
Mobil melewati pintu gerbang kediaman Iskandar, di sambut dengan beberapa penjaga yang sedang bertugas. Iskandar dan Isma sudah menunggu di teras rumah, ditemani dengan beberapa pelayan wanita di belakangnya.
"Ayo turun," ajak Gita yang sudah membuka pintu mobil disisinya. Namun ia belum turun karena Tia masih tidak bergeming di kursinya. "Tia, ayo!" Gita kembali berseru.
"Ayo," sahut Tia tidak bersemangat
Mereka pun turun dari dalam mobil, Tia mengambil ranselnya yang berada di kursi belakang lalu berjalan untuk menghampiri kedua manusia paruh baya yang sudah menunggu mereka.
Tia mencium punggung tangan kedua manusia itu bergantian, tiba tiba ingatannya kembali teringat pada ayah dan ibunya. Namun ia dengan cepat tersenyum untuk menutupi perasaan sedihnya.
"Maaf telah membuat kalian berdiri disini." Kalimat pertama yang Tia ucapkan untuk mengusir rasa groginya.
"Kenapa begitu sungkan? Kami kan bukan orang lain," ujar Isma dengan tersenyum dan Iskandar hanya mengangguk membenarkan.
"Paman, apa aku boleh menginap disini sementara?" tanya Tia begitu malu dengan wajah menunduk. Iskandar melirik istrinya, kehadiran Tia membuat dada mereka sesak. Ia sangat tahu bagaimana perasaan gadis yang kini berada di hadapan mereka.
Isma langsung menarik Tia dan memeluknya, mengelus kepalanya beberapa, memberi kekuatan untuk gadis itu. Tia pun tanpa canggung langsung mengeratkan pelukannya, buliran bening sudah mengalir di pipi halusnya.
"Mam, aku juga mau di peluk," imbuh Gita dengan wajah memelas, membuat orang yang berada di sana tersenyum.
"Kemarilah," balas Isma dan Gita ikut bergabung di dalam pelukan yang terasa hangat.
"Perkenalkan, ini Nona Tia, dia akan menjadi nyonya muda kerumah ini," timpal Iskandar memperkenalkan Tia pada pelayan yang juga berada disana.
"Paman, itu berlebihan." Tia menunduk malu mendengar ucapan lelaki paruh baya itu. Ia merasa sangat tidak cocok dengan sebutan seperti itu.
"Selamat datang nona," sapa pelayan dengan membungkukkan tubuhnya.
"Eh … iya," sahut Tia dengan tubuh yang ikut membungkuk, membuat keluarga kekasihnya tersenyum karena tingkah canggung Tia.
"Ayo masuk, aku akan menunjukkan kamar ku," ucap Gita antusias, ia terlihat sangat senang karena akan memiliki teman sekamar meskipun hanya sementara.
"Sayang, letakkan saja pakaianmu di kamar Dika," ujar Isma di sela sela langkah mereka.
"Mama benar, aku akan menunjukkan kamar Dika." Gita kembali menimpali dengan antusias. Membuat Tia hanya bisa tersenyum dengan tingkah gadis itu.
__ADS_1
"Eh … apa paman sudah baik baik saja sekarang?" tanya Tia menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Iskandar.
"Sudah sangat baik nak. Tapi akan jauh lebih baik jika kau tidak memanggilku dengan sebutan itu." Iskandar mendekat ke arah Tia. "Panggil aku papa, seperti Dika dan Gita. Anggap ini sebagai rumahmu sendiri, kami semua adalah keluargamu." Iskandar mencium puncak kepala Tia, memberi kasih sayang layaknya ayah kepada putrinya.
Hiks … hiks!
Tia menepis air matanya yang kembali tumpah, kasih sayang orang tua memang selalu menjadi dorongan untuk anak anaknya menjadi lebih baik. Namun sekarang ia sudah kehilangan kedua orang tuanya.
"Terima kasih," kata Tia dengan terisak.
"Apa aku terlambat," timpal seseorang dengan suara berat. Semua orang langsung melihat ke arahnya termasuk Tia.
"Dika, kenapa kau disini?" tanya Gita bingung dengan kehadiran tiba tiba lelaki itu.
"Gita, dia kakakmu, kenapa memanggilnya seperti itu," bentak Isma membuat Gita mengerucutkan bibirnya.
"Maafkan aku mam," balas Gita.
