Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 66


__ADS_3

Tia kembali merebahkan tubuhnya di sofa saat berada di ruang kerja Andika. Sesekali melirik kekasihnya yang terlihat sibuk dengan tumpukan berkas di hadapannya.


Andika yang berada di kursi kerjanya pun selalu menyempatkan mata untuk melirik pada kekasihnya yang terlihat mulai bosan, dengan tubuh yang digerakkan ke kiri dan kanan di atas sofa panjang. 


"Sayang, apa kau mau sesuatu?" tanya Andika dari tempatnya.


"Em … sepertinya aku haus. Tapi aku akan membelinya sendiri." Tia sudah beranjak dari sofa, membetulkan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Aku keluar dulu," pamitnya yang kini berada di hadapan Andika.


"Kenapa harus keluar? Aku akan meminta Bimo membawa kan untukmu." Andika ikut beranjak dan mendekat ke arah Tia.


"Itu tidak perlu sayang. Aku akan memilih minuman sendiri," ujar Tia tersenyum.


"Baiklah. Tapi aku harus ikut." Akhirnya memilih untuk ikut daripada membiarkan kekasihnya pergi sendiri.


Tia tersenyum lalu mengangguk, menyetujui keputusan akhir kekasihnya. Mereka berjalan memasuki lift untuk menuju lantai paling bawah tempat kantin berada. 


"Jangan banyak bergerak sayang, apa kau mau liftnya terjatuh." Andika tertawa sambil menahan tubuh Tia yang terus bergerak dari tadi.


"Hei, itukan karena kau menggelitik pinggangku," bentak Tia dengan memukul pelan tangan kekasihnya.


"Hahaha, aku kan hanya menggelitik sedikit sayang, kenapa kau seperti sedang berjoget tadi." Tertawa puas karena berhasil mengerjai perempuan itu.


"Tapikan tetap saja menggelitik. Dan itu membuat geli." Tia menatap tajam, lalu tersenyum penuh arti.


"Hahaha, sayang hentikan! Please ampuni kekasihmu." Andika memohon dengan terus tertawa karena Tia yang kini menggelitikinya.


"Sayang kumohon!" 


"Tuan," kata Bimo yang sudah berdiri di depan pintu lift yang baru saja terbuka, membuat kedua manusia di dalamnya saling pandang karena tidak menyadari bahwa mereka sudah berada di lantai bawah.


"Hmm … kau dari mana Bim?" Andika bertanya, menyadarkan Bimo dari pikirannya.


"Maaf Tuan, saya baru saja dari kantin." Bimo menunduk sopan, merasa bersalah karena muncul di situasi tidak tepat.


"Tidak apa apa Bim. Kami mau ke kantin dulu, by." Tia menimpali, menarik tangan Andika menjauh dari situ. 


"Sayang, semua orang sedang menatap kita sekarang," bisik Andika di telinga kekasihnya, membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan langsung melepas tangan Andika.

__ADS_1


"Maaf," ucapnya menyesal, sambil menunduk malu karena beberapa karyawan yang sedang melihat ke arah mereka.


"Lanjutkan pekerjaan kalian!" Andika berbicara dingin, membuat karyawan yang tadinya menatap mereka langsung menunduk lalu melanjutkan aktivitasnya. "Ayo," ajaknya lagi sambil merangkul tubuh Tia, membuat gadis itu mengangkat wajahnya dan mendapati wajah Andika yang sedang tersenyum, sangat tampan.


Mereka memasuki kantin perusahaan. Tempat itu masih terlihat lengang, membuat mereka leluasa memilih tempat duduk yang disukai.


"Tuan, nggak biasanya datang kemari," ucap seorang wanita paruh baya tersenyum lalu menghampiri mereka.


"Iya Bu. Calon istri saya yang mengajak." Andika menjawab begitu lugas, membuat wanita paruh baya itu sedikit terkejut lalu tersenyum lebar dan beralih menatap gadis yang dimaksud Andika.


"Cantik," ujar wanita paruh baya memuji Tia yang terlihat sudah merona.


Setelah pesanan mereka selesai, Tia dan Andika kembali berjalan menuju lift dan memilih menikmati makanan mereka di ruang kerja Andika.


