
Semua orang sudah masuk kedalam rumah, Tia berpamitan pada orang tuanya untuk beristirahat. Ia pun masuk ke kamarnya lalu segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sedikit lengket.
Tidak lama kemudian, ia sudah keluar dengan baju tidurnya, mematikan lampu kamarnya lalu berjalan menuju tempat tidur. Ia menepuk bantal beberapa kali lalu membaringkan kepalanya di sana. Itu sudah menjadi kebiasaannya, jadi jangan bertanya(:
Merebahkan tubuhnya di kasur yang nyaman, menarik selimut hingga ke bahu. Selang beberapa menit, sudah terdengar dengkuran kecil dari bawa sana, menandakan bahwa sang gadis sudah terlelap.
~
Andika baru saja sampai di halaman parkiran apartemennya. Ia pun segera berjalan menuju lobby dan memasuki lift untuk menuju kamarnya. Pintu lift kembali terbuka, ia langsung melanjutkan langkahnya.
"Gita, ada apa?" tanyanya saat melihat adiknya sedang berdiri di depan pintu masuk apartemennya.
"Huu ... dari mana saja kau, aku sudah merasa bosan disini," gerutu Gita kesal. Andika berjalan mendekat ke arahnya, membuka pintu lalu masuk lebih dulu.
"Seharusnya kau memberitahu pin apartement mu padaku, supaya aku bisa langsung masuk saja kalo kesini." Berbicara seenaknya dan langsung merebahkan diri di sofa.
"Kenapa kau kemari?" tanya Andika yang sudah duduk di sofa.
"Aku ingin menginap disini kak, bisa kan? Aku kesepian dirumah." Gita memelas, bangun dari tempatnya berbaring dan duduk di samping kakaknya.
"Terserah kau saja, tapi jangan mengganggu ya." Andika mengingatkan sambil membelai puncak kepala adiknya.
"Hei, aku bukan pengganggu tahu." Tidak terima dikatain pengganggu dan jengkel sendiri kan.
Andika tertawa kecil melihat wajah adiknya. Ia tidak menghiraukan ucapan Gita. Ia pun meninggalkan gadis itu lalu berjalan menuju tempatnya tidur.
Hari sudah semakin larut, Andika juga sudah terlelap di kamarnya. Gita masih setia menonton film kesukaannya, sepertinya besok ia akan bangun terlambat karena ini.
~
Ayam jago sudah berbunyi, membangunkan manusia untuk segera melakukan aktivitasnya kembali.
Matahari masih terlihat malu malu menampakkan sinarnya, namun sedikit demi sedikit cahayanya mulai memanasi bumi.
Di bawah selimut tebal, Tia menggeliat beberapa kali, berguling ke kiri dan kanan adalah caranya untuk mengumpulkan nafas kembali.
Tia sudah bangun, duduk di pinggiran tempat tidur sambil menatap jam di atas nakas. Ia beranjak dan berlalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
__ADS_1
Cukup lama di dalam kamar mandi, ia keluar menggunakan jubah mandi lalu segera mencari pakaian yang akan dipakai ke Butik. Setelah bersiap, ia langsung berjalan keluar kamar untuk menghampiri orang tuanya.
"Ayah, ibu," sapanya dengan tersenyum.
"Sayang, ayo sarapan dulu," ajak Rita yang juga tersenyum. "Ayo ayah," lanjutnya pada Gunawan dan lelaki itu mengangguk lalu ikut berjalan menuju meja makan.
Mereka menikmati sarapannya tanpa banyak bicara. Setelah selesai, Tia membantu ibunya untuk membersihkan meja. Lalu mereka beranjak meninggalkan dapur dan menuju ruang keluarga.
"Ayah berangkat dulu, takut terlambat," imbuh Gunawan dan Rita kembali kedapur untuk mengambil kotak makanan suaminya.
"Hati hati di jalan. Ini makanannya." Rita menyerahkan kotak itu dan disambut hangat oleh Gunawan.
"Baiklah, ayah berangkat," pamitnya. Rita dan Tia pun mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu sebelum ia menaiki sepeda motornya.