"Pa, dia kekasihku, kenapa memeluknya begitu lama?" Andika mendekat ke arah dua manusia yang masih berpelukan. Iskandar tertawa lalu melepas pelukannya, membuat yang lain langsung tertawa.
"Sayang, kemarilah," pinta Andika dengan senyum hangatnya. Tia bukannya mendekat, ia malah melotot ke arah kekasihnya karena merasa malu. Namun Andika dengan gampangnya menarik gadis itu lalu mendekapnya begitu erat.
Tia menatap takjub pada kamar yang begitu besar, menatap sekeliling, terlihat sangat mewah dan begitu rapi.
"Letakkan pakaianmu disini sayang," ucap Andika sambil berjalan menuju ruang ganti yang terdapat beberapa lemari disana. Lagi lagi mata Tia terbelalak melihat semua kemewahan ini.
"Dika," panggil Tia pelan dan masih berdiri di pintu masuk ruang ganti.
"Ada apa?"
Andika terkejut saat Tia tiba tiba memeluknya, namun wajahnya terlihat sangat bahagia karena Tia melakukan ini dengan inisiatifnya. Ia mencium puncak kepala kekasihnya beberapa kali.
"Terima kasih," ujar Tia dengan pelukan yang semakin erat.
"Jangan bersedih lagi, kami menyayangimu. Tetaplah tegar seperti Tia yang aku kenal." Andika beralih mencium pipi kekasihnya. Membuat Tia tersenyum dan melepas cepat pelukannya sebelum lelaki itu melebihi batas.
__ADS_1
Meskipun Tia hanya membawa beberapa lembar pakaian, Andika tetap saja menyuruhnya meletakkan di dalam lemari, membuat gadis itu hanya pasrah dan menurut saja.
Selagi menunggu Tia yang masih berada di ruang ganti, Andika berjalan menuju sofa yang berada di kamarnya. Ia memeriksa laporan yang dikirim Bimo padanya. Sekarang perusahaannya sudah lebih baik, meskipun belum normal seperti sebelumnya. Ia berhasil menutupi semua dari keluarganya. Tia sepertinya juga tidak memberitahu Gita tentang ini.
"Sayang, apa aku bisa meletakkan foto di sana?" tanya Tia menghampiri dengan jari yang menunjuk ke atas nakas.
Andika tersenyum menatap ke arahnya. "Sekarang, ini adalah kamarmu, lakukan saja apa yang membuatmu bahagia."
Tia pun tersenyum dan berjalan ke sisi tempat tidur. Mencium foto orang tuanya lalu meletakkan di atas nakas. Setelah itu Andika mengajak Tia untuk duduk di sofa karena masih ada laporan yang harus diperiksa terlebih dahulu.
"Bagaimana dengan urusan kantor? Apa sudah membaik?" tanya Tia yang melihat kekasihnya begitu serius menatap ke layar ipad tempat Bimo mengirim semua laporan kerjanya.
"Semua sudah kembali normal,"
"Jangan berbohong!"
"Hem … maksudku, sebentar lagi semua akan kembali normal."
Andika tertawa saat ketahuan bahwa ia sedang berbohong. Padahal ia cuman tidak mau jika kekasihnya memikirkan banyak hal, tapi tetap saja ia gagal menyembunyikan dari gadis itu.
Setelah semua selesai, Andika menggandeng tangan Tia untuk segera turun menghampiri keluarganya. Mereka sudah terlalu lama di dalam kamar, jika masih belum turun, entah apa yang akan ada dipikiran keluarganya.
Saat berada di lantai bawah, Andika tidak menemukan keberadaan keluarganya disana, Gita pun tidak nampak batang hidungnya.
"Kemana semua orang?" tanyanya dan Tia mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa ia pun tidak tahu.
Mereka akhirnya berjalan menuju rumah belakang yang memiliki taman, dan duduk di sana karena tidak menemukan siapapun di rumah utama.
"Udara disini lebih segar," ucap Tia dengan memejamkan matanya, menikmati udara sore dan membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya.
"Aku juga lebih suka udara disini," balas Andika dengan tersenyum menatap kekasihnya yang masih memejamkan mata.
Cukup lama mereka duduk di taman belakang, hingga akhirnya gelap sudah mulai terlihat, namun masih menyisakan warna keemasan di langit luas.
Apa kalian sedang melihatku sekarang? Aku sangat rindu pada kalian. Tia berkata dalam hati sambil menatap dalam pada keindahan langit.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu dukung author🤗
Terima kasih😌💙🙏