Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 36


__ADS_3

Tia pun akhirnya sampai di depan Butiknya, ia memasukkan motornya ke dalam garasi lalu segera masuk di bangunan yang terlihat sudah banyak pengunjung.


"Selamat pagi," sapa Tia pada semua orang yang berada di lantai utama. 


"Pagi Boss," balas Ulan tersenyum dan diikuti senyum semua orang.


"Jangan menggodaku pagi pagi Ulan," ujar Tia yang merasa aneh dengan sebutan Boss


"Kau memang Boss disini Kak," timpal Anggi membenarkan, Tia pun hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan karyawannya.


"Terserah kalian saja, aku ke atas dulu," pamitnya tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


~


Pagi pun berganti siang, matahari memancarkan cahayanya semakin terik menyinari bumi.


Semua orang sudah bersiap untuk segera melakukan makan siang, sebelum kembali melakukan pekerjaannya.


"Apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Andika pada lelaki yang masih setia di ruangannya.


"Iya Tuan, beberapa klien sudah ada di sana, saya juga sudah melakukan yang Tuan minta," jelas Bimo membuat ujung bibir majikannya sedikit terangkan.


"Kau memang bisa diandalkan." Andika berkata sambil beranjak dari duduknya. "Ayo Bim," lanjutnya yang sudah berada di ambang pintu keluar.


"Eh … baik Tuan," sahut Bimo kemudian menyusul Andika yang sudah berjalan lebih dulu.


~


Drrttt … drtttt 


"Halo …."


"Aku di bawa, cepat kemari.!"


"Ya, baiklah …."


Setelah panggilan teleponnya dimatikan, Tia beranjak dari ruangannya dan berlalu untuk menghampiri Gita yang sudah menunggu di bawa.

__ADS_1


"Hai Git," sapanya saat sudah berada tidak jauh dari sahabatnya itu.


"Kau begitu lama, aku sudah lapar," sahut Gita dengan wajah memelas.


"Ceh," desisnya namun tetap tersenyum.


"Ayo pergi," ajak Gita yang sudah beranjak dari duduknya.


"Tunggu sebentar," tutur Tia yang berjalan menghampiri Ulan.


"Kak Tia … ada apa?" tanya Ulan yang melihatnya mendekat.


"Saya ingin keluar dulu, makan siangnya kalian pesan sendiri aja ya, takutnya saya lama," jelasnya dengan tersenyum ramah. "Dan uangnya, kamu ambil saja di laci," lanjutnya sebelum kembali meninggalkan Ulan.


~


Keduanya berlalu meninggalkan Butik milik Tia, mereka keluar menggunakan mobil Gita seperti biasa.


Padatnya kendaraan yang berlalu lalang membuat kemacetan di sepanjang jalan. Gita terus saja menggerutu karena merasa gerah, meskipun sudah menyalakan pendingin mobilnya.


Setelah hampir 1 jam membelah jalanan kota, mereka sampai di depan sebuah restoran ternama di kota itu.


"Kurasa begitu." Gita tersenyum sambil menarik tangan Tia untuk segera masuk kedalam.


Gita menatap ke semua sudut restoran, mencari tempat yang menurutnya nyaman untuk ia tempati menyantap makanan siang ini. 


"Sebaiknya kita keatas saja," ajak Gita kembali dengan terus menarik tangan sahabatnya, membuat gadis itu mengerutkan dahinya karena langkah yang tak beraturan.


"Jangan lagi menarikku seperti tadi," keluh Tia sambil merapikan sedikit pakaiannya.


"Aku hanya begitu lapar," ujar Gita sambil terkekeh melihat wajah kusut sahabatnya.


Mereka memilih sebuah kursi di samping jendela kaca besar yang berada di lantai dua restoran, menatap sebagian sudut kota dari atas sana membuat hati Tia merasa nyaman.


~


"Selamat datang Tuan," sapa seorang pelayan. Andika hanya mengangguk pelan kemudian melanjutkan langkahnya dengan diikuti Bimo di belakangnya.

__ADS_1


"Dimana mereka Bim?" tanya Andika karena tidak melihat keberadaan kliennya.


"Mereka di lantai atas Tuan," jawab Bimo dan Andika kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


"Disana Tuan," ujar Bimo setelah melihat beberapa klien yang sudah berkumpul. Tanpa menunggu lama, mereka berdua langsung menghampiri dan bergabung di meja itu.


"Maaf karena membuat kalian menunggu," tutur Andika tersenyum sambil mengambil posisi duduk di kursi kosong.


"Kami juga belum lama Tuan," ujar salah seorang lelaki paruh baya, dan yang lain hanya mengguk membenarkan.


Mereka semua pun langsung memesan makanan sebelum membicarakan masalah pekerjaan.


~


Tia dan Gita masih terus melanjutkan makan siangnya, sesekali mereka bercanda untuk menghilangkan hening di antara keduanya.


Drrttt … drrttttt


Suara ponsel mengagetkan keduanya dan langsung melihat ke arah benda kecil yang berada di samping Tia.


"Hans …." Tia melebarkan matanya saat melihat nama di layar ponselnya, ia benar benar lupa jika temannya akan berkunjung ke Butik.


"Siapa?" tanya Gita penasaran


"Eh … ini, dia temanku," balasnya kemudian segera meraih ponsel yang terus berdering.


"Halo Hans," sahut Tia setelah ponselnya sudah berada di samping telinga.


"Aku sudah berada disini, tapi kau tidak ada." Hans terdengar kecewa karena tidak menemukan Tia di Butiknya.


"Ah … maafkan aku Hans, aku sedang makan siang di luar," tutur Tia yang merasa tidak enak.


"Oh, baiklah tidak apa apa, aku akan menunggumu," balas suara di balik ponsel, Tia ingin kembali berbicara namun Hans sudah lebih dulu memutuskan panggilannya.


"Ada apa?" tanya Gita kembali saat melihat Tia terus menatap ponselnya.


"Dia menungguku, sebaiknya kita segera pulang," imbuh Tia yang sudah beranjak dari duduk. Gita pun segera menyeruput minumannya dan ikut beranjak bersama gadis itu.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan komen kak🤗


Terima kasih😌💙🙏


__ADS_2