
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Tia kembali membuka pintu dan menghampiri kekasihnya yang sedang duduk di sofa.
Andika menyadari bahwa Tia sedang berjalan ke arahnya, ia berpura pura tidak tahu dan tetap fokus menatap layar ponsel.
"Ayo turun," ajak Tia saat berada telat di hadapan pria yang terlihat sibuk dengan benda pipihnya.
Andika tidak menggubris ajakan kekasihnya, ia menarik pergelangan tangan gadis itu dan membuat Tia terduduk di pangkuannya.
"Andika …." Tia merasa malu karena posisinya yang berada di pangkuan kekasihnya. Ia pun ingin segera beranjak tetapi Andika lebih dulu memeluk tubuh gadis itu.
"Kenapa terburu buru," ujarnya begitu lembut dengan mulut yang hampir menyentuh telinga kekasihnya.
"Tentu saja ingin turun," ketus Tia menjawab tanpa menatap Andika yang terus menatapnya.
Andika tidak berbicara lagi, ia mendekap tubuh Tia yang masih berada di pangkuannya. Kemudian ia mengarahkan wajah Tia untuk menatap wajahnya.
"Dika …."
"Hmm."
"Ka … kau mau apa?"
"Mau menikah.!"
"Jangan bercanda, ayo cepat turun," ujarnya kemudian segera melepas pelukan kekasihnya dan berlalu meninggalkan pria yang masih menatap bingung padanya.
~
Tia menuruni anak tangga satu persatu, sesekali menoleh kebelakang untuk melihat kekasihnya yang masih berada di ruangannya.
Ia melihat ke arah segerombolan orang yang tampak sedang bercanda. Tia berjalan lebih cepat untuk menghampiri sahabat dan karyawannya.
"Tia … dimana Dika?" tanya Gita saat melihat Tia berjalan sendiri ke arahnya.
"Masih di atas, sebentar lagi turun," jelas Tia tersenyum. "Hans … ah, sudah lama kita tidak bertemu," lanjutnya sambil beralih menatap pria yang sedang duduk manis di hadapannya.
"Ya, semenjak kau jadi orang sibuk, kau sudah melupakanku." Hans berucap lirih, namun terdengar tawa kecil di ujung kalimatnya.
"Ceh, itu tidak benar," tutur Tia dengan tersenyum.
Mereka terus saja mengobrol, membicarakan sesuatu yang membuat yang bahkan tidak penting, tapi akhirnya akan berujung tawa.
Semua karyawan sudah kembali melanjutkan tugas mereka, hanya Gita yang masih ikut mengobrol bersama Tia dan Hans.
Karena keasyikan mengobrol, akhirnya membuat mereka lupa waktu, hari sudah hampir sore dan Tia baru menyadari bahwa kekasihnya belum turun juga.
Hans dan Gita akhirnya pamit untuk segera pulang ke rumahnya masing masing, setelah kepergian kedua sahabatnya, Tia kembali menaiki anak tangga untuk melihat keberadaan Andika.
~
"Fin … apa kau melihat Andika?" tanyanya saat bertemu Fina yang sedang merapikan beberapa pakaian.
"Tuan Andika? Saya tidak melihatnya Kak," jawab Fina dan Tia mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya.
Ia masuk ke dalam ruangannya, dan melihat Andika yang sedang berbaring di sofa dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Eh … apa dia pingsan," gumamnya sambil melangkah mendekat.
Tia sudah beberapa kali mengibaskan tangannya di hadapan Andika, sambil sesekali bersuara, namun tidak ada pergerakan dari pria itu. Karena merasa usahanya tidak mendapat hasil, ia pun menggunakan ujung rambutnya untuk menggelitik telinga Andika.
Karena merasa ada yang mengganggunya, Andika pun berusaha membuka matanya dan menemukan keberadaan Tia yang sedang duduk bersimpuh di samping sofa.
"Sayang, kenapa menggelitik ku." Andika berseru dengan suara serak. Ia kemudian menarik kepala Tia dan meletakkan di lengannya. Gadis itu tersenyum dan langsung menggigit lengan Andika tanpa permisi.
Andika tidak bersuara sedikitpun saat gigi Tia menancap kuat di lengannya.
"Apa masih kurang sakit?" tanya Tia dengan tertawa kecil dan semakin mengencangkan gigitannya.
Karena melihat Andika tidak bergeming, Tia pun segera mengangkat wajahnya dan menatap lekat pada wajah Andika yang terlihat sedang menahan sakit.
"Apa itu terlalu sakit?" tanya Tia sambil menatap kembali ke arah lengan yang terdapat bekas gigitannya. "Hey, apa itu terlalu sakit?" tanya Tia khawatir dan kembali menatap kearah Andika.
"Kena kau," kata Andika dengan tangan yang sudah bermain di pinggang kekasihnya.
"Dika hentikan.!" teriaknya sambil tertawa karena rasa geli di pinggangnya, namun Andika tidak peduli, ia terus menggelitik pinggang kekasihnya, membuat gadis itu terus tertawa dengan tubuh kesana kemari karena rasa geli yang tak kunjung berakhir.
Tok … tok … tok
Suara ketukan pintu membuat Andika menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah suara.
"Siapa?" tanya Tia sedikit berteriak agar suaranya terdengar.
"Apa Kak Tia tidak apa apa? Aku mendengar ada suara teriakan," sahur Fina dari balik pintu.
Andika dan Tia menatap bergantian, mereka merasa lucu dan malu sendiri dengan pertanyaan Fina.
"Baiklah, aku kebawa dulu Kak.!"
Bibir Andika melengkung sempurna menatap Tia yang sekarang sudah duduk di sampingnya. Ia ingin kembali menggelitik tapi Tia kembali menatap tajam ke arahnya membuat Andika mengurungkan niat.
