SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Ingin Bertemu


__ADS_3

Sementara itu...


Di sebuah apartemen mewah terlihat seorang pria bersweter abu-abu tengah berdiri menatap perkotaan dari balik jendela kamarnya. Ia teringat akan seorang gadis yang sudah beberapa hari ini tidak dijumpainya. Rasa rindu itu pun mulai menghantuinya. Ia ingin segera bertemu dan bersua.


Pria itu adalah Taka. Yang entah mengapa ingin sekali bertemu dengan Rara. Namun, kesibukan pekerjaannya membuat Taka harus menunda keinginannya. Ia harus pulang larut malam untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan kini rasa rindu itu datang seperti membelenggunya.


Bak ikatan batin yang terkait benang takdir. Perlahan namun pasti Taka merasa merindukan Rara. Bagaimana gadis itu telah berhasil membuatnya tertawa dan kesal yang bersamaan. Taka kepikiran dengan Rara.


Rasa nyaman yang timbul saat bersama membuat Taka memikirkannya. Ia pun tidak mengerti mengapa semua bisa terjadi. Namun, Taka mencoba mengikuti alur kehidupannya. Akan ke mana langkah dan bersama siapa nantinya. Ia menikmatinya.


Rara, entah mengapa aku merindukanmu.

__ADS_1


Taka menuliskan nama Rara di jendela kamarnya. Berharap esok hari dapat bertemu dan menyalurkan rasa rindunya. Rindu kecil yang mulai mengisi hatinya. Tak lain dan tak bukan karena Rara seorang. Sang gadis pejuang yang menarik perhatian Taka.


Esok harinya...


Pihak keluarga sudah menelepon Rara berkali-kali agar ia pulang ke rumah. Namun, sepertinya Rara masih ingin menenangkan dirinya.


"Pulanglah, Ra. Ibu khawatir," ucap suara dari seberang telepon tokonya.


"Mungkin nanti, Bu. Rara masih mau menenangkan diri dulu," jawab Rara singkat.


Sontak Rara terdiam mendengar ucapan ibunya. Ia pikir ibunya akan merindukannya karena tidak pulang ke rumah. Namun ternyata, perhatian yang diberikan ibunya hanya untuk mengingatkan jika persediaan beras di rumah sudah habis.

__ADS_1


Tanpa menjawab Rara pun segera mematikan teleponnya. Ia merasa kecewa karena ibunya hanya menginginkan uangnya saja. Selepas bekerja pun ia kembali ke kosan Salsa untuk menumpang menginap semalam. Ia ingin bersama Salsa untuk menghibur hatinya.


Rara terlalu peka perasaannya. Sedikit perkataan saja dapat membuat hatinya terluka. Yang ia harapkan ibunya akan merindukannya. Namun ternyata, kenyataan lagi-lagi tidak sesuai dengan harapannya. Rara sungguh kecewa. Ia merasa hanya uangnya sajalah yang dibutuhkan, tidak dirinya.


Sementara itu, di sebuah trotoar jalan terlihat Taka yang sedang menunggu seseorang. Pria berkebangsaan Jepang itu terbalut kaus putih dan celana dasar hitam panjang. Ia juga mengenakan sandal gunung berwarna kecokelatan. Ia tampak menyandarkan diri pada pagar pembatas lapangan. Seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Ya, siapa lagi kalau bukan Rara Alya.


Ia menatap awan berarak yang menghiasi langit sore ini. Mengembuskan napas sambil melihat setiap angkot yang berhenti di depannya. Berharap yang turun adalah Rara.


Rara, di mana dirimu?


Hatinya mulai bertanya saat hampir seminggu tidak bertemu. Hari ini pun ia tidak melihat gadis itu turun di tempat biasanya. Rasa khawatir pun mulai menghantuinya.

__ADS_1


Apa aku ke tokonya saja?


Taka sudah setengah jam menunggu di sana. Tapi tanda-tanda Rara akan datang belum juga ada. Semilir angin sore tampak menyapu helaian rambutnya. Seakan memberi tanda jika yang ditunggu hari ini tidak akan datang. Rasa rindu itu pun tak lagi bisa ia tepiskan. Bayang-bayang Rara mulai merasuk ke alam pikirannya. Mengganggu dan menginginkan untuk segera bertemu.


__ADS_2