Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 27


__ADS_3

1 minggu kemudian


Malam berganti pagi, cahaya matahari pun masuk kekamar seorang gadis yang masih terlelap. Gadis itu terlihat berusaha membuka matanya yang terus terkena pantulan cahaya yang menembus jendela kamar nya.


"Rasanya aku baru saja tidur dan sekarang sudah pagi," gumamnya masih dengan setengah sadar.


Setelah mengumpulkan nafas nya kembali, ia beranjak dari tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi.


Dan beberapa menit kemudian ia keluar dengan menggunakan handuk di tubuhnya. Kemudian ia bersiap untuk ke butik dengan menggunakan celana jeans berwarna hitam dengan baju kaos putih dan sepatu sneakers yang senada, ia juga menggunakan make up tipis di wajahnya. Lalu ia segera keluar dari kamar untuk menghampiri orang tuanya.


"Buk, Ayah," panggilnya, "kemana mereka?" tanyanya pada diri sendiri ketika tidak menemukan keberadaan orang tuanya itu.


Tia berjalan kesana kemari, tapi masih belum juga menemui kedua orang yang ia cari. Ia kemudian berjalan kedapur dan zonk, ia tidak menemukan siapapun di sana.


"Tidak ada sarapan juga, kemana mereka," ucapnya saat melihat tak ada sarapan seperti biasanya di meja makan. Setelah mencari ke seluruh ruangan pun Tia tidak mendapatkan hasil.


Karna orang tuanya tidak ada dan sarapan juga tidak ada akhirnya Tia memutuskan untuk sarapan di luar saja, sebelum ke butik. Ia mengendarai sepeda motornya membelah jalalan kota. Ia kemudian singgah di sebuah swalayan dan membeli beberapa roti dan susu kotak, lalu kembali melajukan motornya menuju butik.


~


"Halo ... kak kau dimana?" tanya suara di balik telepon


"Sudah di kantor, Kenapa?" sahutnya kembali bertanya.


"Kau tidak lupa kan?" balasnya dan lagi lagi


bertanya.


"Kau tenang saja Gita, aku mengingat nya sebelum kau mengingatkan ku," ujar lelaki itu santai.


"Baiklah, aku akan kebutik, by ...." balas Gita dan langsung mematikan sambungan telfon.


"Jadi dia menelfon ku hanya untuk mengingatkan," katanya pada diri sendiri dengan masih menatap layar handponenya.


~


Tia sudah sampai di depan butik nya dan segera memarkirkan motornya di garasi. Ia berjalan sambil menenteng kantongan yang berisi roti dan susu yang sudah ia beli untuk sarapan.


"Selamat pagi," sapanya pada Anggi dan gadis itu tersenyum padanya.


"Pagi kak," balas Anggi dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.


"Eh ... dimana Ulan dan Fina?" tanyanya saat melihat hanya Anggi yang berada di butik.


"Ulan hari ini tidak masuk kak, tadi ia hanya datang memberi saya kunci lalu pergi," jelas Anggi dan Tia tampak bingung karna kedua karyawan nya tidak memberitahu bahwa mereka tidak masuk bekerja hari ini.


"Lalu dimana Fina?" ucapnya kembali bertanya.


"Fina ... dia, belum datang kak," jawab Anggi lagi dan Tia hanya mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah, aku mau ke atas dulu," katanya dan segera melangkah menuju tangga, "eh apa kau sudah sarapan?" tanya Tia kembali melihat ke arah Anggi.


"Sudah kak ...." sahut Anggi tersenyum dan Tia juga tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


~


Di rumah Tia, Gunawan dan Rita sudah kembali ke rumah menggunakan sepeda motor milik Ayah Tia.


"Tia pasti sudah mencari kita," ucap Rita merasa tidak enak karna telah meninggalkan anaknya tanpa pamit.


"Biarkan saja Buk, nanti juga dia tau," balas Gunawan tersenyum dan Rita membalas senyum dari suaminya, "ayo sarapan dulu," ajaknya sambil berjalan menuju dapur. Dan mereka sarapan dengan makanan yang mereka beli saat keluar tadi.


~


Drrttt ... drrrttt


"Halo ... kau dimana Fin?" tanya Ulan setelah sambungan teleponnya di jawab.


"Masih di jalan. Kau dimana?" tanya balik dari seberang telepon


"Di butik Mba Gita, kau langsung kemari saja," balas Ulan.


"Ok, aku langsung kesana," sahutnya dan langsung mematikan sambungan telepon.


~


"Ku rasa ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya Mba," sahut Ulan dan kedua manusia itu terus saja tertawa mengingat sahabat dan boss dari Ulan.


