Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 39


__ADS_3

Setelah Andika keluar dari kamar mandi, Tia pun beranjak dan sekarang berganti ia yang masuk untuk membersihkan tubuhnya.


Dan beberapa saat ia keluar menggunakan kemeja tidur dengan celana panjang yang Bimo bawa untuknya.


Tia mencari keberadaan kekasihnya, ia berjalan dan tatapannya terhenti saat melihat Andika sedang menyibukan diri di dapur apartemen. Ia mendekati Andika dengan langkah pelan berharap agar lelaki bisa mengagetkan lelaki itu.


"Sayang …." Andika berbicara mendahuluinya. "Duduklah, aku akan membuat makan malam kita," lanjutnya tapi Tia tidak menurut, gadis itu mendekat untuk melihat masakan apa yang ingin di buat kekasihnya.


"Apa kau suka pedis?" tanya Andika pada Tia dibalas anggukan kecil oleh kekasihnya.


"Selesai," ucapnya sambil menunjukkan dua mangkuk sup yang sudah ia siapkan. "Ayo sayang," ajaknya saat sudah duduk di meja makan.


Tia tersenyum dan ikut duduk di hadapan kekasihnya. Ia menatap sup yang sudah Andika buat, meniup pelan lalu memasukkan kedalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Andika penasaran saat sendok pertama sudah mendarat di mulut Tia.


"Enak …." Tia menjawab tanpa menatapnya, ia kembali menikmati sup yang masih terlihat sangat panas.


Drrtttt … drrtttt


 


Dering ponsel membuat kedua manusia itu menatap ke arah suara.


"Biar ku lihat." Tia beranjak untuk segera melihat siapa yang telah menelpon nya. "Ayah," gumamnya saat melihat nama pemanggil di layar depan ponselnya. 


Ia belum juga menjawab, ia berjalan cepat untuk kembali menghampiri Andika yang masih di meja makan.


"Ayah menelpon, cepat bicara," imbuh Tia dan langsung meletakkan benda pipihnya di samping telinga Andika.


"Halo Ayah …." Andika berbicara sambil menatap Tia yang duduk di sampingnya.


"Apa Tia bersamamu?"


"Iya Ayah … aku baru saja ingin menelponmu, tapi kau sudah menelpon lebih dulu," jelasnya berkilah dan terdengar tawa kecil di ujung kalimatnya.


"Dasar licik, jika aku tidak menelpon, kalian pasti tidak memberitahu." terdengar suara Gunawan yang sedang mengoceh di seberang, Andika hanya cengengesan menanggapi. Berbeda dengan Tia, gadis itu terlihat bersalah karena lupa memberitahu orang tuanya.

__ADS_1


"Ya sudah, kurasa kau masih ingat jam berapa akan mengantar Tia pulang." Gunawan kembali bersuara. 


"Baik Ayah," jawab Andika mengerti. Setelah itu sambungan telepon langsung dimatikan.


"Sayang …." Andika menyadarkan Tia dari lamunannya, gadis itu terperanjat dan menaikkan kedua alisnya, meminta jawaban kenapa Andika mengagetkannya.


Andika tersenyum, lalu ia menyendok sup dari mangkuknya dan mengarahkan ke mulut Tia.


Kenapa kau terlihat begitu takut, aku hanya membawamu makan malam bukan untuk kawin lari. Andika berucap dalam hati dengan tersenyum menatap Tia.


"Tapi aku takut jika Ayah marah." Tia menjawab seakan mengetahui isi hati kekasihnya. 


"Sayang … Ayah tidak akan marah, jika dia marah, aku akan menikahimu malam ini juga.!" Andika menatap Tia begitu lekat dengan suara yang terdengar sangat serius.


Garis bibir di wajah gadis itu kembali terlihat setelah mendengar ucapan kekasihnya. Setelah merasa lebih lega, ia kembali memakan sup nya yang sudah terasa sedikit dingin.


Setelah mereka selesai, Tia mengangkat piring kotor dan membawanya ke dalam wastafel. 


Andika menatap lekat ke arah Tia yang terlihat sedang membilas piring bekas makannya.


"Rasanya aku ingin menikah secepatnya," gumamnya begitu pelan dengan terus menatap punggung Tia.


