
Mereka yang awalnya ingin balik ke rumah utama, kini mengurungkan niatnya, Andika memutuskan untuk balik ke apartemen karena hari yang sudah larut malam, orang orang di rumah utama pun pasti sudah tidur.
Andika terduduk di sisi tempat tidur, menatap wajah terlelap kekasihnya, gadis itu bahkan tidak menyadari tubuhnya yang sudah berpindah ke tempat tidur. Rambut yang sedikit tersibak menutupi wajahnya di selipkan oleh Andika ke belakang telinga gadis itu.
"Kau benar benar membuatku cemas," gumamnya pelan sambil menatap dalam wajah Tia.
Andika merasa begitu gerah, peluh di dahinya masih bercucuran bahkan di ruangan yang mesin pendinginnya sudah bekerja dengan baik. Mungkin karena tadi mengangkat tubuh Tia dari area parkir dan sedikit berlari saat berada di lobby karena banyak pengunjung dan pegawai resepsionis yang menatapnya.
Ia beranjak dari tempat tidur, membuka hoodie yang tadi ia kenakan, dan berjalan ke arah kamar mandi. Dan tidak lama kemudian, Andika kembali terlihat dengan wajah yang terlihat lebih segar, namun tatapan matanya tetap sendu karena mengantuk. Andika berjalan ke arah Tia, ingin mematikan lampu tidur yang berada tak jauh dari gadis itu.
Saat ingin kembali beranjak, tiba tiba tangan Tia memegang tangan Andika, membuat laki laki itu menghentikan langkah, "Mau kemana?" tanya Tia setengah sadar.
"Mau tidur sayang. Ini sudah larut," kata Andika sambil tersenyum.
Tia belum melepas genggaman tangannya, "Jangan tinggalkan aku." Tia kembali bersuara.
Bibi laki laki itu kembali melengkung sempurna saat mendengar kalimat sederhana namun begitu membahagiakan untuknya, ia kembali duduk disisi tempat tidur, mengelus lembut ujung kepala kekasihnya, "Tidurlah, aku akan tetap disini," ucapnya menenangkan. Dan perempuan itu benar benar langsung terpejam bersama hembusan nafas yang begitu beraturan.
Andika perlahan melepas tangan Tia yang menggenggam tangannya, kemudian ikut naik ke tempat tidur, "Kau yang menyuruhku," ujarnya dengan terus tersenyum menatap tubuh kekasihnya yang kembali terlelap dengan begitu nyaman.
Mata Tia mulai mengerjap saat pantulan sinar matahari menembus jendela kaca apartemen dan mengganggu tidurnya.
Tia masih terlihat begitu sulit untuk membuka matanya, tangannya mencoba meraba sesuatu yang terasa berat pada bagian perutnya. Seketika matanya terbuka lebar saat menyadari tangan seseorang sedang merengkuhnya, "Aaaahhh," teriaknya dengan bola mata yang membulat.
"Sayang, kenapa berteriak?" tanya laki laki dengan suara parau.
Tia menatap tubuhnya yang berada di balik selimut tebal, "huuuuh." Hembusan nafas lega terdengar, pakaiannya masih utuh, tandanya semalam tidak terjadi apa apa.
"Dika, kenapa kita di sini? Dan kenapa kau juga tidur di sini?" tanya Tia mengintrogasi, menatap tajam pada kekasihnya.
__ADS_1
Andika menghela nafasnya, menarik kembali selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya, "Apa kau lupa, semalam kau bahkan memaksaku untuk menemanimu di sini," katanya menjelaskan, membuat pipi Tia merona bersama pukulan yang langsung mendarat di lengan Andika.
"Itu tidak mungkin, kau memang sengaja ya tidur di sini," kilah Tia tidak terima dengan pernyataan itu.
Andika tidak menggubris kata kata Tia, tiba tiba tangannya menarik Tia, membuat gadis itu langsung menindih tubuh kekar miliknya, "Hei … " kalimat Tia terpotong saat Andika tiba tiba menggigit pelan bibir bawahnya, membuatnya kembali merona bersama jantung yang berdetak lebih kencang.
"Emm … hmm …." Tia mendorong tubuh Andika, membuat laki laki itu melepaskan bibirnya, "Dasar jorok," gerutu Tia saat bibir mereka sudah terpisah, Andika yang mendengar hanya menautkan kedua alisnya dengan wajah santai.
"Kenapa kau selalu saja malu seperti itu, membuatku semakin gemas saja," jawabnya dengan kembali menempelkan bibirnya pada bibir manis milik Tia. Benda kenyal itu kembali menyatu, kali ini Tia tidak memberi penolakan, sepertinya ia tahu bahwa penolakannya tidak akan berpengaruh.
Kedua insan itu memulai pagi yang hangat dengan ciuman panas, Tia yang awalnya menolak ternyata sekarang ikut membalas ciuman kekasihnya, ia bahkan memberi peluang untuk Andika mengabsen setiap isi mulutnya pagi ini, mereka kembali bertukar air liur untuk yang kesekian kalinya. Andika mulai nakal, ia mengubah aktivitasnya, mulutnya sekarang mulai menikmati leher jenjang milik Tia, membuat gadis itu mendesah pelan. Andika bahkan menghisap dan meninggalkan beberapa bekas di sana.
