Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 42


__ADS_3

Hotel Waldorf Astoria Beverly Hills, Amerika Serikat.


Andika sudah berada di Amerika, ia menuju hotel yang sudah disiapkan oleh Bimo sebelumnya.


Ia berangkat dari Indonesia pukul 22:20 dan akhirnya tiba di Amerika pukul 16:00. Perjalanan panjang untuk orang orang yang baru merasakannya, tapi tentu saja tidak dengan Andika yang sudah sering keluar Negeri.


Sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat papanya di rawat, mereka makan terlebih dahulu di hotel.


Andika sudah ingin menelpon kekasihnya sejak ia baru sampai, tapi setelah melihat jam, ia mengurungkan niatnya karena sekarang di Indonesia pasti masih pagi buta.


Setelah makan, mereka langsung bergegas menuju rumah sakit, Bimo sudah menyuruh orang untuk membawakan salah satu mobil milik Iskandar ke hotel itu.


~


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang saling berbicara di antara kedua manusia itu, Andika fokus menatap keluar jendela, memperhatikan orang orang yang berlalu lalang di luar sana. 


Drrrtttt … drtttt


Dering ponselnya membuat ia terpenjak, dengan segera merogoh saku celananya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Hei, kenapa tidak memberi kabar, atau kau sudah tidak peduli padaku huh," rengek seorang dari seberang telepon, bukannya membalas ucapan kekasihnya, Andika malah tersenyum dan langsung mengganti panggilan suara ke panggilan video.


"Kenapa bangun sepagi ini?" tanyanya langsung saat melihat wajah bantal kekasihnya di layar ponsel.


"Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.!"


"Kenapa?"


"Ya, karena … sudahlah, itu tidak penting."


Mereka terus mengobrol, meskipun hanya melalui panggilan video, mengobati sedikit rindu yang hadir di antara mereka. 


Setelah sampai di area parkir, Andika mengakhiri sambungan teleponnya karena ingin segera melihat kondisi papanya, Tia pun setuju karena ia juga sudah khawatir dengan lelaki paruh baya itu.


Bimo membuka pintu mobil untuknya, dan kemudian membuka untuk majikannya. Mereka pun berjalan melewati meja resepsionis untuk menuju ruang rawat vvip Iskandar. 


Di depan sebuah kamar, Bimo melihat seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi, ia tahu bahwa itu adalah orang yang ia suruh untuk memeriksa kondisi majikan Tuanya.


"Tuan, itu disana." Bimo berkata sambil menunjuk ke arah seorang pria yang langsung berdiri saat melihat mereka.


Dengan segera Andika menghampiri pria itu, dan Bimo pun berjalan mengikutinya.


"Bagaimana kondisi papa?" tanyanya langsung saat berada di hadapan pria itu.

__ADS_1


"Selamat sore Tuan, saya juga masih sedang menunggu kabar dari Dokter," tutur lelaki itu dengan tubuh sedikit membungkuk.


Andika menghela nafasnya berat, ia kemudian mengintip dari pintu kaca, melihat Dokter yang sedang memeriksa keadaan papanya. Seluruh tubuhnya gemetaran saat melihat lelaki paruh baya yang sedang berbaring tak berdaya di dalam sana, di tubuhnya terdapat banyak sekali kabel kabel yang menempel, kepalanya pun tengah diperban.


Ia pun segera duduk di kursi tunggu, tak sanggup menatap lama kepada papanya yang tak berdaya di dalam sana.


Setelah menunggu hampir satu jam, seorang Dokter keluar diikuti dua orang perawat di belakangnya.


"Dok, bagaimana keadaan papa saya?" tanyanya dengan begitu khawatir.


"Keadaannya sudah kembali stabil Tuan, Anda jangan khawatir," tutur Dokter dengan tersenyum, agar pria di hadapannya tenang.


"Tapi, kenapa begitu banyak alat RS  yang menempel di tubuhnya?" tanyanya karena merasa tidak yakin dengan  jawaban Dokter.


