Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 58


__ADS_3

Matahari sudah terbenam, perlahan bulan pun mulai menampakkan dirinya, memberi cahaya yang sangat indah malam ini, dengan tambahan bintang yang berkedip kedip di atas sana membuatnya terlihat semakin sempurna.


Sepasang kekasih masih duduk di sebuah balkon apartemen, menatap ciptaan Tuhan yang indah disana. Membiarkan angin malam terus menembus kedalam tubuh mereka.


"Dingin?" tanya Andika saat melihat Tia beberapa kali menggosok telapak tangannya.


"Hem …," sahutnya tanpa melihat Andika. "Sayang, lihatlah, bulannya terlihat semakin terang, indah sekali," ujarnya dengan mata berbinar.


"Kemarilah!" Andika mengulurkan tangannya pada Tia. Gadis itu pun menerimanya dengan senang. Andika langsung menarik dan mendekapnya. Mengelus punggung kekasihnya beberapa kali, seakan memberi kehangat untuk Tia.


Tia terlihat begitu nyaman dalam dekapan kekasihnya. Ia memejamkan matanya perlahan, menikmati semilir angin malam yang terasa menembus kulit wajahnya.


"Sayang, rasanya lebih baik kita menikah saja agar bisa selalu sama sama seperti ini," tutur Andika terdengar begitu serius. 


Apa? Kenapa dia hanya tersenyum seperti itu? Batin Andika, mulutnya sudah menggigit telinga Tia saking gemesnya.


"Ahh … apa apaan sih," Geram Tia, tangannya dengan kencang memukul dada Andika karena telah menggigitnya.


"Kau terlihat sangat menggemaskan, aku ingin sekali memakanmu." Andika langsung terbahak mendengar ucapannya sendiri. Sedangkan Tia sudah merasa bingung sendiri.


"Memakanku?" ulangnya dengan begitu polos. "Apa kau akan menjadi zombie?" tanyanya lagi dan sekarang ikut tertawa meskipun tidak tahu arti sebenarnya dari ucapan lelaki itu.


Apa dia tidak mengerti? Hahaha polos sekali kau ya. Andika kembali berucap dalam hati dengan tawa yang masih terdengar dari mulutnya.


"Eh, ayah sama ibu seharusnya sudah sampai kan? Kenapa mereka tidak memberi kabar sih," resah Tia yang kembali memikirkan orang tuanya. "Aku akan menelepon Mas Diki saja," lanjutnya yang sudah beranjak ke dalam apartemen untuk mengambil ponsel.

__ADS_1


Andika hanya mengikutinya, kini mereka sudah duduk di sofa yang berada di depan televisi.


Tia sudah beberapa kali menelepon nomor orang tua dan saudaranya, belum ada jawaban, membuatnya semakin gusar dengan pikiran yang kembali tidak enak.


"Sayang, mungkin mereka sedang mengobrol dan tidak mendengar ponselnya." Andika berusaha menenangkan, mengusir pikiran negatif yang mulai menguasai kekasihnya. Tia terdengar mendesah, rasa khawatir dan kesal bercampur dihatinya.


"Mereka kan bisa menghubungiku walau sebentar, atau paling tidak, mereka mengirim pesan saja biar kita tahu." Terlihat sangat jengkel dari raut wajah gadis itu. Ia meletakkan ponselnya cukup keras ke atas meja, membuat Andika terkejut namun langsung tersenyum saat melihat wajah cemberut kekasihnya.


"Tenanglah, semua akan baik baik saja, mungkin sebentar lagi mereka akan menghubungi kita, tunggu saja ya." Andika kembali menenangkan, menepuk nepuk kepala Tia dengan sangat lembut. "Sayang sebaiknya hubungi Gita sekarang, ini sudah hampir larut dan dia belum kembali." Andika kembali berbicara, ia mengambil ponsel Tia yang berada di meja lalu memberikan kepada gadis itu.


"Kau saja ya," ujar Tia dengan senyum yang ia paksa kan. 


"Ya sudah, biar aku saja." Andika kembali mengambil ponsel yang sudah berada ditangan Tia. Ia mengetikkan beberapa pesan lalu mengirimnya pada Gita. Setelah selesai, ia kembali meletakkan benda kecil itu lalu menyalakan televisi dan kembali duduk di sofa yang sama dengan Tia.


Tia menatap Andika yang sedang menepuk pahanya beberapa kali, menyuruh gadis itu untuk meletakkan kepalanya disana. Gadis itu dengan senang hati merebahkan tubuhnya di sofa dan menjadikan kaki Andika sebagai bantalnya. 