"Aku akan ada rapat setelah ini. Kau di sini saja ya!" Andika menyeruput minuman milik Tia, membuat gadis itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Ya, aku akan menunggu," jawabnya dan kembali menyantap makanan yang tadi mereka beli di kantin.


Tok … tok … tok


"Apa saya boleh masuk tuan?" tanya Bimo dari luar.


"Masuklah Bim." Andika menjawab. Pintu ruangan sudah terbuka memperlihatkan Bimo yang berdiri dengan tegap di sana.


"Apa rapatnya akan segera dimulai?" tanya Andika pada Bimo yang masih berada di ambang pintu.


"Ia tuan, silahkan habiskan makanan Anda dulu, saya akan mengundur sedikit jadwal." Bimo lagi lagi merasa bersalah karena datang di waktu tidak tepat.


"Tidak Bim. Aku sudah selesai," ujar Andika yang menyadari wajah lusuh asistennya. "Sayang, aku pergi dulu. Jika ingin sesuatu, minta saja pada staf sekretaris yang berada di depan." Satu kecupan mendarat di pipi Tia, membuat gadis itu merasa malu pada Bimo yang terlihat melirik mereka sekilas.


Jangan pamer kemesraan di depanku Tuan. Aku kan jadi panas dan ingin punya kekasih sekarang. Bimo menangis dalam hati, merutuki nasibnya sendiri.


Pintu ruang kerja Andika kembali tertutup saat Andika dan Bimo sudah keluar menuju ruangan yang akan diadakannya rapat dengan beberapa klien. Andika pun sepertinya sudah mulai terbiasa dengan dunia bisnis. Menikmati setiap pekerjaannya, merasakan betapa lelah papanya selama ini, merasa bersalah juga karena kadang ia marah jika orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan bisnis sehingga jarang berada di rumah. Hingga sekarang, ia memilih untuk melanjutkan semua usaha papanya.


 


"Permisi, saya ingin bertemu Tuan Dika," ucap seorang perempuan yang berdiri di depan meja staf sekretaris.

__ADS_1


"Tuan sedang ada rapat, silahkan menunggu di sana," balas staf wanita itu dengan tersenyum ramah sambil menunjuk kursi yang tidak jauh dari mereka.


"Saya akan menunggu di ruangannya saya kalau begitu." Sudah mau berjalan menuju pintu yang tertutup.


"Maaf. Tapi nona tidak boleh masuk sembarangan." Staf itu mencegah sambil berjalan mendekat ke arah Rosa.


"Sembarangan? Aku ini teman dekat Dika tahu." Menjawab dengan begitu percaya diri, membuat staf itu sedikit terkejut karena tadi ia baru saja bertemu dengan calon istri pemilik perusahaan, dan ini ada lagi teman dekatnya.


*Apa maksudnya ini? Tuan tidak mungkin bsrmain perempuan kan*..Batinnya.


"Kau kenapa?" tanya Rosa kesal karena staf itu masih berdiri di depan pintu ruangan Andika.


"Maaf nona, tapi di dalam sedang calon istri Tuan Andika."


"Apa! Calon istri?" Wajah yang tadinya terkejut tiba tiba berubah, seringai tipis muncul di wajahnya, membuat staf itu bingung dengan perempuan di hadapannya.


~~


Tia yang berada di dalam ruangan merasa penasaran saat mendengar suara dari balik pintu, yang jelas terdengar. Ia berjalan lalu membuka pintu. Diam mematung saat melihat siapa yang sedang berada di sana.


"Ternyata kau," 


"Eh, Tia. Coba lihat, staf songong ini melarangku masuk tadi." Mengadu dengan nada sok akrabnya.


"Ada keperluan apa kau kemari?" langsung tanya aja, biar cepet selesai menurut Tia.


"Aku ingin bicara denganmu, tapi cuman berdua." Memberi kode agar Tia mengajaknya masuk. Dan benar saja, Tia langsung mengajaknya ke dalam dan kembali menutup pintu ruangan.


"Ada apa Rosa?" bertanya lagi karena Rosa belum juga berbicara.


"Tenanglah, kenapa kau begitu terburu buru." Rosa sudah menatap tajam pada Tia. Membuat gadis yang di tatap semakin penasaran dan mulai sedikit kesal.


Jangan lupa untuk selalu mendukung author🤗


Terima kasih😌💙🙏


 

__ADS_1


__ADS_2