"Berhenti menggigitku," gerutu Tia sambil memukul pelan ujung kepala Andika, membuat laki laki itu tertawa kencang.
"Rasanya aku ingin menghabisimu sekarang," katanya yang tidak berhenti terkekeh.
"Dasar mesum," hardik Tia yang kini ikut tersenyum sambil mendorong kepala Andika yang masih melekat pada lehernya.
"Cepat bangun, kita harus segera pulang kerumah Gita," teriaknya yang sudah berada di balik pintu kamar mandi. Bibir Andika kembali melengkung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Karena hari yang masih terlalu pagi, Andika kembali memejamkan matanya yang masih mengantuk. Tak lama kemudian Tia kembali terlihat, berdiri di sisi pintu kamar mandi.
"Dika, ayo bangun! Aku harus ke butik hari ini," ujar Tia dengan melangkah cepat menghampiri Andika yang sudah kembali terlelap, "Sayang, aku mau ke butik," kata Tia lagi yang kini berdiri disisi tempat tidur, menatap kesal pada kekasihnya.
Tok … tok … tok
Ketukan keras dari balik pintu apartemen terdengar, Tia sedikit terperanjat dibuatnya, lalu berjalan untuk melihat siapa yang datang sepagi ini.
"Ah … ternyata kau kalian disini," celetuk gadis yang sudah berdiri di hadapan Tia.
"Gita, ada apa?" tanya Tia dengan tersenyum kaku, melirik sebentar ke arah Andika yang masih berada di atas tempat tidur.
Gita tidak menggubris pertanyaan Tia, ia melangkah ke dalam sambil terus menatap pada kakaknya yang terlelap dengan sangat nyaman, "Sepertinya kakakku kelelahan," katanya dengan tersenyum nakal.
__ADS_1
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Git," sahut Tia yang langsung menghampiri Gita, ingin meluruskan kesalahpahaman itu sepertinya. Namun Gita lagi lagi tidak menggubris, ia berjalan ke meja makan, meninggalkan Tia yang sudah berhasil ia goda, "Git, dengarkan aku, ini benar tidak seperti yang kau pikir." Tia langsung menyusul Gita, menjelaskan yang sebenarnya, padahal Gita memang hanya menggodanya tadi, ia juga yakin bahwa kakaknya tidak akan melakukan hal akan merusak keduanya.
"Mana aku tau, aku kan tidak di sini," tutur Gita dengan wajah datar yang ia tunjukkan.
Tia menghembuskan nafasnya kasar, menjelaskan pun tidak akan membuat gadis di hadapannya percaya, akhirnya memilih untuk mengalah saja, "Terserah kau saja," gerutu Tia yang membuat Gita mengulum bibirnya agar tidak tertawa.
"Sebaiknya kau panggil kakakku untuk sarapan dulu, biar dia kembali bertenaga," pintah Gita dengan begitu santai.
"Gita!" teriak Tia yang langsung menarik tubuh Gita, menggoyangkannya ke kiri dan kanan, membuat gadis itu terus berteriak dan tertawa, "Kami tidak melakukannya," ucap Tia yang masih terus mengguncang tubuh Gita.
"Tapi aku kan tidak melihat, dan kalian disini hanya berdua, ya siapa tau … " Gita tidak meneruskan kalimatnya, membuat Tia frustasi sendiri dengan wajah yang sudah merah padam karena malu.
"Hei, anak kecil, kotor sekali pikiranmu," timpal laki laki dengan suara serak, menghampiri kedua gadis itu, menarik tangan Tia dan memeluknya singkat.
"Sayang," lirih Tia berucap, ujung matanya kembali melirik Gita yang terlihat puas karena telah menggodanya.
"Cih, masih pagi sudah peluk peluk, dasar mesum," celetuk Gita, ia memilih untuk menyajikan makanan yang ia bawa dari rumahnya daripada harus melihat kemesraan sepasang kekasih itu yang hanya membuat matanya sakit.
"Sayang, temani aku ke kantor ya," pinta Andika sambil memeluk pinggang kekasihnya.
"Loh, kenapa? Aku kan harus ke butik,"
"Ke butiknya besok saja, hari ini kita ke kantor dulu." Satu kecupan mendarat di pipi Tia, membuatnya refleks memukul kepala laki laki itu, "Sakit sayang," keluh Andika memegangi kepalanya.
"Ayo sarapan, kalian pasti kehabisan tenaga tadi malam," ujar Gita dengan begitu santai, membuat Tia berdelik kesal padanya.
"Pikiranmu sangat kotor," imbuh Andika, ia mengacak rambut adiknya, membuat gadis itu terkekeh dan mendorong tubuh kakaknya untuk duduk. Tia yang sudah merona malu, hanya mengamati tingkah adik beradik itu.
Jangan lupa like dan komen, karena itu gratis🤗
Terima kasih, salam hangat sesama manusia😌💙🙏
__ADS_1