera pulang karena hari yang semakin larut. Ia juga harus istirahat agar bisa beraktivitas dengan baik di esok hari. Ia pun meninggalkan halaman rumah kekasihnya dan berlalu menuju apartemennya.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen🤗
Terima kasih😌💙🙏