
Di mana dia???
Rara mencari. Matanya melihat ke arah kanan dan kiri. Namun, tidak ada tanda-tanda akan kehadiran seseorang yang telah mengirimkannya bunga. Rara pun kembali ke pria pengantar bunga tersebut.
"Mas, ini orangnya mana?" tanya Rara yang terengah-engah sehabis berlari.
"Oh, maaf, Mbak. Orangnya sudah pergi. Dia hanya menitipkan ini kepada saya. Karena Mbak sudah menerimanya, saya permisi ya." Pengantar bunga itupun berpamitan.
Rara termenung memandangi bunga yang diterimanya. Siti pun berusaha menegur dan bertanya setelah selesai mengasiri barang belanjaan pembeli. Tapi Rara terlihat menghindar. Ia masuk ke dalam toko lalu duduk di pintu belakang. Ia menitikkan air matanya.
Dearest...
Lama tak berjumpa membuatmu terlihat semakin cantik. Aku rindu.
__ADS_1
Taka
Begitulah isi selembar surat yang ada pada buket bunga tersebut. Membuat Rara terenyuh dan ingin segera bertemu. Ternyata Taka mengetahui toko baru, tempat Rara bekerja sekarang. Rara pun menunggu Taka kembali datang. Mengisi harinya dengan sejuta perasaan. Rara kepincut dengan Taka.
Kata-kata itu membuat Rara bersedih. Satu bulan lebih ia memendam kerinduan kepada Taka. Harus Rara akui jika ia merasa kehilangan saat tidak bertemu dengan Taka. Kebiasaan-kebiasaan itu pun hilang begitu saja. Namun, akhirnya rindu itu bisa sedikit terobati. Taka kembali hadir dan mengirimkannya bunga.
Pukul setengah sebelas malam waktu kota dan sekitarnya...
Mungkin dia sengaja membuang durinya agar tidak melukaiku.
Kebahagiaan itu ia rasakan kala mengingat seorang pria yang membuatnya rindu. Taka Nomura, perlahan tapi pasti membuat Rara jatuh hati. Di tengah kekosongan hati pria itu datang mengucap rindu. Maka hati siapa yang tidak akan luluh?
"Turun di sini saja, Pak."
__ADS_1
Tak lama kemudian Rara pun tiba di depan rumahnya. Ia segera membayar ojek seraya mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkannya. Rara lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya tanpa lupa mengucapkan salam terlebih dulu. Ia pun meletakkan seikat bunga mawar itu di dalam kamarnya. Sedangkan dirinya membersihkan diri terlebih dulu.
Sabtu, pukul tiga sore waktu sekitarnya...
Sore hari ini terlihat sudah ramai dengan kendaraan yang lalu-lalang di sekitaran toko baru Rara. Rara pun masih bergelut dengan pekerjaannya. Ia tampak sibuk menghitung jumlah rokok yang berada di area kasir.
Sebelum menyetorkan uang penjualannya, Rara wajib mengecek jumlah rokoknya. Apakah sesuai dengan stok gudang atau tidak. Jika tidak, maka Rara harus membayarnya. Tentunya ia harus merogoh koceknya sendiri. Karena hal itu sudah menjadi konsekuensi pekerjaannya.
Sementara itu tanpa sepengetahuan Rara, Taka datang dengan mengenakan jaket hitam. Pria itu membeli permen pedas dan sebatang cokelat. Taka pun segera membayarnya di kasir. Yang mana Siti lah yang mengasirinya. Rara sendiri tidak menyadari jika Taka datang. Ia fokus mengecek stok rokoknya.
Ra, kau serius sekali.
Taka pun tersenyum, namun ia tidak berani menegur Rara. Ia biarkan Rara sibuk dengan pekerjaannya. Sedang Siti yang tidak tahu siapa Taka bersikap layaknya penjaga toko ke pembelinya. Ia bersikap biasa-biasa saja.
__ADS_1