
Sinar matahari menembus jendela kaca yang berlapis kain tipis. Memberi kehangatan pada kedua gadis yang masih tertidur dengan nyenyak di bawa selimut.
Tia beransur bangun dari tidurnya, duduk di tepi ranjang untuk mengumpulkan nafas kembali. Menoleh menatap Gita yang masih tertidur dengan nyaman. Ia beranjak menuju kamar mandi, meninggalkan Gita yang masih terbalut selimut.
Setelah hampir satu jam, ia sudah keluar menggunakan jubah mandinya lalu berjalan mendekat ke arah lemari untuk segera berpakaian.
"Gita, apa kau tidak kuliah?" bertanya pada orang yang masih tertidur. Ah, yang benar saja gadis ini.
Karena menyadari bahwa Gita tidak terganggu dengan suaranya, ia mendekat, menggoyangkan tubuh gadis yang masih terlelap. Menggeliat beberapa kali hingga akhirnya membuka mata.
"Bangunlah," ucap Tia dengan tersenyum secerah mentari pagi.
Gita bergegas menuju kamar mandi saat melihat jam di atas nakas. Sudah dipastikan bahwa hari ini ia akan kembali dihukum karena terlambat.
~
Semua orang sudah berada di meja makan untuk sarapan. Gita yang ikut bergabung dengan keluarga itu pun tampak menikmati hidangan sederhana yang dibuat Rita untuk mereka.
"Tia," panggil Gita pelan, masih dengan mulut yang terus mengunyah.
"Hem," sahut Tia tanpa menatapnya.
"Bagaimana kalau kita berangkat bareng saja, kau tidak perlu naik motor kan." Memberi saran, tapi sudah terdengar seperti perintah yang tidak boleh dibantah. Tia menatapnya, lalu bergantian menatap kedua orang tuanya yang hanya fokus dengan makanan di hadapan mereka tanpa terganggu dengan saran Gita.
"Terserah kau saja," tutur Tia tersenyum dan mereka kembali melanjutkan sarapan tanpa ada yang berbicara.
~
Sudah meninggalkan halaman rumah Tia. Gita melajukan mobilnya menyusuri jalanan untuk menuju Butik terlebih dahulu. Karena jarak yang cukup dekat, mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Butik.
__ADS_1
Tia langsung turun setelah Gita berhenti tepat di depan teras tempat ia mengumpulkan rezeki.
"Hati hati Git," ucapnya sedikit berteriak saat Gita perlahan meninggalkannya. Hingga mobil yang di kemudikan sahabatnya benar benar hilang dari pandangan. Tia melangkah masuk kedalam Butik.
Menyapa semua karyawannya yang sudah membantu dan bekerja sama selama ini. Tia amat bersyukur dengan semua nikmat Tuhan yang di berikan padanya. Melihat usahanya sekarang yang berkembang membuatnya teramat senang.
~
Siang bergulir dengan cepat, di sebuah perusahaan pusat, beberapa karyawan sudah berkumpul di ruang meeting. Wajah tegang mereka menandakan bahwa situasi sekarang tidaklah bersahabat.
"Bim." Andika bersuara, datar namun membuat nyali karyawannya semakin menciut.
"Ia Tuan," sahut Bimo. Ia tahu bahwa orang yang sudah menjadi bosnya beberapa bulan lalu sangat merasa kecewa dan marah saat ini.
"Catat semua nama yang terlibat dalam penggelapan itu. Mereka benar benar tidak tahu malu." Sudah setengah berteriak. Udara di dalam ruangan terasa sesak sekarang.
"Baik Tuan, saya akan membuat mereka semua bertanggung jawab." Bimo menunduk, merasa gagal karena kecerobohannya.
Andika beranjak dari duduknya, menatap tajam ke arah karyawan dan beberapa pelayan restoran dari masing masing kantor cabang yang sudah di ujung tanduk.
Cih, apa benar tidak ada dari mereka yang mengetahui rencana busuk Manager kurang ajar itu, aku ingin sekali menghajarnya habis habisan. Mendengus lalu segera meninggalkan ruang meeting yang sudah seperti gua mematikan untuk beberapa orang yang juga berada disana.
