Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 33


__ADS_3

Andika menatap ke arah Tia yang sedang duduk di sofa yang tak jauh dari tempatnya berbaring, ia memicingkan matanya ke arah gadis itu.


"Ada apa?" tanya Tia dengan menatap bingung.


"Kemarilah ... aku ingin memberi tahu sesuatu padamu," ujarnya dengan begitu serius.


"Berbicaralah, aku pasti mendengarkan," sahut Tia yang kembali fokus keacara televisi


"Ini sangat penting Tia," imbuhnya yang kembali memposisikan dirinya untuk duduk di sofa itu. Karna merasa penasaran, akhirnya Tia mendekat dan duduk di sofa yang sama dengannya


"Ada apa?" tanya Tia dengan wajah bingung


Tanpa membalas pertanyaan kekasihnya, Andika bahkan langsung merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, Tia membelalakkan matanya karena tingkah yang tidak tau aturan dari lelaki itu. Ia takut jika ada yang melihat dan berpikir yang tidak tidak. 


"Lepaskan aku, ini rumahku, apa kau tidak malu dengan Ibu huh," cercah Tia dengan terus berusaha melepaskan pelukan lelaki itu.


Bibir lelaki itu melengkung mendengar ucapan kekasihnya, ia kemudian melonggarkan pelukannya dan menatap Tia begitu dalam. 


"Emm … Ibu sedang keluar," ucapnya singkat dengan tersenyum penuh arti.


"Benarkah?" tanya Tia tak percaya dan lelaki itu hanya mengangguk pelan.


"Kenapa hari ini tidak kebutik?" tanyanya dengan terus menatap gadis yang masih menggunakan pakaian tidur di sampingnya. 


Tia tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bukannya menjawab pertanyaan Andika, ia malah menyandarkan kepalanya pada lengan berotot kekasihnya itu.


"Ceh," ujar lelaki itu dengan bibir yang melengkung sempurna.


"Kemana Ibu?" tanya Tia yang kembali teringat oleh ibunya.


"Sedang keluar, bukankah tadi sudah ku katakan," bisiknya begitu pelan dengan mulut tepat di samping telinga gadis itu.


Tia tersenyum geli karena nafas lelaki itu yang menyambar telinganya. Andika tersenyum menatap gadis yang sedang bersandar di lengannya. Andika pun ikut menyandarkan kepalanya di atas kepala kekasihnya sambil sesekali menjahili gadis itu.


~


Setelah makan siang, Bimo langsung melajukan mobilnya menuju butik milik Tia, ia ingin segera menjemput bosnya untuk melakukan pertemuan dengan klien di kafe.


~


"Permisi nona … dimana tuan Andika?" tanya Bimo langsung saat tidak melihat kehadiran bosnya di sna.


"Eh … pak Bimo, maaf pak, tapi saya tidak tau, tadi dia kemari tapi sudah pergi," jelas Anggi yang sedang berada di lantai utama, dan hanya dia yang melihat kedatangan pria itu.


"Lalu … dimana nona?" tanya Bimo kembali


"Dia tidak datang kemari pak, mungkin sedang ada urusan," jelas Anggi


"Baiklah, terima kasih nona, saya pergi dulu," pungkas Bimo dan segera kembali menuju tempatnya memarkirkan mobil bosnya itu.


Anggi menatap bingung punggung laki laki yang sudah semakin jauh darinya. Setelah melihat Bimo pergi, Anggi kembali melayani customer yang sedangkan berbelanja. 

__ADS_1


~


Tidak menunggu lama, Bimo kembali melajukan mobilnya, karena waktu pertemuan yang sebentar lagi, dan ia bum bersama dengan bosnya.


Setelah hampir 30 menit Bimo sampai di halaman rumah yang terlihabt sangat sederhana namun begitu terawat dengan tanaman bunga yang sangat dirawat.


"Ceh, ternyata ia memang ada di sini," gumamnya saat melihat sepeda motor yang tidak asing dari pandangannya terpampang di halaman rumah itu.


Tok … tok … tok


Suara ketukan pintu itu membuat kedua manusia yang sedang duduk dengan posisi saling memeluk langsung berhamburan karena terkejut. Tia dengan sikap berjalan untuk melihat siapa yang datang kerumahnya siang ini.


"Permisi Nona, maaf telah mengganggumu," sapa Bimo ketika Tia sudah membuka pintu rumahnya.


Tia merasa malu sendiri dengan ucapan asisten kekasihnya, ia tersipu lalu kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Silahkan masuk pak," ucapnya mempersilahkan dan Bimo menangguk lalu mengikuti langkahnya menuju kedalam rumah.


"Bimo.!!" kata Andika yang melihat kedatangannya.


"Maaf tuan, tapi … ini sudah waktunya untuk ke kafe," jelasnya dengan tubuh yang sedikit menunduk.


Tak lama setelah kedatangan asistennya, Kedua manusia itu kembali beranjak, dan ingin segera berlalu menuju kafe yang akan mereka tempati untuk pertemuan, bersama klien.