Menyaksikan acara televisi yang tidak menarik, membuat Tia merasa bosan dan memilih untuk memejamkan matanya saja. Tangan Andika yang terus membelai kepalanya membuat ia merasa sedikit tenang. Dengan ia mulai masuk ke alam mimpi, hembusan nafasnya sudah beraturan menandakan bahwa ia sudah terlelap.


~


Di sebuah ruangan yang terlihat sangat luas, pandangan Tia berkeliling menyapu ruangan, mencoba mengingat dimana ia sekarang. Tapi nihil, ia tidak mengingat sama sekali, tempat ini sangat asing baginya.


"Dimana ini? Dan Andika, dimana dia?" tanyanya pada diri sendiri sembari terus berjalan di ruangan itu.


Ada sebuah cahaya putih yang terlihat begitu terang ujung ruangan, Tia berjalan mendekat, mencari tahu ada apa di balik cahaya putih itu. Semakin mendekat, matanya semakin di buat silau oleh cahaya, sehingga ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk melihat semakin jelas.

__ADS_1


"Ayah, ibu. Kalian disini? Ah, aku merindukan kalian," ucap Tia saat melihat kehadiran orang tuanya disana. Kedua manusia paruh baya itu terus tersenyum menatap putrinya. Dengan langkah seribu, Tia langsung bergegas memeluk ayah dan ibunya. Meskipun baru beberapa jam ditinggal, ia merasa sudah sangat merindukan orang tuanya. 


Tia memeluk dengan begitu erat. Sesaat, terlihat raut wajah sedih dari Rita dan Gunawan, mereka membelai dan mencium puncak kepala putrinya bergantian. Belum berbicara sama sekali.


"Tapi, kenapa kalian sudah kembali? Dan dimana Mas Diki? Ibukan sudah janji akan mengajak mereka kemari." Tia masih terus berbicara di dalam dekapan ayah dan ibunya. Karena tidak ada jawaban yang Tia dengan, ia pun segera mengangkat wajahnya dan menatap dalam pada kedua manusia paruh baya itu.


"Nak, ayah mencintaimu," kata Gunawan dengan senyum yang begitu indah, bahkan ini senyum terindah yang Tia lihat dari ayahnya. Lelaki itu melirik istrinya sesaat sebelum kembali berbicara. "Tia, jaga dirimu dengan baik, berjanjilah bahwa kau akan selalu bahagia, kami akan selalu menjagamu dari kejauhan." Gunawan masih terus tersenyum, ia memberi isyarat pada istrinya agar ikut berbicara.


"Sayang, anak ibu dan ayah, kau selalu menjadi kebanggaan kami, ibu … " belum menyelesaikan kalimatnya, Tia sudah lebih dulu bersuara.


"Ayah dan ibu bicara apa sih. Kalian kan selalu menjagaku, menjaga dari jarak dekat, kita akan selalu bahagia bersama." Tia kembali memeluk orang tuanya. Semakin erat, entah kenapa butiran bening jatuh dan membasahi wajahnya. Saat kembali membuka matanya, ia sudah tidak menemukan kedua sosok yang tadi sedang ia peluk dengan sangat erat.


"Ayah … ibu … dimana kalian?" teriaknya dengan sangat kencang. 


"Sayang, sayang, Tia, bangun sayang." Andika sudah menggerakkan tubuh Tia yang mengigau sedari tadi.


Setelah beberapa saat membuat tubuh Tia terguncang kekiri dan kekanan akhirnya gadis itu mulai membuka matanya.


"Ternyata cuman mimpi," gumamnya dengan tersenyum kearah Andika. Andika dengan sigap mendekap kekasihnya yang masih setengah sadar. Butiran kristal jatuh tanpa pamit dari mata Andika, namun dengan cepat ia menghapus air mata itu agar Tia tidak melihatnya. Cukup lama ia mendekap Tia, hingga gadis itu sedikit mendorong tubuhnya karena merasa sesak oleh dekapan Andika yang begitu erat.


"Ada apa?" tanya Tia yang menyadari perubahan mimik wajah kekasihnya. Andika terdiam lalu memperlihatkan senyumnya seperti biasa. Membuat Tia ikut tersenyum dengan tingkah lelaki dihadapannya.


Jangan lupa vote, like, dan komen kak🤗


Terima kasih😌💙🙏

__ADS_1


__ADS_2