"Itu karena kemarin keadaan Tuan Iskandar kritis, tapi sekarang sudah stabil kembali Tuan."


"Baiklah, terima kasih, apa saya bisa masuk?"


"Sebaiknya jangan dulu Tuan, biarkan Tuan Iskandar istirahat dulu."


"Baiklah."


Dokter dan kedua perawat pun bergegas untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Meninggalkan ketiga pria yang masih setia menunggu di depan ruang rawat.


~


Ia sudah merasa sedikit lega setelah mendapat kabar dari kekasihnya hari ini.


Drrttt … drrttt


Suara ponsel di atas nakas membuat Tia menatap kearah suara, ia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri benda pipihnya.


"Iya Git," ucapnya langsung setelah menjawab sambungan telepon Gita.


"Kau dimana?" tanya suara di seberang


"Di butik, kemarilah.!"


"Aku aku jadwal kuliah hari ini," lirih Gita berucap. "Apa Dika sudah menghubungimu?" lanjutnya bertanya.


"Ya, tadi dia menghubungiku, tapi … " belum sempat Tia menyelesaikan ucapannya Gita sudah lebih dulu bertanya kembali.


"Tapi apa? Papa baik baik saja kan?" tanyanya lagi dengan begitu khawatir.

__ADS_1


"Semua baik baik saja," ucap Tia yang berusaha menenangkan sahabatnya, meskipun ia juga belum tau bagaimana keadaan lelaki paruh baya itu.


"Baiklah, aku tutup dulu, dosenku sudah datang." Pungkasnya dan langsung menutup sambungan telepon. 


Setelah sam ungan telepon berakhir, Tia bergegas menuju lantai utama untuk melihat situasi di bawah sana. 


Ia melihat begitu banyak customer yang datang, karyawannya pun tampak kewalahan menangani mereka, belum lagi yang orden lewat online, membuat mereka harus lebih gesit dalam bekerja.


Tia berjalan menuju sofa yang berada di lantai utama, ia duduk dan kembali fokus pada benda kecil di tangannya.


~


Setelah berada lebih tiga jam di kursi tunggu, Andika kembali meminta Dokter agar mengizinkan ia menemui papanya, Dokter pun akhirnya merasa ibah dan mengizinkannya tapi hanya beberapa menit.


Andika pun dengan segera masuk keruangan papanya di rawat. Ia sedikit tersenyum dan merasa lega saat melihat tidak ada lagi kabel kabel yang menempel di tubuh papanya. Ia mendekat dan duduk di kursi yang berada di sisi Iskandar. Membelai tangan lelaki yang sudah merawat dan menafkahinya sejak masih dalam kandungan. 


Karena takut mengganggu papanya, ia kembali beranjak dan membiarkan lelaki paruh baya itu beristirahat.


~


Andika sudah kembali ke rumah milik keluarganya, ia memilih beristirahat di sana, sebelum kembali ke RS untuk menemani papanya. Hari sudah gelap, ia segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Setelah selesai mandi, dia bersiap untuk makan malam. Bimo pun sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan


majikannya selama mereka berada disini.


~


"Anda bisa istirahat saja setelah ini Tuan, biar saya yang menjaga di RS," ucap Bimo dengan tubuh membungkuk.


"Aku akan menjaga papa Bim, aku juga akan memberitahu mama soal ini," ujarnya dengan dengan menghela nafas panjang.


"Baik Tuan, silahkan di lanjutkan," balas Bimo sopan.


"Duduk dan makan. Kau sudah bekerja keras," kata Andika melirik ke arah Bimo yang berada di samping kirinya.


"Tidak Tuan, saya tidak sedang lapar," jawab Bimo sopan.


"Cepat makan, jika tidak, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah ini." Andika berkata begitu serius, namun tentu saja itu hanya untuk menggoda Bimo. Karena mendapat ancaman seperti itu, Bimo pun ikut duduk dan makan bersama Andika.


Jangan lupa vote, like, dan coment Kak😘


Thanks for you all😌💙🙏

__ADS_1


__ADS_2