Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 45


__ADS_3

Tia berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengambil ponsel terlebih dahulu. Dan kembali menghampiri ibunya yang sudah menunggu.


Kedua wanita itu berjalan menuju pintu keluar. Saat berada di teras, mereka menghentikan langkahnya saat melihat sebuah mobil sport yang sangat tidak familiar memasuki halaman rumahnya. 


Mobil itu berhenti pas di depan teras. Seorang pria turun dari dalamnya, memperlihatkan senyum yang merekah lalu menghampiri dua wanita yang berada di teras.


"Ibu," sapanya dengan langsung mencium punggung tangan Rita. 


Rita tersenyum lalu melirik gadis di sampingnya. Tia tidak bergeming, entah apa yang ia pikirkan sekarang.


"Kenapa tidak memberi kabar sebelum kemari?" Rita bertanya.


"Sengaja ingin memberi kalian kejutan." Menjawab dengan masih tersenyum. "Kalian mau kemana?" lanjutnya bertanya karena melihat wanita di hadapannya sangat rapi.


"Tia mengajak ibu berbelanja." Rita lagi yang menjawab. 


"Sayang," ucapnya pelan sambil memegang tangan Tia. Gadis itu tersentak dan langsung mengibaskan tangannya.


"Eh … maaf," ujar Tia tersenyum canggung.


"Ada apa?" tanya Andika bingung.


"Ceh, aku kira kau sudah melupakanku." Rungut Tia memasang wajah cemberut.


"Itu tidak mungkin sayang." Andika kembali menggenggam tangan kekasihnya. Tia malah merasa malu dengan ibunya yang juga berada di situ.


"Berhenti menggodaku, kami mau belanja, apa kau mau ikut." Tia mencoba mengalihkan pembicaraan dari pada merasa malu sendiri.


Andika hanya menjawab dengan anggukan kepala. Mereka pun segera berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depannya.


Meninggalkan kediaman keluarga Tia. Melajukan mobilnya di jantung kota, akhir pekan membuat jalan semakin ramai tapi tidak sampai membuat kemacetan.


Setelah beberapa menit dalam perjalanan. Mereka memasuki area parkir sebuah mall, mencari tempat yang kosong untuk memarkirkan mobilnya. 


Rita mengedarkan pandangan menyapu sekelilingnya, ini pertama kalinya ia memasuki mall besar dan terkenal ini.


Mereka berjalan beriringan memasuki mall. Mencari sesuatu yang menarik untuk mereka beli. Mata Tia berbinar saat melihat toko perhiasan yang tak jauh dari mereka, ia menarik tangan ibunya untuk melihat lebih dekat benda itu. Andika pun hanya mengekor di belakang dua wanita itu.

__ADS_1


"Apa ibu suka?" bertanya dengan girang. Rita tersenyum menatap kalung yang di pegang putrinya. Terlihat sangat indah, tapi ia tahu bahwa pasti harganya sangat mahal.


Tia memasangkan langsung kalung itu ke leher ibunya tanpa meminta izin pada pemilih tubuh. 


"Nak …." Rita memegang tangan putrinya, menghentikan gadis itu dari aktivitasnya. 


"Ini sangat indah." Memuji lagi dengan mata berbinar. 


Akhirnya ia membeli kalung berlian itu untuk ibunya. Meskipun Rita menolak, tapi Tia tetap kekeh. Keluar dari toko perhiasan, mereka kembali berjalan mencari lagi sesuatu yang menarik.


Mereka memasuki toko jam. Tia ingin membelikan jam untuk ayahnya, tapi kali ini malah Andika yang memilih. Ia membeli tiga jam, satu untuk ayah Tia, dan yang dua untuknya dan Tia. Awalnya Tia ingin membayar sendiri karena tidak enak pada kekasihnya. Tapi lelaki itu sungguh tidak ingin mengalah, dan akhirnya Andika lah yang membayar.


Keluar dari satu toko ke toko lain. Tangan Andika sudah penuh dengan tas belanjaan, Tia pun begitu, hanya Rita yang berjalan dengan tangan kosong saat ini.


Karena sudah waktunya makan siang, mereka pun memilih untuk pergi ke restoran mall yang sudah ramai pengunjung. 