Sedangkan Bimo, ia belum menyusul Tuannya. Masih diam dan terlihat berpikir. Menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara.
"Aku bertanya sekali lagi. Apa benar diantara kalian tidak ada yang tahu tentang penggelapan ini?" bertanya dengan suara yang sudah memenuhi langit langit ruangan.
Semua masih diam membisu, tidak ada yang berani bersuara. Jika jawaban mereka salah sedikit saja, makalah hilanglah pekerjaan yang mereka jaga selama ini.
"Jawab.!"
__ADS_1
Semua tersentak, saling melirik satu sama lain melalui ekor matanya masing masing. Meminta pendapat jawaban apa yang akan di berikan.
"Maaf kan kami Tuan. Tapi … dulu saya tidak sengaja mendengar … " kalimatnya menggantung saat tatapan tajam Bimo mengarah padanya.
"Berbicara lah dengan jelas.!" masih membentak dengan wajah yang sudah merah padam karena emosi.
"Saya … pernah mengantar minuman untuk Manager dan tamunya Tuan, saya mendengar mereka berbicara. Mengatakan bahwa jangan sampai Andika atau Anda tahu tentang ini," tutur salah satu karyawan yang, menjelaskan dengan detail apa yang pernah ia dengar. Membuat wajah Bimo semakin tidak bersahabat.
"Tamu? Apa kau kau siapa tamunya?" bertanya lagi, kali ini nada bicaranya sudah bisa di kendalikan.
"Mereka adalah petinggi perusahaan dan Manager kantor cabang yang lain, dan salah satu dari mereka adalah Tuan Hery." Memberitahu fakta baru yang membuat Bimo langsung memukul meja dengan keras. Ruangan yang tadi sudah sedikit terasa nyaman kembali sesak sekarang.
"Kau jangan bercanda, apa kau mampu mempertanggung jawabkan ucapan mu?" tanya Bimo, namun kalimatnya sudah seperti ancaman mematikan untuk karyawan yang berada disana.
"Maafkan saya Tuan." Hanya meminta maaf. Ia pun tidak tahu pasti apa yang di bicarakan Managernya tempo hari, tapi semua yang ia katakan itu benar adanya.
"Apa kau punya bukti?"
"Maaf Tuan, tapi saya tidak cukup berani untuk merekam mereka." Bersuara lirih. Ia memang tidak selancang itu untuk menjadi mata mata.
"Maaf jika saya menyela Tuan, tapi apakah di ruangan itu tidak ada CCTV?" tanya karyawan perempuan yang ikut menimpali.
Bimo seperti mendapat jawaban dari semua pertanyaannya. Ia mengetuk meja beberapa kali dan menatap ke semua orang yang masih telihat tegang.
"Kembali bekerja seperti biasanya. Rahasiakan pertemuan ini dari siapapun, dan tetap tutup mulut kalian.!" memberitahu dengan sorot mata tajam. Semua orang hanya mengangguk mengerti. Setelah Bimo berlalu, mereka baru bisa bernafas dengan lega sebelum ikut beranjak dan kembali ke tempat kerja masing masing.
Bimo membuka pintu ruang kerja majikannya. Menyapu ruangan untuk mencari keberadaan Andika. Lelaki yang ia cari sudah duduk bersandar di sofa, matanya terpejam, jari jemarinya memijat pelan pelipisnya. Bimo kembali menutup pintu tanpa suara. Berjalan mendekat ke arah Tuannya.
Andika sudah menyadari kehadiran Bimo disana. Tapi ia belum menunjukkan reaksi apa apa, masih memejamkan mata dengan pikiran yang sudah kacau. Memikirkan cara untuk membereskan semua kekacauan ini, ia tidak mau membuat perusahaan yang sudah di bangun papanya dari nol dengan susah payah hancur di tangan orang orang yang tidak bertanggung jawab sama sekali.
__ADS_1
Cih, bagaimana jika sampai papa tahu masalah ini. Batin Andika.