Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 65


__ADS_3

Rosa meninggalkan rumah Andika dengan perasaan tidak sukanya. Ia merasa Andika tidak menghiraukan keberadaannya disana, pria itu hanya fokus pada kekasihnya saja. Membuat Rosa benar benar merasa panas di seluruh tubuhnya.


Tapi, setelah mendengar penjelasan Gita tentang alasan Tia berada di sana, Rosa terlihat sedikit bersemangat, seperti mendapat ide cemerlang yang akan membawanya ke titik kebahagiaan. 


Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, meskipun ia masih merasa marah karena sikap Andika, namun ia tetap akan terus berusaha agar mendapat perhatian dari lelaki pujaannya. 


~~


Malam sudah semakin larut, Gita sudah merebahkan diri di kamarnya karena merasa sangat lelah dengan tugas kampus di tambah harus mengurus Butik seharian ini. 


Andika mengajak Tia ketaman yang berada tidak jauh dari rumahnya, biasanya jika malam hari suasana taman akan semakin ramai. Tia pun menyetujui karena ia memang belum mengantuk. Tia yang awalnya hanya ingin berjalan kaki di cegah oleh Andika. "Kita akan sampai dua jam kedepan jika berjalan kaki sayang," ucapnya menolak permintaan Tia.


Dia benar juga. Halaman rumahnya saja sudah seluas ini, kapan kami akan sampai di gerbang utama jika hanya berjalan kaki ya? Tia tertawa kecil dalam hati, merutuki kebodohannya.


Akhirnya mereka keluar menggunakan sepeda motor milik Andika. Mata Tia berbinar saat melihat ke arah taman yang sudah berada di depan mereka. Lampu lampu taman yang menempel pada beberapa pohon besar dengan berbagai bentuk dan warna, memberi cahaya yang berbeda dan tampak semakin indah. 


"Sayang, kau tunggu disini sebentar ya, aku akan kembali," ujar Andika dan Tia hanya mengangguk sambil mengedarkan pandangannya.


Kenapa mataku jadi sensitif sekali sih sekarang. Tia menepis ujung matanya yang sudah mulai berkaca kaca saat melihat sepasang orang tua yang terlihat sedang bermain dan bercanda dengan anaknya.


Ia melihat sebuah kursi kosong yang terletak tidak jauh darinya, lalu berjalan dan duduk di kursi itu sembari menunggu Andika kembali.


Sejak kapan taman ini ada? Sepertinya aku juga baru datang kemari. Eh, tidak. Aku bahkan baru pertama kali melihat tempat ini. Tia kembali tertawa dalam hati, sambil terus melihat semua sisih taman.


"Aku kembali," kata Andika yang langsung membuat Tia terperanjat kaget. "Maaf," lanjutnya cengengesan saat melihat Tia menatapnya tajam.


"Duduklah! Apa itu?" tanya melihat sesuatu di tangan Andika.


"Ini untuk mengisi perutmu," jawab Andika yang ikut duduk di samping Tia. "Buka mulutmu sayang," pintanya sambil menyodorkan roti panggang dengan taburan keju kedepan mulut Tia. Gadis itu membuka mulutnya dan menggigit roti yang di sodorkan Andika.

__ADS_1


"Enak. Sekarang buka mulutmu," ucapnya yang sudah mengambil roti dari tangan Andika lalu sekarang menyodorkan ke depan mulut lelakinya.


"Terima kasih." Andika tersenyum dengan mulut yang masih mengunyah.


"Cahaya bulan terlihat lebih indah malam ini," ujar Tia yang kini beralih menatap langit.


"Benarkah?" 


"Sayang lihatlah, bintang itu bersinar lebih terang dari yang lain," ucap Tia dengan mata yang terus berbinar. "Apakah itu kalian?" gumamnya pelan namun masih terdengar jelas di telinga Andika.


"Siapa?" tanya Andika bingung.


