
Malam harinya...
Malam ini langit tampak cerah sehabis hujan membasahi bumi. Bintang-bintang bertaburan memenuhi langit yang gulita. Namun, tak terlihat bulan muncul menemani sang bintang di sana. Mungkin terlambat atau masih di dalam perjalanan.
Menyenandungkan sebuah lagu sebagai pengobat jiwa yang sendu. Memetik gitar sambil menatap langit yang jauh. Memandangnya dengan megah, sebagai hiasan untuk bumi yang menunggu. Berharap ketenangan itu akan segera terpenuhi waktu.
Semilir angin yang berembus membelai rambutnya yang terkuncir satu. Untaian demi untaian syair ia lantunkan dengan merdu. Ialah Rara Alya yang sedang menyenandungkan lagu. Lagu cinta yang entah untuk siapa.
Andai saja aku mempunyai jalan untuk mengubah keadaan ini.
Sebuah harapan muncul dan menjadi motivasi kala duka selalu menerpa kehidupannya. Ia berharap keajaiban datang dan memberinya jalan untuk menggapai kebahagiaan. Rara ingin sekali membahagiakan keluarganya walaupun sangat mustahil untuk diwujudkan. Keterpurukan ekonomi membuatnya tidak bisa berharap lebih. Apalagi seluruh kebutuhan keluarga ditimpakan padanya.
"Hah ... aku tidak punya orang dalam yang bisa membantuku untuk naik jabatan. Kalaupun naik, gaji hanya berbeda dua ratus ribu saja dari kasir. Aku harus mencari kerja tambahan jika ingin mendapat uang lebih."
__ADS_1
Rara menyadari jika perjuangannya masih panjang. Tapi ia juga tidak bisa terus-menerus dilanda kekurangan. Ia harus mencari kerja tambahan yang mana tidak terikat dengan perusahaan. Karena pekerjaannya yang sekarang sudah mengikatnya sebagai kasir. Ijazah ditahan oleh perusahaan.
Malam ini keadaan kampung Rara begitu sepi. Rara pun segera masuk ke dalam rumahnya. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya. Ibunya sendiri sedang menjenguk adik perempuannya bersama Danu. Sedang kakak laki-lakinya sedang asik menonton televisi. Sehingga ia sendirian di luar. Ia pun masuk ke dalam kamar lalu merebahkan dirinya di atas kasur. Menatap langit-langit kamar yang telah usang dimakan waktu.
Sedang apa ya dia di sana?
Tiba-tiba saja terbesit pikiran akan pertemuannya dengan seorang pria yang telah berbaik hati menraktirnya makan siang waktu itu.
Rara bertanya sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya.
Ah, mustahil! Dia terlalu tampan untukku. Mana mungkin dia juga suka denganku. Rara, kau terlalu banyak berkhayal.
Rara bertanya sendiri, menjawab sendiri. Ia merasa sesuatu telah menyelimuti hatinya saat ini. Padahal ia baru saja bertemu dengan seseorang itu. Rara pun mencoba menepiskan perasaannya. Ia tidak ingin terlarut dalam angan yang tak pasti. Rara segera mengistirahatkan tubuhnya.
__ADS_1
Esok sorenya...
Hari ini Rara masuk pagi dan sudah pulang dari tokonya. Niatnya ingin segera beristirahat untuk melepas rasa kantuk yang menerjang. Maklum, hari ini ia habiskan waktu untuk mendisplay barang yang datang ke tokonya. Ia pun harus berkeliling lorong sambil mengasiri barang belanjaan pembeli. Tak ayal Rara pun seperti kehabisan tenaga.
Bagi Rara yang menyenangkan adalah masuk kerja di waktu pagi karena tubuh lebih segar dibandingkan masuk siang. Pagi hari ia bisa berangkat ke toko sambil menghirup udara segar. Tidak seperti siang hari yang sudah terkontaminasi kendaraan. Namun, walaupun begitu Rara tetap mensyukuri pekerjaannya. Masuk pagi atau siang itu sama saja. Asal ia bisa mendapatkan gaji di setiap akhir bulannya.
"Minggir, Pak!"
Rara pun turun dari angkot di tempat biasa. Ia membayar ongkos seraya mengucapkan terima kasih kepada supir angkotnya. Ia pun menunggu angkot itu pergi baru kemudian menyeberangi jalan. Namun, sore ini tampak ramai di sekitar trotoar. Banyak pemuda dan pemudi yang singgah untuk makan cemilan. Atau mungkin sekedar berkumpul sambil menunggu petang. Rara pun masih fokus untuk menyeberang. Namun, jalanan sudah mulai ramai.
"Kau sudah pulang?"
Tiba-tiba saja terdengar suara dari arah belakang. Suara itu seperti suara sosok yang ia kenal. Rara pun menoleh ke belakang, melihat siapa gerangan yang menyapanya. Dan ternyata...
__ADS_1