Karna kedua karyawan nya tidak masuk, jadi Tia juga harus mengerjakan banyak pekerjaan untuk membantu Anggi yang terlihat sangat kerepotan. Mulai dari mengemas pesanan online, dan melayani customer yang datang ke butik, membuat Tia harus bolak balik lantai utama dan lantai dua.


"Kak Tia, kalo lelah istirahat saja dulu," kata Anggi manatap Tia yang terlihat sangat lelah.


"Tidak masalah, ini juga harus di kirim hari ini, jadi secepatnya kita selesaikan," balas Tia sambil terus mengemas dan memasukkan beberapa barang ke dalam plastik.


Anggi tersenyum melihat bossnya yang tampak sangat kerepotan kesana kemari untuk ikut melayani customer.


"Aku harap rencana mereka berjalan lancar," kata Anggi dalam hati yang masih terus memperhatikan Tia.


~


Sekarang sudah pukul 12.30, tetapi Tia dan Anggi belum juga makan siang karna pekerjaan yang masih menumpuk.


"Gi, apa kau tidak lapar?" tanya Tia lesuh sambil beberapa kali mengelus perutnya, Anggi tersenyum dan mendekat ke arah Tia.


"Lapar juga kak," balas Anggi dan juga memegangi perutnya.


"Emm ... kita makan apa ya?" tanyanya kembali pada Anggi


"Terserah kak Tia sajalah" sahut Anggi tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, biar aku yang membeli langsung," ujar Tia dan beranjak dari duduknya lalu segera berjalan menuju pintu keluar.


"Hati hati kak," ucap Anggi sedikit berteriak karna Tia sudah berada di ambang pintu. Dan gadis itu menghentikan langkahnya lalu tersenyum ke arah Anggi.


Tia mengendari sepeda motornya untuk segera


mencari makanan karna cacing di perutnya sudah berbunyi sejak tadi. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang tidak terlalu ramai pengendara.


***


Di tempat lain


Seorang lelaki tampan dengan tubuh atletis berjalan menuju lobby kantornya dengan senyum yang tidak pudar dari wajahnya. Dan Bimo terus setia mengikutinya di belakang dan berjaga jika ada yang di butuhkan oleh bosnya.


Bimo membuka pintu mobil untuk bosnya dan lelaki itu langsung masuk dan duduk di kursi belakang kemudi. Kemudian Bimo membuka pintu untuk dirinya sendiri, lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Drrtt ... drrrttt


"Hmm ...." sahutnya setelah menjawab panggilan telfon dari Gita.


"Ah, kau dimana huh? Ini sudah sangat terlambat," ucap suara di balik telepon terdengar begitu keras membuat Andika menjauhkan benda pipihnya dari samping telinga


"Jangan berteriak atau kau akan merusak pendengaran ku," balasnya dengan nada kesal


"Aku akan segera sampai, kau tenang saja ...." lanjutnya menjelaskan .


"Baiklah, jika kau terlambat sedikit saja maka dia akan kecewa," ucap Gita membuat lelaki itu mengerutkan dahinya dan mematikan sambungan telepon secara sepihak.


"Lebih cepat Bim," sahutnya pada Bimo, dan lelaki itu langsung menambah kecepatan mobilnya.


~


Setelah membeli makanan untuk dirinya dan Anggi, Tia kembali melajukan motornya dan ia singgah di sebuah swalayan. Ia masuk kedalam dan membeli beberapa cemilan, minuman, dan beberapa jenis buah buahan. Lalu ia menuju ke meja kasir dan setelah itu kembali melajukan motornya untuk menuju butik karna rasa laparnya sudah sangat tidak bisa di kontrol.


~


Andika baru saja tiba, ia menyuruh Bimo memarkirkan mobilnya di samping toko yang berada tidak jauh dari butik Tia.


Ia bergegas menuju butik yang sudah di depan mata, dan di dalam butik sudah tampak gelap, hanya ada cahaya matahari yang berhasil menembus kaca butik itu dan memberi sedikit cahaya di dalam nya. Andika dan Bimo terus mempercepat langkahnya agar tidak di dahului oleh Tia.


"Dimana mereka?" tanyanya karna tidak melihat siapapun di butik itu termasuk Gita.


"Mungkin ada di atas tuan," jawab Bimo dan Andika segera menaiki anak tangga dengan Bimo mengikutinya di belakang.


"Kak, kami di sini," panggil seseorang dan Andika langsung melihat ke arah suara. Ia segera berjalan dan ikut bergabung dengan sekumpulan manusia itu. Ia mengatur nafasnya yang sedikit gugup dan detak jantungnya yang tidak beraturan, berharap agar hari ini keinginan nya bisa tercapai.


Jangan lupa vote , like dan coment kak🤗


Dan sekali lagi terima kasih😌💙🙏

__ADS_1


__ADS_2