Setelah Gunawan sudah tidak terlihat, Tia pun pamit pada ibunya untuk segera ke Butik. Ia pun mencium punggung tangan ibunya kemudian berlalu dengan sepeda motor miliknya.
Rita menunggu sampai anaknya hilang dari pandangan, lalu ia kembali masuk kedalam rumah, untuk melakukan pekerjaannya.
~
"Gita, bangun.! Cepat bangun, kau akan terlambat kuliah." Andika sudah sedikit berteriak karena adiknya masih juga belum bangun, ia bahkan sudah menggoyangkan tubuh gadis itu.
Andika sudah selesai dengan sarapannya. Ia menatap Gita yang masih tertidur dengan pulasnya di bawah selimut.
"Bersiaplah untuk di hukum." Pungkasnya lalu segera berlalu meninggalkan gadis itu.
~
"Selamat pagi Tuan," sapa Bimo yang sudah berada di lobby apartemen.
"Pagi Bim, cepat sekali kau datang." Tersenyum pada Bimo sambil menepuk bahu pria itu beberapa kali.
Bimo hanya tersenyum, menunduk lalu mempersilahkan majikannya berjalan lebih dulu. Ia membukakan pintu mobil untuk Andika, lalu membuka pintu untuk dirinya sendiri.
Mobil melaju, meninggalkan halaman parkir apartemen, memecah jalanan yang cukup padat karena kendaraan.
Andika hanya diam, menatap keluar jendela, memperhatikan orang orang yang sedang berlalu lalang.
__ADS_1
"Bim, bagaimana jadwal hari ini." Bertanya tanpa melihat ke arah Bimo.
"Semua kepala cabanb akan mengirim laporannya nanti siang Tuan," ujar Bimo dengan melirik spion untuk melihat wajah bosnya.
"Apa lagi jadwal hari ini?" Bertanya lagi dan terdengan menghela nafasnya berat.
"Tuan Hery akan datang menemui Anda Tuan, sepertinya ada hal penting yang ingin ia bicarakan." Menjelaskan lagi padahal ia sudah memberitahu sebelumnya.
"Kau atur saja semua Bim," tuturnya dengan nada datar.
Keheningan kembali tercipta, hanya suara kendaraan yang terdengar dari luar sana. Mobil sudah memasuki halaman kantor, Bimo memarkirkan mobil lalu membuka pintu untuk majikannya.
Mereka berjalan memasuki lift khusus pemilik perusahaan. Beberapa staf menyapa mereka saat berpapasan. Andika hanya tersenyum tipis dengan terus melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja.
~
Di dalam Butik, semua orang sudah melakukan pekerjaannya masing masing, Tia pun tak mau kalah dengan karyawannya, ia bekerja layaknya karyawan yang lain.
Sebuah mobil berhenti di depan Butik, menurunkan beberapa karung barang yang sudah di pesan oleh Tia. Dengan sigap, semua karyawan langsung membantu membawanya kedalam.
"Terima kasih mas," ucap Tia sopan pada lelaki yang membantunya mamasukkan barang ke Butik.
"Sama sama mbak," jawab lelaki itu dan berlalu keluar dari Butik
"Ulan, kamu pisahkan pesanan reseller dulu ya, yang lain bisa pisahkan pesanan eceran dulu, catatannya ada di laci." Tia menjelaskan dengan ngos ngosan karena ikut membantu tadi.
"Baik Kak," jawab mereka bersamaan.
Semua pun kembali melakukan pekerjaannya, mulai membungkus pesanan dan memberi label nama yang sesuai.
"Aku mau beli minum dulu, kalian mau nitip apa?" tanya Tia yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Minuman dingin aja Kak hehehe." Fina menjawab sambil tertawa, sedangkan yang lain hanya mengangguk membenarkan.
Tia segera berjalan keluar dari Butik, mencari penjual minuman yang tidak jauh dari situ. Dengan langkah cepatnya ia menghampiri gerobak minuman yang berada di pinggir jalan, memesan lima gelas jeruk peras. Setelah pesanannya selesai, ia langsung membayar dan kembali menuju Butiknya.
Jangan lupa vote, like, dan komen🤗
__ADS_1
Thank you so much😌💙🙏