"Ayah dan ibu." Tia menjawab dengan terus menatap sepasang bintang yang bersinar dengan teras di atas sana. Andika pun langsung melihat ke arah pandangan kekasihnya.


Berbahagialah di sana, tempat kalian tidak akan pernah tergantikan di dalam hati Tia. Nama kalian akan selalu abadi. Tia memejamkan matanya yang mulai berair, lalu sesaat ia langsung tersenyum.


"Kemarilah!" Andika menarik tangan Tia, membawa gadis itu ke dalam pelukannya. 


Setelah cukup lama berada di taman, Andika mengajak Tia untuk segera pulang karena angin malam yang terasa semakin dingin dan tidak baik jika terus masuk kedalam tubuh.


Pukul 23:20, mereka sudah berada di kediaman Iskandar, rumah besar ini sudah tampak sepi karena sebagian penghuninya yang mungkin sudah berada di alam mimpi mereka. Andika dan Tia menaiki tangga untuk menuju kamar masing masing. 


"Kau harus langsung tidur ya, besok aku akan mengajakmu ke kantor." Andika mencium puncak kepala Tia saat mereka berada di depan pintu kamar Gita. 


"Baiklah, kau juga tidur." Tia mengangguk pelan.


Setelah Tia masuk dan menutup pintu kamar, Andika pun segera berjalan untuk menuju kamarnya yang juga berada di lantai dua.


Tia merebahkan tubuhnya di samping Gita yang sudah terlelap sejak tadi. Sepertinya gadis itu sangat lelah. Tia mulai memejamkan matanya, mengusir segala kesedihan dari dalam hati.

__ADS_1


"Morning calon kakak ipar," sapa Gita yang melihat Tia berjalan mendekat ke meja makan.


"Maaf aku terlambat. Gita tidak membangunkanku tadi," sahut Tia sambil menatap Gita tajam.


"Mama yang melarangnya membangunkanmu. Sudah, ayo sarapan," ujar Isma tersenyum.


Tia pun segera duduk dan mulai menikmati sarapannya. Tidak ada yang yang berbicara lagi setelah itu, bahkan Andika pun belum menyapa Tia sejak gadis itu datang, membuat Tia merasa sedikit aneh.


Aktivitas di meja makan sudah selesai pagi ini. Gita sudah berangkat ke kampus karena ada kelas pagi. Iskandar dan Isma pun sudah keluar untuk berjalan jalan sembari meluruskan otot otot mereka. Tia melirik Andika yang masih menikmati potongan buah di hadapannya.


"Ada apa?" tanya Tia membuka pembicaraan, karena Andika belum menyapanya sejak tadi. Pria itu beranjak dari duduknya, membuat Tia merasa semakin aneh. Namun tiba tiba Andika mengulurkan tangannya pada Tia, membuat gadis itu menatapnya dengan sejuta pertanyaan.


"Ayo sayang, kita kan akan ke kantor hari ini." Andika tersenyum menggoda, membuat Tia memukul tangannya keras. 


"Aku kira kau marah tadi," desis Tia dengan kesal.


"Aku tidak mungkin marah padamu." Andika menarik tangan Tia dan menyelipkan jari jarinya di sela sela jari mungil Tia.


"Selamat pagi tuan, nona," sapa Bimo yang sudah berada di sisi mobil sambil membuka pintu untuk majikannya.


"Pagi," balas Tia tersenyum dan kemudian ikut masuk kedalam mobil.


"Ada agenda apa hari ini Bim?" tanya Andika saat Bimo mulai melajukan mobilnya.


"Kita akan ada rapat dengan klien yang sempat memutuskan kerja sama dengan perusahaan kita tuan, mereka sudah mempercayakan semuanya lagi dengan kita," jelas Bimo dan Andika mengangguk mengerti. Lalu beralih pada gadis yang hanya berdiam diri di sampingnya.


Jangan lupa unuk selalu like, komen dan vote jika punya rezeki🤗


Terima kasih😌💙🙏

__ADS_1


 


__ADS_2