SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Tawaran Bisnis


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi telah datang. Rara pun bersiap-siap masuk pagi karena toko akan dibuka pada pukul tujuh. Ia pun harus bergegas ke toko sebelum toko dibuka. Ia terlihat tengah bersiap untuk berangkat bekerja.


Mengenakan seragam berwarna merah dan celana pensil hitam yang membalut tubuhnya. Tak lupa juga sepasang sepatu kets hitam menambah kerapian penampilannya. Rara sudah siap pergi bekerja. Namun, sebelum berangkat adik laki-lakinya datang mengeluhkan iuran sekolah yang belum sempat terbayarkan.


"Ini surat peringatan dari sekolah, Kak." Adik laki-lakinya itu memberikan selembar surat peringatan dari sekolahnya. "Paling lambat besok. Kalau tidak, aku tidak dapat mengikuti ulangan semester," tambah sang adik.


Mendengar hal itu, lemaslah badannya karena tidak mempunyai uang lebih. Rara harus memutar otaknya agar semua kebutuhan keluarga dapat terpenuhi. Tapi melihat jumlah iuran yang harus dibayarkan, membuat Rara harus segera mencari jalan pintas untuk menyelesaikan semua masalah yang ada.


"Kakak tidak punya uang, Dek. Bisakah pinjam dengan kakak yang lain? tanya Rara seraya memasang wajah sendu tak berdaya.

__ADS_1


"Sudah, Kak. Tapi mereka juga tidak ada," jawab adiknya yang tampak sedih.


Rara pun berpikir. "Nanti Kakak usahakan. Sabar ya. Sekarang Kakak mau kerja dulu."


Tak ingin berlama karena waktu kerjanya akan segera tiba, Rara pun segera berangkat ke tokonya. Ia menaiki ojek agar lebih cepat sampai dengan membayar ongkos sejumlah tujuh ribu rupiah. Dan tak lama, ia pun tiba di tempatnya bekerja, sambil terus memikirkan bagaimana cara agar mendapatkan uang tambahan.


Sore harinya...


"Lain kali saja, Aidil. Aku tidak punya uang."


Temannya bernama Aidil. Seorang downline bisnis MLM yang sedang mencari anggota baru. Temannya berkisah tentang bisnis yang dijalaninya dan merayu Rara untuk segera bergabung di dalam bisnisnya itu.

__ADS_1


"Maaf, lain kali saja." Rara berusaha menolak tawaran temannya itu.


"Ayolah, Ra! Nanti kamu dapat uang yang banyak," bujuk Aidil.


"Iya, tapi aku tidak punya uang saat ini. Iuran adikku pun belum terbayar dua bulan. Apalagi untuk menjadi member bisnismu."


Rara menolak. Tapi sekeras apapun usaha Rara menolak, Aidil terus memaksa yang membuat Rara menjadi tidak enak hati dan merasa kasihan kepada temannya. Sehingga mau tidak mau, ia memikirkan ulang akan tawaran bisnis itu.


"Nanti kupikirkan lagi," jawabnya lalu segera pergi meninggalkan temannya.


Rara memang mudah iba. Sehingga ia merasa tidak enak hati untuk menolak jika ada yang memohon kepadanya. Namun kali ini, ia memang benar-benar tidak mempunyai uang untuk bergabung dengan bisnis temannya itu. Sehingga ia segera pergi meninggalkan temannya. Teman yang memaksanya untuk bergabung di dalam bisnis MLM yang menggiurkan.

__ADS_1


Setelah kepergiannya, tersirat senyum kemenangan pada Aidil yang merasa mempunyai peluang untuk menambah downline bisnis MLM-nya. Sebuah bisnis yang Rara sendiri tidak tahu bagaimana cara bermainnya. Namun, penjelasan yang Aidil berikan seolah meyakinkan Rara akan mendapatkan pundi-pundi uang dengan cepat. Lantas apakah Rara akan bergabung nantinya?


__ADS_2