Andika memanggil pelayan lalu mereka memesan makanan sesuai selera masing masing. Tak berapa lama, pelayan sudah datang membawa makanan dan meletakkannya di meja bundar.


Di hadapannya mereka sudah tersedia tiga mangkuk yang berisi makanan dan juga minuman sebagai pelengkap. 


"Ayo makan," ujar Tia dan langsung menyambar makanan di hadapannya.


"Enak," ucap Andika tersenyum menatap Tia.


"Tentu saja," jawabnya sambil mengelus perutnya beberapa kali.


"Kenapa tidak memberi kabar?" lanjutnya bertanya dan Andika langsung mengerti arti kalimat kekasihnya.


"Karena aku ingin memberi kejutan." Membalas dengan senyum menggoda.


"Lalu bagaimana keadaan papa?" tanyanya penasaran. "Papa kalian," lanjutnya saat melihat Rita meliriknya dengan tatapan bingung.


"Dia juga akan menjadi papamu." Andika terdengar begitu serius dengan ucapannya, membuat pipi Tia merona.


"Papa sudah jauh lebih baik sekarang, mama juga sudah menemaninya di sana," jelasnya.


"Benarkah?" tanya Tia. Andika hanya mengangguk sambil terus tersenyum. Sedang Rita, dia hanya terus mengamati pembicaraan sepasang kekasih di hadapannya.

__ADS_1


Setelah mengobrol dan sudah merasa nyaman dengan perutnya. Mereka memilih untuk keluar dari mall karena sudah puas berkeliling di dalam.


Mereka kembali menuju area parkir, meletakkan barang belanjaan di samping Rita yang duduk di kursi belakang. 


Andika melajukan mobilnya meninggalkan area parkir. Memutar musik dari mobil mewahnya adalah kebiasaan agar tidak mengantuk pikirnya.


"Apa ada lagi yang ingin ibu beli?" tanya Tia menoleh ke arah ibunya.


"Tidak nak." Rita tersenyum.


"Hm … sepertinya kita singgah di swalayan dulu," ucap Tia pada Andika dan lelaki itu mengangguk lalu segera memasuki area parkir swalayan yang sudah berada di depan mata.


"Apa kau mau turun?" bertanya lagi sebelum membuka pintu mobil. 


"Tentu saja." Andika menjawab antusias dan langsung membuka pintu mobil di sisinya. 


Mereka bertiga pun akhirnya memasuki swalayan. Berkeliling melihat bahan makanan dan mengingat apa yang kurang di dapur rumahnya. Andika dengan sukarela terus mendorong troli sementara Tia terus mengambil dan memasukkan belanjaannya ke dalam troli. Sementara Rita, ia hanya terus mengikuti langkah kaki kedua manusia di depannya.


"Ku rasa ini sudah cukup." Tia tersenyum puas menatap troli yang sudah penuh bahan dapur  dan beberapa cemilan juga. Mereka pun menuju meja kasir untuk segera membayar belanjaannya.


~


Hari semakin sore, matahari sudah tidak menampakkan dirinya. Sebuah mobil mewah kembali memasuki halaman rumah Tia. Mereka memakan waktu lebih lama di perjalanan karena terhalang macet.


Ketiga manusia itu turun dari mobil. Rita masuk lebih dulu membawa tas belanjaan dari mall. Sedangkan sepasang kekasih itu masih menurunkan belanjaannya yang mereka beli di swalayan dari dalam bagasi mobil.


Setelah menurunkan semua barang, Andika kembali mengambil untuk membawa masuk ke dalam rumah kekasihnya. Tia pun ikut membantu karena melihat tangan lelaki itu sudah tidak cukup untuk membawa semua.


"Aku mencintaimu." Andika masih sempat berucap dan berhasil membuat pipi Tia kembali merona.


"Ceh," ujar Tia yang tidak tau harus berkata apa.


"Ayo masuk, kau harus bersiap setelah ini," tutur Andika yang sudah berjalan lebih dulu.


"Bersiap? Hei, bersiap untuk apa?" Tia sedikit berteriak karena Andika yang sudah berada di teras rumahnya, ia pun mempercepat langkahnya untuk menyusul lelaki itu.


Jangan lupa vote, like, dan komen kak🤗

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian semua😌💙🙏


__ADS_2