
Malam harinya...
Malam ini Rara memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Ia butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiran sejenak. Salsa pun datang bersama Noah setelah shift pagi selesai dilakukan. Ia menemani Rara di toko karena esok mendapatkan libur. Salsa tahu jika Rara sedang ditimpa masalah. Ia kemudian mencoba bicara pada temannya.
"Ra, kau sakit?" tanya Salsa di dekat Rara yang sedang merapikan barang-barang toko.
Rara menggelengkan kepala.
"Besok aku libur. Noah juga akan pergi ke luar kota. Kau mau menginap di kosanku?" Salsa menawarkan.
Rara menoleh. "Aku hanya akan merepotkanmu, Sa." Rara tidak enak hati.
Salsa menggelengkan kepalanya. "Tadi aku ke atas dan melihatmu membawa beberapa pakaian ganti. Tidak mungkin kau mau tidur di toko, bukan? Lebih baik ke kosanku saja." Salsa kembali menawarkan.
Saat itu juga Rara ingin menangis. Ia terharu karena ternyata masih ada orang yang perhatian dengannya.
__ADS_1
"Kosanmu jauh?" tanya Rara yang tidak tahu di mana kosan Salsa.
"Tidak, kok. Dekat dari toko. Aku juga baru sebulan ini ngekos. Rumahku dijual dan ya ... kau tahu sendiri." Salsa juga mempunyai masalah tersendiri.
"Baiklah." Rara akhirnya mengiyakan.
Salsa tersenyum. "Sudah jangan bersedih lagi. Aku temani Noah dulu ya. Dia mau pergi." Salsa berpamitan kepada Rara.
Rara mengangguk. Ia pun membiarkan Salsa keluar dari toko untuk menemani Noah yang sedang mengobrol dengan tetangga ruko. Rara sendiri melanjutkan pekerjaannya sambil mengasiri barang pembeli.
Salsa mendapat libur esok hari. Seperti sebuah kebetulan yang direncanakan Tuhan. Ia datang ke toko malam-malam bersama tunangannya yang akan pergi ke luar kota. Karena toko sendiri, Salsa pun bisa keluar masuk sesukanya. Namun, saat ia naik ke lantai dua, Salsa melihat ada beberapa pakaian ganti milik Rara. Salsa pun segera menanyakannya.
Jam pulang toko...
Langit tampak begitu gelap. Udara sekitar pun terasa amat dingin kala kedua kasir mini market itu berjalan bersama menyeberangi jalan raya. Keduanya menuju kosan Salsa yang ada di seberang toko. Jaraknya cukup jauh untuk berjalan kaki. Tapi keduanya menikmati momen ini.
__ADS_1
"Kita mau beli apa, Ra? Aku belum punya alat masak di kosan. Jadi beli makanan jadi," terang Salsa kepada Rara.
"Apa saja." Rara tampak masih bersedih. Ia ikut saja dengan Salsa.
Salsa berpikir. "Kita beli nasi goreng saja ya. Mau? Murah, kok." Salsa menawarkan.
Rara mengangguk. Keduanya pun kemudian membeli nasi goreng di depan gang kosan Salsa.
Rara diam. Ia tidak banyak bicara hari ini. Saat datang ke toko pun Rara berada di lantai dua sendirian. Membuat Salsa mengkhawatirkannya. Rara tidak ceria seperti biasanya.
Ra, sebenarnya ada apa? Mengapa kau terlihat sedih sekali? Apakah sesuatu terjadi padamu?
Salsa pun mengkhawatirkan Rara.
Rara sendiri diam saja sambil membawa pakaian gantinya. Ia melihat kendaraan yang lalu-lalang di malam hari. Ia bak membenci malam karena telah memberinya kabar buruk. Rara tidak ingin mengingat-ingatnya lagi.
__ADS_1
Bu, maafkan Rara yang tidak pulang malam ini. Rara ingin menenangkan pikiran lebih dulu.
Rara terluka. Ia terluka karena harapannya musnah seketika. Rara ingin berteriak jika tidak takut dibilang orang gila. Adik laki-lakinya, adik perempuannya telah mengecewakannya. Ia bak sendirian di dalam keluarga. Rara tidak tahu harus bagaimana. Malam ini pun menjadi saksi betapa kecewa hatinya.