"Baiklah … baiklah," ujar Andika dengan mengangkat tangannya di hadapan Tia.
"Ayo turun, ini sudah sore," ucap Tia sambil beranjak dari duduk. Andika terlihat menatap arloji di tangannya, ia baru menyadari bahwa ia sudah tertidur lama di ruangan itu.
"Dimana Gita?" tanya Andika karena tadi ia menggunakan mobil adiknya.
"Sudah pulang," balas Tia santai. "Ada apa?" lanjutnya bertanya karena melihat Andika kembali sibuk dengan benda pipihnya.
"Tidak sayang … ayo turun," ajak Andika yang sudah ikut beranjak dan langsung mencium singkat bibir kekasihnya. "Awwwww," ringisnya tiba tiba karena pinggang yang terasa perih akibat cubitan tangan Tia.
"Ayo jalan," ujar Tia yang sudah mendahului Andika. Lelaki itu pun langsung mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Tia.
~
Jam sudah menunjukkan pukul 17.20, semua karyawan sudah pulang, Tia dan Andika pun sudah bersiap untuk pulang. Mereka akan menggunakan motor Tia karna Bimo tak menjemput majikannya.
"Apa kau bisa?" tanya Tia saat Andika sudah duduk di atas motor.
"Jangan meragukanku sayang," ujar Andika. "Ayo naik," lanjutnya sambil menarik tangan Tia agar segera naik.
Tia kembali menatap pada Andika sebelum ia ikut naik di belakang lelaki itu. Setelah Tia duduk, Andika pun segera melajukan motor kekasihnya untuk menuju apartemen.
__ADS_1
~
Setelah kurang dari 30 menit membelah jalanan kota, mereka pun sampai di depan sebuah gedung apartemen milik Andika. Ia memarkirkan motor Tia dan mengajak gadis itu ikut bersamanya.
"Tapi … Ayah akan mencariku," ucap Tia menolak, namun Andika suruh menariknya lebih dulu.
"Nanti aku yang menelpon Ayah, untuk memberitahu bahwa kita makan malam di luar," ujar Andika di sela sela langkahnya.
"Makan malam diluar," ulang Tia dan Andika mengangguk dengab senyum yang terus merekah.
Tia tidak lagi bertanya, ia hanya mengikuti langkah kaki Andika sambil sesekali menatap sekelilingnya. Mereka memasuki lift untuk segera menuju ke kamar Andika.
Setelah pintu lift kembali terbuka, Andika langsung merangkul tubuh kekasihnya dan berjalan beriringan menuju kamarnya.
"Apa ini kamarmu?" tanya Tia saat mereka berdiri di depan pintu apartemen. Andika kembali tersenyum dan mengangguk pelan.
"Ayo masuk," ajaknya saat pintu sudah terbukan. Tia pun segera masuk, matanya menyapu semua sisih ruangan yang terlihat begitu rapi. Pandangannya kemudian terhenti pada sebuah foto berukuran besar yang terletak tak jauh darinya. Sebuah foto keluarga yang tampak sangat bahagia. Tia merasa ada yang aneh dengan perasaannya, ia merasa bahagia namun juga merasa iri melihat foto keluarga kekasihnya.
"Sayang … ada apa?" tanya Andika yang ikut melihat kearah pandangan Tia.
"Aku juga ingin berfoto seperti itu," ujar Tia tanpa menatap kearah Andika.
"Foto seperti itu?" tanya Andika memastikan sambil menunjuk kearah foto keluarganya. Tia mengangguk pelan dengan mata yang mulai berkaca kaca. Ia mengingat bahwa ia tak memiliki satupun foto bersama keluarganya.
"Apa kau ingin berfoto bersama keluargaku?" tanya Andika yang merasa bingung.
"Tidak, aku hanya ingin memiliki foto keluarga seperti itu," jelasnya dan Andika mulai mengerti. Ia menatap lekat kekasihnya, merasa iba dengan gadis itu. Ia kembali menarik tubuh mungil kekasihnya dan mendekap Tia begitu erat.
"Akhir pekan nanti, kita semua akan berfoto." Andika berjanji, sambil membelai puncak kepala Tia.
"Kita," ulang Tia dengan menatap wajah Andika. Lelaki itu mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.
"Apa kau ingin mandi?" tanya Andika dan mulai melepas pelukannya perlahan.
"Tapi, aku tidak membawa baju," ucap Tia dan Andika terlihat berfikir sejenak.
"Aku akan menyuruh Bimo," ujar Andika yang langsung mengeluarkan ponselnya. "Selesai," lanjutnya dengan tersenyum.
Tia menatap bingung kearah lelaki itu, tapi ia hanya membiarkan dan segera berlalu menuju sofa yang tak jauh darinya.
"Sayang, aku ingin mandi, apa kau mau ikut?" tanya Andika begitu serius membuat pipi Tia merona seketika.
"Tidak." balas Tia singkat tanpa menatap Andika.
"Apa kau yakin?" tanya Andika dan Tia langsung menatap tajam kearahnya.
"Aku yakin," ucap Tia dan Andika terlihat mengulum bibirnya sebelum kembali melangkah menuju kamar mandi.
"Sayang," panggil Andika lagi dan Tia langsung beranjak dan menghampirinya. "Apa kau berubah pikiran?" tanyanya saat Tia berdiri di hadapannya.
Tia langsung mendaratkan cubitan di pinggang Andika, lelaki itu meringis karena rasa perih yang Tia berikan. Gadis itu kembali menuju sofa setelah memberi cubitan pada kekasihnya yang terus menggodanya
Jangan lupa vote, like, dan coment Kakak🤗
Terima kasih😌💙🙏
__ADS_1