Drrttt … drrtttt


Dering ponsel kembali terdengar, tapi kali ini bunyinya terdengar berbeda dan itu pasti bukan dari ponsel Tia.


Andika langsung memutar langkahnya menuju kamar untuk melihat ponselnya.


"Ya Bimo," sahutnya langsung


"Maaf kan saya telah mengganggu Anda Tuan, tapi ini sangat penting," ujar suara dari seberang


"Ada apa?" tanya Andika bingung


"Tuan Iskandar … ia terjatuh dari gedung yang sedang di bangun Tuan," ucap Bimo terdengar lirih.


Andika mencerna dengan baik ucapan asistennya, seluruh tubuhnya terasa gemetar, ia terduduk karena lututnya tak bisa lagi menopang dirinya sendiri. Ia kembali mengarahkan ponselnya ke telinga untuk kembali bertanya.

__ADS_1


"Lalu … ba … bagaimana keadaan Papa?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Sedang krisis Tuan." Bimo menghela nafasnya berat, ia pun ikut bersedih dengan musibah yang telah menimpa majikannya.


"Sediakan helikopter, kita berangkat malam ini juga," ucap Andika dan mencoba berpikir positif, ia kemudian mematikan sambungan telepon, dan menghampiri Tia yang sedang menonton tv.


"Sayang …." Andika memanggil dengan suara lirih.


"Hei, ada apa?" tanya Tia menghampirinya saat melihat raut wajah lelaki itu yang terlihat sedang tidak baik baik saja.


"Papa … Papa, ia terjatuh dari bangunan yang sedang di kerja," jelasnya dengan bibir bergetar, Tia langsung berhambur dan memeluknya. Ia pun ikut syok mendengar kabar itu.


"Dimana Papa sekarang?" tanya Tia yang masih memeluk erat kekasihnya.


"Amerika …." Andika terdengar sangat berat untuk bersuara. Sedangkan Tia, ia melebarkan matanya saat mengetahui keberadaan calon mertuanya itu. (Gimana rasanya punya calon mertua ya? Wkwkwk, ok lanjut:v)


"Lalu? Apa kau akan kesana?" tanya Tia yang sudah melepas pelukannya dan menatap mata Andika dalam. Lelaki itu mengangguk pelan dan kembali memeluk tubuh mungil Tia.


"Kapan?" tanya Tia lagi, suaranya terdengar berat untuk mengucapkan itu. Rasanya ia ingin melarang Andika untuk pergi, tapi ia kembali sadar bahwa ini adalah keadaan darurat.


"Malam ini … tapi, aku janji tidak akan lama," ucapnya Andika sambil mengeratkan pelukannya, dan beberapa kali mencium puncak kepala Tia. Gadis itu mengangguk hanya mengangguk pelan.


"Permisi Tu …." belum sempat Bimo menyelesaikan kalimatnya, ia kembali menutup pintu apartemen saat mendapati kedua manusia yang saling memeluk erat. 


"Bimo, masuklah.!" Andika sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh Bimo.


Setelah berbincang sebentar pada Bimo, mereka bertiga segera keluar dari apartemen itu dan melangkah menuju lobby untuk segera bergegas pergi.


"Apa Mama dan Gita sudah tahu soal ini?" tanyanya pada Bimo dan lelaki itu menggelengkan kepalanya.


"Saya belum memberitahu mereka Tuan," jawab Bimi di sela sela langkah mereka.


"Bagus, jangan biarkan berita ini tersebar, aku akan melihat langsung keadaan Papa," ucapnya dan Bimo mengangguk. Tia hanya mendengar ucapan kedua pria itu. Ia hanya mengikuti langkah Andika yang terus merangkul pundaknya.


Mereka memaduki lift untuk segera turun. Setelah pintu lift kembali terbuka, Andika kembali mempercepat langkahnya untuk menuju area parkir.


Bimo membukakan pintu untuk majikannya, Tia dan Andika pun segera masuk, lalu Bimo ikut masuk dan duduk di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobio dan segera melaju membelah jalanan kota, yang cukup padat di malam hari.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan coment kak🤗


Terima kasih, salam hangat untuk kalian semua😌💙🙏


__ADS_2