"Aku pergi dulu, nanti aku jemput untuk makan malam," ujarnya dengan membelai puncak kepala kekasihnya.


Tia hanya mengangguk, dan tersenyum, ia bahkan tidak tahu akan membalas seperti apa ucapan lelaki itu.


"Masuklah.! Kau harus mandi, bau di badanmu sungguh tidak enak," lanjutnya membuat Tia melebarkan matanya, dengan sedikit melirik ke arah Bimo.


"Hei … ada apa?" tanya Andika karena melihat Tia yang menatapnya tajam.


"Pergilah.! Kau baru saja mempermalukanku," ucapnya merasa kesal pada lelaki itu.


"Baiklah, aku pergi, jangan lupa yang aku katakan tadi," ujarnya tanpa rasa bersalah, lalu mengecup singkat bibir kekasihnya, dan segera menyusul Bimo. 


Tia masih tertegun menatap


punggung lelaki yang sedang berjalan menuju halaman rumahnya.


Andika melambaikan tangannya dari luar, ia melihat Tia dengan setianya berdiri dan menatap ke arahnya.


~


Setelah melihat mobil yang membawa kekasihnya pergi dari pekarangan rumahnya, Tia segera masuk ke kamar untuk mandi, ia mengingat ucapan Andika yang mengatakan bau tubuhnya tak enak ….


~


"Apa kita akan langsung ke kafe?" tanyanya saat sudah berada di dalam mobil bersama Bimo. 


"Iya tuan," tutur Bimo yang masih fokus mengemudi.

__ADS_1


Andika tak lagi menjawab, ia hanya terlihat sedang melakukan sesuatu dengan benda pipih miliknya. 


~


Pagi pun berganti sore, langit biru perlahan berubah menjadi jingga, semua yang melihat pemandangan sore itu, akan merasa tenang dan tentram dalam jiwanya. 


Tapi berbeda dengan seorang gadis berambut coklat, dengan mata bulat dan tubuh yang cukup tinggi, ia sedang duduk disebuah taman di kota yang begitu ramai penduduk.


"Aku kan kembali kesini hanya untuk dekat dengannya, tapi dia bahkan tak pernah peduli padaku," batin Rosa terus menggerutu mengingat Andika yang tak pernah menganggap kehadirannya.


"Ah … aku tak bisa terus diam seperti ini," protesnya pada diri sendiri, lalu ia segera berlalu dari taman itu, karena hari yang sebentar lagi akan gelap.


Rosa mengendarai mobil mewahnya menuju apartemen milik Andika, ia memutuskan untuk menemui lelaki itu karena sudah lama mereka tak bertemu.


~


"Halo," ucap Tia yang sudah meletakkan benda pipihnya di samping telinga.


"Apa kau sudah siap? Aku akan segera menjemputmu," kata Andika dan segera keluar dari kamar apartemennya. 


"Iya, tapi aku belum memberitahu Ayah, nanti kau saja yang mengatakannya," imbuh Tia, ia masih saja belum berani jika harus meminta izin secara langsung kepada Ayahnya.


"Baiklah, sampai bertemu lagi sayang," tuturnya dan langsung mematikan sambungan telepon, lalu ia segera menuju lift untuk turun ke lobby.


~


"Dika …." sapa Rosa saat melihat lelaki itu sedang berjalan di lobby dan terlihat terburu buru.


"Eh … kau," ucapnya santai dan ingin kembali berlalu menuju area parkir.


"Tunggu dulu … kau mau kemana?" tanya Rosa menghentikan langkahnya.


"Aku harus pergi," ujarnya dan kembali melanjutkan langkahnya.


Rosa mengerutkan kedua alisnya dan segera menyusul lelaki yang sudah berlalu meninggalkannya.


"Dik … em … apa aku boleh ikut denganmu," pintanya dengan tampang memelas.


"Ikut denganku" ulangnya dan Rosa mengangguk


"Aku datang kemari untuk bertemu denganmu, tapi tadi, tiba tiba di tengah jalan ban mobilku bocor, dan aku terpaksa menggunakan taxi," ucapnya berbohong agar Andika merasa empati padanya.


"Baiklah, tapi aku harus menjemput kekasihku, setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Andika dengan terus berjalan menuju mobilnya.


"Kekasih? Apa aku salah dengar? Tapi dia baru saja mengucapkan itu," ucapnya dalam hati sambil berlalu mengusul Andika yang sudah berada di sisih mobilnya.


"Apa tadi kau mengucapkan akan menjemput kekasihmu?" tanya Rosa untuk meyakinkan dirinya sendiri. 


"Ya," balasnya singkat sambil terus melajukan mobilnya menuju rumah kekasihnya. 


Rosa tidak lagi bertanya, ia hanya fokus pada pikirannya, dan merasa tidak sabar untuk melihat seperti apa gadis yang dipilih Andika untuk menjadi kekasihnya itu.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan coment kak🤗


Sekali lagi terima kasih😌💙🙏


__ADS_2